Sunday , 17 November 2019
Home » Pendidikan » Nasib Kertas Makin Kritis

Nasib Kertas Makin Kritis

Ilustrasi

JABARTODAY.COM – SUMEDANG Industrialisasi telah mendorong kertas ke posisi kritis. Di sisi lain, berkembangnya media baru (new media) telah semakin menyisihkan peran kertas dalam kehidupan manusia. Begitu kata Setiawan Sabana, guru besar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), saat memberikan kuliah umum bertajuk “Kertas: Perspektif Sejarah, Budaya, dan Media Baru” pada penerimaan mahasiswa baru Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad) di kampus Unpad Jatinangor, Senin (8/8) hari ini.

Kritisnya nasib kertas, imbuh mantan Dekan FSRD ITB ini, akibat diabaikannya aspek lingkungan hidup oleh pelaku industri. Deforestasi berupa pembabatan hutan mengakibatkan berkurangnya tutupan hijau yang berdampak pada pemanasan suhu global. Pembabatan tanpa mempertimbangkan aspek ekologi di kemudian hari memicu bencana alam seperti longsor, banjir, hingga hilangnya lahan-lahan pertanian.

“Eksistensi kertas pun tergugat oleh praktik industrialisasi yang kurang ramah terhadap lingkungan. Kita memperlakukan kertas secara bijak. Salah satunya melalui daur ulang agar kertas bisa digunakan kembali,” papar Setiawan.

Di bagian lain, Kepala Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain ITB ini menjelaskan kertas dalam perspektif luas, mulai sejarah, seni, sastra, media baru, hingga budaya. Dalam perspektif sejarah, papar Setiawan, kertas memegang peranan penting dalam perjalanan sejarah kebudayaan dunia. Dalam bentuk sederhana berupa lempengan daun papirus dari bantaran sungai Nil di Mesir, kertas menjadi penyampai pesan kebudayaan yang berjasa besar bagi perkembangan peradaban manusia.

Dalam perspektif kesenian, kertas merupakan sebuah media untuk menuangkan gagasan seniman. Kertas dipilih karena kekhasannya yang tidak bisa ditemukan pada media lain. “Kertas memiliki tekstur, ketebalan, ketipisan, tekstur, ukuran, warna, keringanan, dan kelenturan helaiannya. Karena itu, kertas menjadi ruang ekspresi estetik. Kertas identik dengan karya seni gambar atau seni lukis,” ungkap pemakalah di lebih dari 50 seminar ini.

Peran kertas menjadi sangat bermakna manakala berbicara kitab suci. Secara spiritual, kertas menjadi dokumen mahapenting yang mendapat penghormatan para pemeluk agama. Dalam sebuah kepercayaan, kertas menjadi media komunikasi antara manusia dengan para dewa atau arwah para leluhur.

“Eksistensi kertas kini terancam dengan kehadiran media baru berupa internet. Fungsi kertas telah digantikan oleh telepon selular, surat elektronik, laman website, hingga jejaring sosial. New media age merupakan sebuah era ketika masyarakat semakin meminggirkan fungsi kertas, paperless society,” tambah pria kelahiran 1951 tersebut.

Penelitian yang telah dilakukannya menunjukkan, pergeseran media baru mendorong perubahan cara pandang manusia terharap hidup dan kehidupannya. Kertas pun lebih dari sekadar kertas. (Najip Hendra SP)