JABARTODAY.COM – BANDUNG — Terbukti, bahwa Jabar, khususnya, Kota Bandung, memiliki beragam produk dan komoditi yang punya daya saing tinggi. Selain itu, juga diminati berbagai konsumen, tidak hanya publik dalam negeri, tetapi juga mancanegara. Satu negara yang menjadi pasar potensial bagi produk Kota Bandung yaitu Turki.
“Kami tertarik pada produk-produk Kota Bandung. Kami kira, produk-produk Kota Bandung punya potensi besar untuk masuk pasar Turki,” tandas Sekretaris Jenderal Turkish Indonesia Trade Association (TITA), Ismali Cakmak, Senin (16/3).
Ismail menuturkan, ketertarikan pihaknya pada produk Kota Bandung sepertinya bukan omong kosong. Buktinya, tegas Ismail, pihaknya melakukan berbagai upaya agar produk-produk Kota Bandung dapat memasuki dan menyemarakkan pasar negara Eropa tersebut. Untuk itu, sahut Ismail, pihaknya menjembatani pebisnis negaranya, terutama yang memerlukan beragam produk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk Kota Bandung. Diungkapkan, Jabar, termasuk Kota Bandung, memiliki produk-produk yang dibutuhkan pasar Turki, Timur Tengah, dan anggota-anggota TITA.
Hasan Basori, perwakilan TITA Wilayah Riau menambahkan, sebenarnya, kebutuhan produk ekspor, tidak terbatas pada minyak kelapa sawit (CPO), kertas, produk olahan makanan, dan lainnya. Bahkan, ucap dia, beberapa negara Timur Tengah memerlukan komoditi yang sepertinya di luar dugaan, yaitu gagang sapu. Dia mengungkapkan, selama ini, volume ekspor gagang sapu tergolong besar. Setiap pengiriman, bebernya, volumenya dapat mencapai 2 kontainer.
Komoditi lain yang juga dibutuhkan beberapa negara yaitu briket sodas. Peruntukannya bagi produksi kebab. Selain itu, juga komoditi-komoditi berbahan baku ampas gergaji kayu, parutan kelapa, dan zat kimia low material. Peruntukannya, jelas dia, sebagai bahan pembuat sabun. Tingginya kebutuhan itu, seru Hasan, mendorong TITA merangkul para pelaku UMKM, yang selama ini, memang rutin mengirim produk-produknya ke Turki dan beberapa negara Timur Tengah.
Kepala Pusat Kebijakan dan Perdagangan Luar Negeri, Kementrian Perdagangan, Kasan Muhri, Turki memang pernah menjadi pasar ekspor tradisional Indonesia. Akan tetapi, saat ini, tambahnya, melalui screening analisis performa pasar, selain Vietnam, Pakistan, dan Kamboja, Tukri termasuk negara potensial.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar menunjukkan, pada Januari 2015, Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor non-migas Tatar Pasundan. Total nilai ekspor Jabar pada periode itu senilai 21,1 miliar Dollar AS. Untuk ekspor ke AS, pada Januari 2015, nilainya 366,5 juta Dollar AS. Sedangkan khusus Turki, ekspor Jabar sebesar 3,96 persen. (ADR)