Home » Opini » The X Files di Era Jokowi

The X Files di Era Jokowi

M. Rizal Fadillah

Kasus Novel Baswedan tidak tuntas dan nampaknya belum ada kemauan untuk menuntaskan. Kasus ini tidak semata kriminal tetapi ada aspek politik yang mendasarinya. Begitu juga dengan kasus sebelumnya pembunuhan Munir yang cukup rumit dan berbelit. Perencanaan di darat, TKP di udara akhir penyelesaiannya ke “laut”. Tenggelam.

Sarumpaet agak lama juga mengendap, konon sudah P-21. Tapi kasus “ratu” hoaks ini akan sampaikah pada otak perencana “muka bengap” ibu nekad yang membohongi teman teman dekat “seperjuangannya” ? Kemudian “kartu suara dalam kontainer” dimana si penelpon berada dan siapa yang atur pola “telepon” seperti ini. Lambat sekali proses, hingga akhirnya orang lupa bahwa “kontainer lama” sudah balik ke samudra dan “kontainer baru” datang mendarat. Kontainer berisi skenario-skenario baru.

Tabloid Indonesia Barokah yang penuh ghibah, fitnah, dan namimah begitu jelas pengelolanya, begitu jelas penegasan Dewan Pers bahwa itu bukan jurnalisme, dan begitu keras analisis Guru Besar Hukum UGM yang menyatakan kerja Tabloid Indonesia Barokah adalah “kejahatan politik”. Publik melihat penanganan masih samar samar. Bahkan gelap atau digelapkan.

Kasus kriminal yang bersinggungan dengan kekuasaan cenderung merayap atau mengendap. Endapan tebal menjadi file file tersimpan, X files. Misteri itu kelak terkuak atau tidak, tergantung pada kemauan dan siapa yang memegang kekuasaan politik. Untuk gerakan politik tingkat tinggi, maka ketika publik kuat menekan dan perlu membuka, maka yang terpotong biasanya hanya sampai “kaki” dan “tangan” sementara “otak” yang berada di kepala tetap tak terlihat dan sulit untuk dibedah. Lebih baik “dimatikan” daripada sang otak harus terlihat “telanjang bulat”.

Kita teringat pada film seri X-Files yang dibintangi agen FBI Fox Mulder dan Dana Scully yang mencoba membongkar kasus-kasus misteri. Dengan kemampuan masing-masing, terkuaklah kasus terpendam tersebut. Sebagai agen intelijen prinsip-prinsip intelijen pun dijalankan. Muncul slogan terkenal seperti “The truth is out there“, kemudian “Trust no one” atau “I want to believe“.

Nah, apakah slogan-slogan ini berlaku juga dalam pengungkapan kasus-kasus yang (bisa) mengendap di Indonesia seperti di atas? Nampaknya bisa ya atau tidak. Ya, jika niat untuk membongkarnya cukup kuat dan kasus seperti “operasi plastik” Sarumpaet bukan bagian “operasi intelijen”. Tidak, jika memang tidak ada kemauan sama sekali untuk mengungkapnya. Sengaja agar tak terungkap sebagai perlindungan agar kekuasaan tetap langgeng.

Tanpa perlu bantuan paranormal seperti yang biasa agen Mulder, X Files di Indonesia tetap bisa terungkap dengan syarat ada kemauaan kuat untuk menuntaskan serta keyakinan bahwa sedalam-dalam manusia menyembunyikan kebenaran, Allah Swt akan membongkar dan menunjukkan kekuasaan-Nya. Kita adalah negara ber “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Meski si kasus tersembunyi di kegelapan got, dalam batu, perut kodok, atau lubang biawak sekalipun. ***

Bandung, 2 Februari 2019

 

Komentar

komentar