Naikkan Daya Saing, Contoh Singapura

Menperin-MS-Hidayat-JABARTODAY.COM – BANDUNG

Dalam era persaingan pasar bebas dan global, perlu adanya peningkatan daya saing produk. Hal itu bertujuan agar produk-produk domestik tidak kalah oleh barang-barang impor. Karenanya, pemerintah terus melakukan update data tentang produk-produk yang memiliki kandungan lokal melebihi 50 persen, mulai skala mikro, kecil, menengah, dan besar, apa pun produknya.

“Baik sektor riil, handycraft, otomotif, teknologi informatika, dan lainnya,” ujar Menteri Perindustrian, MS Hidayat, usai membuka Pameran Produk Indonesia 2014 di Hotel Harris Bandung, Kamis (22/5/2014).

Hidayat meneruskan, produk-produk berkonten lokal melebihi 50 persen itu menjadi perhatian pemerintah. Hal itu, sambungnya, dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menerbitkan regulasi sehingga lebih berdaya saing.

Diakuinya, saat ini, masih cukup banyak kalangan, utamanya, menengah-atas, yang lebih memilih produk-produk bermerek dan berkualitas daripada produk lokal, yang mereka anggap kualitasnya masih belum maksimal. Melihat kondisi itu, kata MS Hidayat, tentunya, agar daya saing lebih meningkat, para pelaku usaha dan industri harus terus berusaha meningkatkan kualitas produknya.

Salah satu contoh upaya pemerintah untuk meningkatkan daya saing, tuturnya, yaitu mengundang konsultan Italia pada produk sepatu. Yaitu, terangnya, memberi saran berkenaan dengan desain dan kualitasnya. “Termasuk mengembangkan jaringan pasarnya,” sahut Hidayat.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian yaitu branding produk nasional. MS Hidayat menyarankan, para pelaku usaha dan industri di tanah air, sebaiknya, mengikuti program branding nasional untuk lebih memberi nilai tambah bagi produk-produk lokal. Upaya itu dilakukan Singapura. Menurutnya, branding merupakan hal penting dalam mendongkrak daya saing.

“Sebenarnya, banyak produk nasional, contohnya saja, produk  garmen, yang berkualitas tinggi. Sayangnya, tidak punya brand. Produk-produk itu dipesan beberapa negara, termasuk Singapura. Nah, di Singapura, produk itu mendapat label atau merek. Kemudian, mereka memperjualbelikannya. Ironisnya, banyak masyarakat negara ini yang bangga karena berbelanja produk tersebut di Singapura. Padahal, produk itu  buatan negara ini,” tutupnya. (ADR)

Related posts