Peneliti Nilai Sebaiknya Partai Islam Melakukan Fusi

  • Whatsapp

JABARTODAY.COM – JAKARTA

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby menilai partai-partai Islam dapat melakukan fusi atau penggabungan untuk bisa meraih lebih banyak suara di pemilu presiden 2014, sebab saat ini persentase partai berideologi agama hanya 30 persen dibandingkan jumlah partai nasionalis.

“Realitas dukungan partai Islam ini kan masih rendah jika dibandingkan dengan partai nasionalis. Persentase partai Islam seperti PKS, PBB, PPP, PAN, dan PKB itu hanya 20 sampai 30 persen dibandingkan partai nasionalis yang sampai 70 persen, sehingga pasarnya atau suara yang diraih partai Islam pun bisa saja hanya sekitar 20 sampai 30 persen,” katanya di Jakarta, Senin seusai acara pemutaran film tentang Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Di acara yang diadakan Yayasan Denny JA  bekerjasama dengan Civil Society Jakarta itu, Adjie mengatakan dari total persentase suara sebesar 30 persen apabila dibagi-bagikan kepada sejumlah partai Islam maka masing-masing partai akan mendapat suara yang tidak sebanyak partai nasionalis.

“Namun kalau ada upaya untuk melakukan fusi bagi partai Islam, mungkin dukungan bisa lebih tinggi,” ujarnya dalam acara yang digagas pendiri LSI Denny JA.

Dia berpendapat, sebaiknya usulan penggabungan partai tidak dianggap tabu oleh partai Islam.

Menurut dia, meskipun secara historis partai-partai Islam berbeda baik dari segi kemunculannya maupun pembentukannya, namun apabila mempunyai kepentingan, nilai, dan cita-cita yang sama maka seharusnya ada upaya-upaya untuk melakukan fusi partai.

“Kalau masalahnya nanti ada `deal-deal` politik, itu bisa diselesaikan di internal, yang penting pemikiran ke arah fusi itu harus ada. Partai Islam jangan sampai mengabaikan hukum elektoral, karena porsi mereka hanya 20 sampai 30 persen, sangat jauh dari partai nasionalis,” katanya.

Adjie mengatakan jumlah ideal keberadaan partai Islam yakni dua buah, yakni satu partai Islam dengan ideologi islam formalistik dan satu partai Islam dengan ideologi Islam yang substansif.

“Namun persoalannya hampir semua tokoh Islam memiliki posisi tawar sehingga sulit menggabungkan partai,” ujarnya.

Related posts