Home » Opini » Takut Tuhan atau Taipan?

Takut Tuhan atau Taipan?

Moh. Ilyas, Pemerhati Sosial dan Politik, Tenaga Ahli DPR RI

Apa hubungannya Tuhan dan Taipan? Secara kasat, dua term ini tampak terlalu jauh untuk dihubung-hubungkan, apalagi disandingkan. Sebab, Tuhan adalah “The Creator”, Sang Pencipta. Sedangkan Taipan adalah “The Created”, yakni makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan adalah “The Greatest”, Yang Maha Besar. Ia Transenden dan Absolut, berbeda jauh dengan makhluk yang relatif.

Namun kenapa dalam judul tulisan ini keduanya disandingkan? Dua term ini mulai dihubung-hubungkan setelah Jokowi dalam debat Pilpres kedua pada 17 Februari 2019, menyatakan dirinya hanya takut kepada Tuhan. Jokowi seakan hendak menegaskan bahwa ia independen, merdeka dari kehendak selain Tuhan Sang Khaliq.

Dalam menjalankan roda kepemimpinannya, ia seolah ingin bilang: “Sekarang saya sudah menjadi saya sendiri, bukan orang lain. Saya bukan Megawati, bukan Luhut Panjaitan, bukan juga Surya Paloh. Saya bukan pula Taipan, apalagi hanya petugas partai. Saya adalah saya.”

Kontan saja, pernyataan “hanya takut Tuhan” ini kemudian memantik perdebatan sekaligus respon, mulai dari mendukung hingga yang mencibir bernada nyinyir; mulai dari yang yakin hingga yang tak percaya sama sekali. “Yakin Jokowi hanya takut pada Tuhan? Apakah dia tidak takut pada Taipan yang selama ini berada di belakangnya?” Begitu salah satu celotehan di media sosial.

Perbincangan seputar ini akhirnya semakin meluas, terutama setelah isu kepemilikan lahan terus memanas pasca-debat Pilpres. Maklum, karena dalam debat itu, Jokowi menyerang kompetitornya, Prabowo Subianto soal kepemilikan lahan di Kalimantan dan Aceh. Bahkan beberapa hari setelah debat, Jokowi kembali “menghidupkan” debat seputar lahan ini dan menyatakan siap menunggu jika ada pemilik konsesi lahan dalam skala besar mau mengembalikan.

Sayangnya permintaan bernada sindiran itu terkesan hanya ditujukan kepada Prabowo. Untungnya, Prabowo tak gentar dan merespon secara gentle dengan pernyataan siap mengembalikan. Meski lahan yang dimilikinya legal dan tidak ada masalah, seperti diakui Wapres JK dan Eks Meneg BUMN Dahlan Iskan, Prabowo sebagai seorang patriot, tak berpikir dua kali dan menyatakan kesiapannya.

Namun demikian, sebelum Prabowo melaksanakan niatnya, banyak pihak menantang Jokowi agar terlebih dahulu membuat peraturan dalam bentuk Perpu atau lainnya yang mewajibkan pemilik lahan dalam skala besar yang berstatus HGU agar mengembalikan kepada negara. Dengan aturan itu, maka tak ada pandang bulu, tidak ada tebang pilih.  Siapapun dan di barisan manapun ia berdiri, akan terkena imbas dari aturan tersebut. Jika ini tidak dilakukan, maka pernyataan Jokowi tak lebih hanya sekadar “basa-basi politik”.

Nah, pertanyaan selanjutnya: Beranikah Jokowi membuat terobosan itu? Tak banyak orang yakin, terutama kalau membaca respon publik di media sosial. Kalau disurvei, kemungkinan hasilnya: 70% tidak yakin, 20% ragu-ragu, dan 10% yakin.

Jadi yang yakin hanya 10%? Betul. Lho kok bisa? Apa yang ditakutkan Jokowi? Bukankah Jokowi katanya hanya takut kepada Tuhan?

Sepintas, jika renungkan, takut pada Tuhan dapat dimaknai sebagai ikhtiar membumikan makna esoteris dari Taqwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia mensyaratkan keimanan, kepatuhan, ketundukan, sikap adil, dan penyayang, Ar-Rahman, yang sekaligus menjadi asma-Nya dalam “Asmaul Husna”.

Sementara takut pada Taipan, sebenarnya juga bermakna “ketundukan” dalam arti mengikuti rencana para Taipan, menjalankan agenda setting, political will, alias kemauan politik mereka. Namun perbedaannya, takut kepada Taipan tidak mensyaratkan adanya keadilan dan kasih sayang. Bagi Taipan, mengeruk untung sebesar-besarnya, menguasai ekonomi, termasuk lahan seluas-luasnya tanpa peduli nasib orang lain sudah lazim dilakukan. Karenanya, kekayaan yang mereka kuasai hanya menghadirkan ketidakadilan ekonomi, kesenjangan sosial. Maka, ketika bahasa “takut Taipan” lebih dominan daripada “takut Tuhan”, potensi sewenang-wenang, mengikuti jalan pikiran mereka lebih mudah terjadi ketimbang mengikuti kehendak rakyat, kesejahteraan rakyat.

