Musik Balada, Nasionalisme dan Harga Diri Bangsa

  • Whatsapp
Ferry Curtis: Hampir semua episode akhir hidup seorang musisi balada dikhimatkan untuk kemanusiaan. (ISTIMEWA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Peran para musisi balada tidak bisa dinafikan dalam menggelorakan semangat kebangsaan. Mereka tulus berkarya untuk bangsa dan kemanusiaan.  Bahkan, hampir semua episode akhir hidup seorang musisi balada dikhimatkan untuk kemanusiaan. Demikian disampaikan musisi Balada, Ferry Curtis (42),  saat ditemui Jabartodayan.com, di Kebon Seni Jl. Tamansari Bandung, Sabtu malam (17/9) pukul 20.30 WIB.

“Musik balada itu, identik dengan kebersahajaan. Musisi balada jarang sekali yang ngartis. Mereka bisa bernyanyi di mana saja. Tanpa harus berfikir dapat honor atau tidak. Hampir semua episode akhir hidup seorang musisi balada dikhimatkan untuk kemanusiaan. Tengok saja Franki Sahilatua. Sisi kebangsaan kita digugah. Intinya, bagaimana negeri ini berkeadilan, ” ujar Ferry.

Kerisauannya juga menyapa cara berbudaya anak-anak muda kita yang jauh dari nilai-nilai luhur adat budaya dan agama.

“Terus terang saya terganggu, saat tidak sedikit stiker di motor anak-anak muda kita, yang hemat saya, jauh nilai-nilai luhur bangsa, “ ujar Ferry sambil memberi contoh stiker yang mengumbar kata-kata kasar dan cenderung menyulut permusuhan.

Ferry juga berbicara tentang nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan yang memudar, hingga pendidikan yang makin tak terjangkau bagi si papa. “Pendidikan kita tidak berkeadilan, rata-rata hanya melayani si empunya. Si papa susah mendapat pendidikan yang berkualitas. Mereka hanya menawarkan angka-angka. Sekolah susah, makan susah, kehidupan begitu keras. Akhirnya, bangsa ini hanya melahirkan para kriminal,” pungkas Ferry.

Bangsa Amuk

Menurut Ferry, Indonesia kini lahir menjadi bangsa amuk. Ia tampaknya tengah gundah gulana dan gelisah melihat bangsanya yang makin tak berbudaya. “Di mana-mana terjadi amuk massa, kerusuhan dan keberingasan. Bendera dan harga diri bangsa ini, telah dirobek sendiri oleh anak-anak bangsa sendiri,” ujar Ferry yang naik daun berkat lirik lagu Pustaka, Anak Kecil Kehilangan Bendera dan Surat pada Putera Sang Fajar.

Indonesia, kata laki-laki kelahiran Wanayasa,  Purwakarta, 42 tahun lalu itu, menjelma  menjadi bangsa yang tak punya aturan. Bangsa yang tercerabut dari akar budayanya sendiri dan dari nilai-nilai kebangsaannya sendiri.

“Itulah yang mendorong saya bermusik. Bagaimana lirik-lirik balada saya bisa menggelorakan semangat bangsa dan bisa mengembalikan harga diri kita sebagai bangsa,” ujar pengagum Ebiet G. Ade ini.

Ia juga mengeritik media massa yang juga tak mampu menyuguhkan informasi dan tayangan yang edukatif. Para pemimpin pun, baik di pusat maupun di daerah, juga tak bisa dijadikan panutan dan teladan bagi rakyat.

Kesadaran kolosal

Ferry Curtis menilai perlunya bangsa Indonesia memiliki kesadaran kolosal tentang peradaban bangsa ini ke depan terutama kebangsaan. Kesadaran kebangsaan itu, menurutnya, memerlukan panutan. Karena kesadaran kebangsaan itu tidak tumbuh sendiri tetapi harus ada panutannya.

Saat ini, tegas Ferry, tidak ada tokoh sekaliber Bung Karno, yang selalu mengingatkan bangsa ini agar selalu menempatkan harga diri dan martabatnya di atas segala-galanya. Ia menilai para tokoh nasional saat ini, lebih banyak memikirkan diri dan kelompoknya.

“Wajar saja bila dunia politik kita penuh dengan pertikaian dan saling jegal. Rakyat pun kehilangan kepercayaan kepada para pemimpinnya. Negara-bangsa bernama Indonesia ini  tidak punya dosa. Alamnya yang subur makmur nan indah adalah anugerah dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Para elitnya sajalah yang menyelewengkannya,” ujar alumni STSI Bandung ini. (fzf)

 

Berita Terkait