Monday , 18 November 2019
Home » Kesehatan » Mitos dan Fakta tentang Tindihan, Kelumpuhan Tidur, atau ‘Eureup-Eureup’

Mitos dan Fakta tentang Tindihan, Kelumpuhan Tidur, atau ‘Eureup-Eureup’

Eureup-eureup, tindihan, atau kelumpuhan tidur dalam bahasa medis disebut sleep paralysis. Sebuah keadaan ketika tidur seakan-akan ditindih, dicekik, sehingga badan sulit bergerak dan tak bisa berteriak. Berikut ini penjelasan sains atau medis.

eureu-eureup tidur tindihan sleep paralysis

JABARTODAY.COM — Tidur adalah keadaan istirahat alami. Tidur merupakan proses istirahat untuk mengembalikan energi yang hilang. Orang yang kelelahan biasanya mudah tidur, bahkan tertidur. Tidur normal dilakukan pada malam hari, setelah siang hari beraktivitas.

Salah satu fenomena dalam tidur adalah gangguan berupa tubuh seakan-akan ditindih “makhluk gaib”, sehingga seluruh anggota tubuh seakan ada yang mengikat, tidak bisa menggerakan badan, bahkan tidak bisa mengeluarkan suara (berbicara).

Orang Sunda menyebutnya eureup-eureup. Masyarakat lain mengistilahkannya dengan tindihan. Fenomena gangguan tidur ini dalam bahasa medis disebut sleep paralysis.

Sleep paralysis adalah keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak. Sleep paralysis disebut juga “tidur lumpuh” karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh.

Semua orang potensial terken eureup-eureup. Usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini antara 14-17 tahun.

Mitos Eureup-Eureup di Berbagai Negara

Mitos menyebutkan, tindihan saat tidur itu dilakukan “makhluk gaib”. Tindihan merupakan fenomena global atau terjadi di semua bangsa. Umumnya, dalam cerita mistis atau mitos disebutkan penyebabnya adalah makhluk halus atau makhluk gaib.

Di Finlandia atau Swedia, ada kepercayaan kelumpuhan saat tidur itu disebabkan oleh makhluk supernatural bernama Mare. Mare dipercaya sebagai perempuan yang dikutuk dan tubuhnya dibawa secara misterius saat sedang tidur tanpa disadari. Ia berkeliling desa untuk menduduki tulang iga orang-orang yang sedang terlelap dan memunculkan fenomena kelumpuhan tidur.

Di Amerika Serikat, cerita rakyat Georgia, South Carolina, dan Newfoundland muncul mitos kelumpuhan tidur diakibatkan makhluk jahat bernama Hag. Hag meninggalkan tubuh fisiknya di malam hari, arwahnya bergentayangan, dan duduk di dada orang-orang yang sedang terlelap.

Di Fiji, fenomena kelumpuhan tidur diistilahkan dengan “kana tevoro” yang berarti “dimakan oleh setan” yang dikaitkan dari kerabat dekat seseorang yang baru meninggal dan bergentayangan karena untuk urusan yang belum selesai.

Di Turki, kelumpuhan tidur disebut dengan “kerabasan” yang kurang lebih berarti serupa, yakni arwah gentayangan yang mengunjungi orang-orang yang sedang terlelap.

Dalam cerita rakyat Thailand, ada hantu bernama Phi Am yang menjadi biang penyebab kelumpuhan tidur.

Di Meksiko, pengalaman ini disebut “se me subio el muerto” dan lagi-lagi dihubung-hubungkan dengan arwah penasaran yang menempel pada raga seseorang.

Dalam cerita rakyat Jepang, kelumpuhan tidur ini disebut “kanashibari” yang secara harfiah artinya “seseorang yang sedang diikat oleh makhluk halus”.

Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back (hantu yang sedang menaiki bahu seseorang). Di budaya China, disebut gui ya shen (gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang).

Fakta Eureup-Eureup, Penjelasan Sains

Para ahli di bidang psikologi serta neurologi sudah sejak lama menjawab fenomena kelumpuhan tidur ini. Kelumpuhan tidur adalah gangguan dari fase tidur REM, yaitu fase puncak saat seseorang sedang nyenyak dan sebagian orang melewatinya dengan mimpi.

Selama fase REM, otot-otot tubuh sedang diistirahatkan, sehingga seolah-olah raga sedang lumpuh. Istilah “paralysis” menggambarkan manakala kondisi otak sudah sadar, tapi tak mampu menggerakkan anggota tubuh.

Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM).

Berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam, dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi.

Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).

Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.

Maurice M. Ohayon, seorang profesor ilmu psikiatri dan perilaku dari Stanford University, dan rekan-rekannya pernah menerbitkan penelitian tentang kelumpuhan tidur kurang lebih 17 tahun lalu pada Jurnal Neurology.

