Pasar Ekspor Potensial Ada di Amerika Latin dan Eropa Tengah

  • Whatsapp
Kepala BPPK Kemlu RI Pitono Purnomo membuka pertemuan ahli di Kantor BI Bandung, Kamis (5/7). (NAJIP HENDRA SP/JABARTODAY)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Ketika sejumlah negara di Eropa Barat kolaps, maka pasar produk Indonesia mulai bergeser ke Eropa Tengah dan kawasan lain di dunia. Ke depan, pasar potensial bagi produk-produk Indonesia berada di Amerika Latin, Eropa Tengah, dan Afrika. Karena itu, perlu dibangun kerjasama multilateral dengan negara-negara tujuan baru ekspor tersebut.

“Indonesia perlu melihat alternatif negara tujuan untuk memasarkan produk nontradisional. Alternatif itu ada di Amerika, Eropa Tengah, dan Afrika,” kata Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (P2K2) Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Trie Edi Mulyani saat berbicara dalam pertemuan ahli bertajuk “Opportunities and Challange in Advancing Trade and Investment Toward American and European Regions” di kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Jawa Barat dan Banten, Bandung, Kamis (5/7).

Trie menjelaskan, Kemlu terus berupaya menginisiasi terbangunnya kemitraan regional antara industri Indonesia dengan negara-negara tujuan. Saat ini sejumlah produk Indonesia mulai masuk ke sejumlah negara di Amerika Tengah maupun Eropa Tengah dan Afrika. Namun begitu, kalangan industri perlu mengimbanginya dengan terus memperbarui data dan informasi mengenai pasar negara tujuan ekspor.

“Forum ini sangat penting untuk mencari peluang pengembangan ekspor di kawasan Amerika dan Eropa. Karena itu, saya berharap kerjasama bisa ditinkatkan pada level yang lebih tinggi,” ungkap Trie dalam forum yang ikut dihadiri duta besar Brazil, delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, sejumlah duta besar Indonesia, kalangan industri, dan perbankan tersebut.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri Pitono Purnomo menilai Indonesia layak untuk menjadi bagian dari kekuatan ekonomi baru dunia bersama dengan Brazil, Rusia, India, China dan South Afrika (BRICS). Hal ini tidak lepas dari terus meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level 6-7 persen. Sebaliknya, negara-negara BRICS mulai mengalami pelambatan.

Cuma saja, Pitono tidak memungkiri proses ke arah sana tidaklah mudah. Karena itu, pemerintah sudah menetapkan untuk melakukan percepatan pembangunan ekonomi, dengan salah satu variabelnya meningkatkan volume ekspor. Sejalan dengan itu, pemerintah terus memfasilitasi pembukaan pasar alternatif bagi produk Indonesia.

“Indonesia berinisiatif untuk membangun kerjasama dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Eropa Tengah serta Afrika. Tujuannya agar setiap kerjasama memberikan benefit lebih. Pemerintah berharap kerjasama ini bisa menghasilkan langkah-langkah visible bagi perkembangan ekonomi,” kata Pitono.(NJP)

Berita Terkait