Petasan Oh Petasan….

  • Whatsapp

[Pernik Ramadhan-4]

”]

DIAN ONASIS
Penulis Non Fiksi dan Cerita Anak

Di bulan Ramadan ini, selain masjid yang diramaikan oleh banyaknya jamaah untuk sholat terawih, lingkungan sekitr, biasanya juga diramaikan oleh suara petasan. Entah mengapa, sepertinya Ramadan sering identik dengan bunyi petasan.
Petasan, sebenarnya terbuat dari bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu dan digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa. Meski daya ledaknya rendah, namun bubuk yang digunakan sebagai isi petasan merupakan bahan peledak kimia yang dapat meledak pada kondisi tertentu. (sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Petasan )

Sejarah petasan berasal dari temuan seorang juru masak di negeri Cina. Petasan masuk ke kawasan Indonesia, dibawa oleh pedagang Tionghoa dari Cina. Oleh karenanya, tak heran, jika budaya pernikahan ala Betawi menggunakan petasan, karena budaya Betawi mendapat pengaruh dari budaya Tionghoa.

Perlu diwaspadai, bila tidak diawasi dengan baik, petasan yang dianggap menyenangkan bagi anak-anak, akan menjadi bumerang dan menjadi benda yang merugikan bahkan menyakitkan untuk anak-anak itu sendiri.

Ledakan petasan, apalagi jika yang berukuran agak besar, akan mampu menciptakan daya yang cukup kuat, hingga dapat menghancurkan jari-jemari anak. Tak jarang, ledakannya yang keras, bisa memecahkan gendang telinga, hingga mengakibatkan pendengaran berkurang atau bahkan tuli.

Jika anak-anak sudah terlanjur membeli petasan, maka sebagai orang tua, harus mendampingi cara mereka bermain petasan. Pilihlah lokasi yang tidak mengganggu tetangga (terutama yang punya bayi atau balita), serta tak dekat dengan lokasi benda yang mudah terpicu meledak (seperti pompa bensin atau tempat jualan bahan bakar lainnya). Pastikan mereka memantik api petasan secara tepat, serta membeli petasan yang berkualitas bagus, sehingga tak meledak di luar kendali.

Namun, langkah yang paling mudah untuk menghindari terjadinya hal yang tak diinginkan, adalah dengan mencegah anak-anak membeli petasan. Bukankah, bulan Ramadan, merupakan bulan penuh ampunan, yang lebih indah diisi dengan suara anak-anak mengaji dan belajar sholat, ketimbang bermain petasan?

Related posts