Mereka menemukan, 30-50 persen orang-orang yang didiagnosis narkolepsi alias gangguan tidur mengalami kelumpuhan tidur sebagai gejala tambahan.

Tiga persen dari individu telah mengalami kelumpuhan tidur dan terjadi berulang setiap malamnya, rata-rata didiagnosis menderita gangguan kelumpuhan tidur kronis.

Orang yang pernah mengalami kelumpuhan tidur akan mengalaminya minimal sekali dalam sebulan hingga setahun setelahnya.

Brian A. Sharpless, asisten profesor psikologi klinis di Pennsylvania State University pada 2011, pernah menganalisis hasil 34 studi tentang kelumpuhan tidur yang diterbitkan selama 50 tahun terakhir dan melibatkan 36.533 responden.

Ia menemukan, kelumpuhan tidur dialami oleh 7,6 persen dari populasi umum. Sebanyak 28 persen dan 32 persen di antaranya adalah siswa sekolah dan pasien kejiwaan.

Brian juga menemukan, kelumpuhan tidur seringnya dialami orang yang gampang panik. Sebanyak 35 persen pernah mengalami kondisi ini setidaknya sekali dalam seumur hidup.

Sleep paralysis akan mudah muncul saat seseorang memiliki beban pikiran yang berat atau sedang dalam kondisi kejiwaan yang tak menentu.

Soal Makhluk Halus

Mengapa sebagian orang melihat atau merasakan ada sosok yang menindih atau di sekitar tempat tidur?

Psikologi menyimpulkan, gambaran tersebut tak nyata dan bukan representasi dari makhluk halus dalam mitos. Halusinasi tersebut muncul akibat rasa takut yang membuat sosok menyeramkan di mimpi sebelumnya muncul kembali.

Halusinasi itu juga bisa muncul akibat orang yang bersangkutan benar-benar mempercayai fenomena “tindihan” sebagai ulah makhluk halus yang memberikan sugesti.

Terapi Kelumpuhan Tidur

Para psikolog sepakat, kelumpuhan tidur atau “terkena eureup-eureup” bukan gangguan berbahaya, kecuali terlalu sering dan membuat aktivitas sehari-hari terganggu.

Jika sering terkena tindahan dalam tidur, maka terapinya antara lain luangkan waktu untuk menyegarkan pikiran dan melepas beban akibat dari kelelahan bekerja atau beraktivitas.

Frekuensi tidur dengan waktu yang cukup dan tanpa gangguan di sekitar juga hal penting. Apa yang terjadi dengan tubuh kita tak terlepas dari apa yang kita pikirkan dan lakukan.

Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.

Tindihan, kelumpuhan tidur, atau sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.

Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.

Posisi Tidur: Jangan Telentang

Seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur).

Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini. Dalam Islam, posisi tidur terbaik sesuai sunah Rasulullah Saw adalah Posisi Tidur Miring ke Arah Kanan.

“Apabila kamu hendak tidur maka berwudhulah (dengan sempurna) seperti kamu berwudhu untuk sholat, kemudian berbaringlah di atas sisi tubuhmu yang kanan.” (HR. Bukhari).

Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu,” (Hr Al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan studi 2003 dan dimuat The Journal of American College of Cardiologi –yang dimuat New York Times 21 Februari 2011, tidur dengan posisi miring ke kanan lebih aman daripada miring ke kiri.

Tidur dengan posisi miring ke kanan bisa mengurangi risiko kegagalan fungsi jantung. Sebab, saat posisi tubuh miring ke kanan, membuat jantung yang berada di bagian kiri tidak tertindih oleh organ yang lainnya.

Ulama sekaligus pakar kedokteran, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, berkata, tidur dengan posisi miring dan ke sebelah kiri juga kurang baik bagi kesehatan –dapat membahayakan jantung.

Nabi Muhammad SAW juga melarang umatnya untuk berlama-lama tidur terlentang. Setelah dikaji secara medis, ternyata tidur deng posisi telentang menekan atau menyesakkan tulang punggung, bahkan bisa menyebabkan kita ingin ke toilet.

Nabi Muhammad Saw diriayatkan lebih senang tidur dengan posisi tubuhmenghadap ke arah kanan dan tidak pernah bertelungkup. Kepalanya diberi alas sebagai bantal. Namun, kadang-kadang menggunakan salah satu tangannya yang diletakkan di bawah pipinya.

Uraian di atas menjelaskan eureup-eureup, tindihan, kelumpuhan tidur, atau sleep paralysis sama sekali tidak terkait makhluk gaib, arwah, makhluk halus, ataupun jin. Itu mitos! Faktanya, hal itu terkait dengan kondisi badan dan posisi tidur.

Referensi: Medical News Today, Business Insider.