*Jokowi dikelilingi Taipan?*

Lalu apakah Jokowi sebenarnya takut kepada Tuhan atau Taipan? Nah, itu dia masalahnya. Jokowi mungkin secara personal ingin tampil bak hero, tapi ia tidak kuasa. Apakah karena ia hanya petugas partai? Ah, itu soal lain. Tepatnya barangkali karena ia sejatinya berada dalam kooptasi Taipan. Hal ini setidaknya dapat diketahui dari apa yang diungkapkan Pakar Ekonomi Kwik Kian Gie. Kwik menuturkan, dalam Pilpres 2014 saja, ada 9 Naga Taipan Cina yang mengelilingi Jokowi.

“Mumpung ada Tim Rumah Transisi, saya benar-benar prihatin dengan kabar-kabar bahwa Pak Jokowi dikepung 9 Taipan. Orang-orang kaya yang mengendalikan. Dan kabar ini menyebar sangat luas. cuma tidak ada yang mengatakan, biarlah saya yang mengatakan. Bukan karena apa-apa, karena kecintaan saya. Tolong dijawab dengan fakta-fakta bahwa itu tidak betul. Karena kabar ini meluas,” ujarnya dalam acara Indonesia Laywer Club (ILC) di TVOne 21 Oktober 2014 bertema “Jokowi JK Mencari Menteri Yang Bersih”.

Kwik juga mempertanyakan peran salah satu Taipan Sofyan Wanandi dalam penyusunan kabinet, sesaat setelah Jokowi-JK dilantik, saat itu.

“Lalu kemudian apa peran Sofyan Wanandi, memang dia adalah ketua APINDO, tapi mengapa dia harus muncul dimana-mana. Inilah yang memunculkan kesan kuat bahwa para taipan ini. Akibatnya orang mulai was-was tentang kabinet ini, akan jujur, akan memberantas korupsi dan lain-lain…,” ujar Kwik.

Dalam data yang dilansir Konfrontasi, 15 Desember 2016, disebutkan bahwa sejumlah Taipan, keturunan China, yang mendukung Jokowi dalam Pilpres 2014 lalu adalah James Riady, Sofjan Wanandi, Tahir yang tak lain merupakan ipar James Riady, kemudian Rusdi Kirana, Jacob Soetoyo, Anthony Salim atau Liem Hong Sien, Tommy Winata, Edward Soeryadjaya atau yang bernama asli Tjia Han Pun, dan Robert Budi Hartono.

Peran para Taipan yang menjadi pengembang terhadap Jokowi, juga pernah diungkapkan oleh Ahok,  kompatriot Jokowi dalam kepemimpinan di DKI. Ahok secara terang-terangan mengatakan bahwa Jokowi tak akan jadi presiden kalau tidak ada pengembang di belakangnya. (Lihat: Sindonews, 23 Juni 2016)

Oleh karenanya, ketika kini Jokowi ditantang untuk membuat Perpu pengembalian lahan, rasa-rasanya sangat sulit diwujudkan. Sebab, yang kena dampak bukan hanya para timsesnya seperti Erick Thohir yang konon disebut punya lahan lebih luas dari Prabowo, atau Luhut Binsar Panjaitan, ataupun Surya Paloh dan JK, tetapi yang paling besar menerima dampaknya adalah para Taipan.

Kenapa Taipan, memangnya seberapa luas lahan milik mereka? Berdasarkan temuan Lembaga TuK dan Profundo pada 2015, disebutkan bahwa penguasan lahan oleh Taipan sangat besar sekali. Untuk kelapa sawit saja, ada kepemilikan 29 Taipan atas 25 grup perusahaan kelapa sawit yang menguasai lahan seluas 5,1 juta hektare atau hampir setengah Pulau Jawa yang luasnya 128.297 kilometer persegi. Dari 5,1 juta hektare (51.000 kilometer persegi), sebanyak 3,1 juta hektare telah ditanami sawit dan sisanya belum ditanami. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini sekitar 10 juta hektare. (Tempo, 13 Februari, 2015).

Bayangkan lahan seluas 5,1 juta hektare hanya untuk kelapa sawitnya saja. Bagaimana kalau digabung dengan Kakao, Tanaman Jarak, Kelapa Hybrida, Coklat, Vanili, Sorgun, Cengkeh, Kedele, Tembakau dan puluhan komoditas holtikultura lainnya? Berapa puluh juta hektare lahan yang dikuasai asing? Di antara mereka, kelompok perusahaan yang paling besar memiliki lahan sawit adalah Grup Sinar Mas, Grup Salim, Grup Jardine Matheson, Grup Wilmar, dan Grup Surya Dumai.

Jadi apakah Jokowi benar-benar takut pada Tuhan sehingga berani menjawab tantangan dengan membuat Perpu Pengembalian Lahan? Atau, apakah ia lebih takut pada Taipan? Let’s see. _Wallahu a’lamu bi al-shawab._

Bintara, 2 Maret 2019
Pukul 02.11 WIB.

Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Politik, Tenaga Ahli DPR RI

Komentar

komentar