Thursday , 30 January 2020
Home » Info Jabar » Pemprov Akan Kerjasama Dengan 30 Ribu Perawat Se-Jawa Barat

Pemprov Akan Kerjasama Dengan 30 Ribu Perawat Se-Jawa Barat

Perwakilan perawat se-Jawa Barat yang tergabung dalam Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) berdialog dengan istri Gubernur Jabar, Netty Prasetyani Heryawan, Jumat (25/1).

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan bekerjasama dengan sekitar 30 ribu perawat se-Jabar. Dalam kerja sama ini, perawat akan terjun ke masyarakat, dengan menjadi pendamping para kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Wacana ini disampaikan Netty Heryawan, dalam audiensi dengan Persatuan
Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Barat di Gedung Pakuan (25/1). Menurut Netty, secara teknis, program ini akan berjalan bersama program revitalisasi Posyandu di bawah lingkup program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

“Kita akan buat peta sebaran perawat itu ada di mana saja. Nah, di situlah kita akan mencoba membuat posyandu binaan atau posyandu asuhan. Nantinya, ada perawat-perawat yang ikut mendampingi dalam proses penyelenggaraan kegiatan posyandu,” papar Netty.

Program ini sejalan dengan misi perawat yang tergabung dalam PPNI. Hal ini dikatakan Ketua PPNI Mamat Lukman, “Teknologi basis hospital (rumah sakit) harus sampai ke tatanan keluarga. Misalnya, keluarga harus tahu cara merawat luka. Jadi, PKK bisa membantu men-share hal ini,” terangnya.

Program ini mendapat apresiasi, mengingat penyebaran tenaga medis di Jawa Barat belum merata. Seperti diungkap Kepala Instalasi Hemodialisa Rumah Sakit Advent Bandung, Melati. Menurutnya, Jabar butuh pengorganisiran tenaga medis, supaya seluruh masyarakat mendapat bantuan atau perhatian tenaga medis.

Jika program ini berjalan, Netty memperkirakan akan terjadi kesinambungan kerja, mulai pemerintah provinsi, sampai ke tataran keluarga, untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, peningkatan kualitas kesehatan akan berefek positif pada peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Pada Juni 2012, penduduk Jawa Barat berjumlah sekitar 44 juta jiwa. Angka ini 5 kali lebih besar dibandingkan penduduk Jakarta yang ‘hanya’ 9 juta jiwa. Netty menambahkan, besarnya SDM Jawa Barat semestinya menjadi aset dan modal pembangunan sosial. “Namun, hal ini bisa terganjal dengan kualitas kesehatan SDM yang buruk,” ujarnya.

Netty berharap dengan diadakannya program ini, masyarakat bisa lebih ngeh dengan masalah kesehatan. Salah satu cara untuk mencapai hal ini, perawat harus bisa bisa melakukan pendekatan per usia atau per fase. Contoh pendekatan per usia, perawat bisa berkomunikasi dengan ‘klien’ sesuai dengan usianya. Adapun contoh untuk pendekatan per fase, perawat berkomunikasi dengan ‘klien’ yang akan menikah, sejak dia berencana menikah, menikah, hingga melahirkan. Pesan komunikasi yang disampaikan adalah seputar informasi kesehatan yang wajib diketahui atau dilaksanakan saat itu.

Inisiatif ini tidak serta-merta datang begitu saja, seperti dituturkan Netty, salah satu faktornya adalah pengalaman dirinya saat menjemput 14 gadis korban trafficking ke Batam. Seluruh korban adalah warga Jabar yang usianya di bawah umur. “Dari 14 itu, satu orang hamil, satu lagi menggendong bayi, dan satu lagi positif HIV,” ujar Ketua TP PKK Jabar ini.

Dengan adanya pengetahuan kesehatan yang mantap, imbuh Netty, hal semacam di atas bisa dihindari. “Masyarakat akan tahu, ada teknis kesehatan yang harus dilakukan sebelum menikah,” tambah Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Jabar tersebut.

Menyikapi fenomena masyarakat yang masih apatis terhadap kesehatan ini, jajaran perawat yang terhimpun dalam IPPNI menyatakan siap membantu terealisasinya program ini. Suci Tuti Putri, dosen D3 Keperawatan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), setuju dengan ide ini dan siap bekerja sama dengan kader posyandu.

“Perawat memang harus terjun ke masyarakat, karena perawat merupakan tenaga medis terbesar di Indonesia. Jadi kalau perawat terjun ke masyarakat, peningkatan kualitas kesehatan bisa berlangsung efektif,” jelasnya.

Dengan demikian, wacana yang dilontarkan Netty sejalan dengan idealisme keperawatan itu sendiri. Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar manusia, karena itu sudah menjadi kewajiban pemerintah dan tenaga medis untuk mengakomodasi hal ini.

“Ketika kita mendampingi masyarakat, itu bukan karena kebutuhan mereka saja, tapi juga kebutuhan kita. Tuhan menilai ibadah tidak hanya secara vertikal, tetapi juga horizontal (sosial),” pungkas Netty. (AVILA DWIPUTRA)