Sunday , 17 November 2019
Home » Sosok » Melestarikan Kaulinan Barudak dalam Babalapan di Motekar

Melestarikan Kaulinan Barudak dalam Babalapan di Motekar

Anak-anak saat mengikuti Lomba Balap Jajangkungan, di Sanggar Motekar, Kampung Taraju, Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Minggu (30/10/2011). (DEDE SUHERLAN)

Anak-anak Antusias Ikuti Kegiatan, Tanamkan Kerjasama dan Toleransi

MENINGGALNYA maestro seni Jatinangor Kab. Sumedang, Supriatna, Kamis, 21 Juni lalu, sangat berimbas terhadap perkembangan seni di kawasan ini. Kiprah pensiunan kepala SD ini dalam mengembangkan seni sangat menonjol. Supriatna menjadi konseptor sekaligus praktisi yang terjun langsung menumbuhkembangkan seni. Inilah petikan wawancara JABARTODAY.COM dengan Supriatna beberapa bulan sebelum pria yang juga dikenal sebagai sastrawan itu meninggal. 

Digelarnya kegiatan bertajuk “Babalapan di Motekar”, di Sanggar Motekar, Minggu (30/10/2011) menjadi oase di tengah semakin merebaknya kekhawatiran terhadap semakin terpinggirkannya kaulinan tradisional di tengah masyarakat. Keantusiasan anak-anak saat mengikuti perhelatan itu menunjukkan bahwa kaulinan barudak masih eksis.

Pada Minggu (30/10) pagi, puluhan anak-anak yang berasal dari Desa Cikeruh, Sayang, dan Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor, berkumpul di halaman rumah Pupuhu Sanggar Motekar, Supriatna, di Kampung Taraju, Desa Sayang. Di lahan seluas lapangan bola volly itu, anak-anak menunjukkan kemahirannya bermain jajangkungan dan balap kelom batok.

Keriuhan tawa anak-anak saat menjadi peserta Lomba Balap Jajangkungan dan Kelom Batok, semakin kentara. Mereka terlihat asyik mengikuti kegiatan. Tepuk tangan puluha penonton yang menyaksikan perlombaan itu terdengar saat 18 peserta Lomba Balap Jajangkungan dan 8 peserta lomba balap kelom batok masuk ke arena lomba.

Bisa jadi, itulah yang menjadi kepuasan tersendiri bagi Pupuhu Sanggar Motekar, Supriatna. Pria yang  terlihat enerjik itu dan rengrengan panitia lainnya sangat bersemangat mengatur agar kegiatan berlangsung lancar.

“Inilah sumbangsih kami untuk melestarikan kaulinan barudak. Jika ada kata pelestarian budaya warisan karuhun, maka harus ada langkah konkret untuk mewujudkan keinginan itu,” kata Supriatna, Minggu (30/10/2011).

Supriatna mengatakan, “Babalapan di Motekar” merupakan agenda rutin yang digelar setiap bulan di Sanggar Motekar. Selain balap jajangkungan dan balap kelom batok, permainan barudak lainnya seperti galah, balap lumpat, dan menbal jajangkungan, juga menjadi materi kaulinan barudak yang dilombakan pada kegiatan itu.

“Saya ingin agar anak-anak bergembira saat bermain kaulinan barudak. Ketika permainan modern semakin gencar, seperti PS (play station), anak-anak jangan sampai melupakan permainan tradisional. Dalam permainan tradisional terkandung nilai-nilai yang sangat bermanfaat untuk perkembangan jiwa anak-anak,” kata dia.

Supriatna memaparkan, dalam kaulinan barudak terkandung nilai-nilai kerjasama dan toleransi.  Semua kaulinan barudak, kata dia, tidak bisa dilakukan sendirian.

“Permainan balap jajangkungan dan balap kelom batok misalnya hanya bisa dilakukan oleh banyak orang. Itu membuka peluang untuk menumbuhkan pentingnya kerja sama dan toleransi kepada  anak-anak. Jika peserta perlombaan lebih mengedepankan rasa egoisme, maka permainan tidak akan berlangsung lancar,” ujar dia.

Ketua RW 09 Kampung Taraju, Desa Sayang, Dede Sugandi, mengungkapkan, dia sangat menyambut baik langkah yang dilakukan oleh Sanggar Motekar.

“Saya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Pak Supriatna. Digelarnya Babalapan di Motekar menjadi momen untuk mengenalkan permainan kreatif dan mendidik kepada anak-anak,”  kata Dede. (DEDE SUHERLAN)