Lima Negara Minati Produk Pindad

PINDADJABARTODAY.COM – BANDUNG — Ternyata, anggapan bahwa produk luar negeri punya kualitas yang lebih hebat daripada produk dalam negeri, tidak selamanya benar. Buktinya, senjata-senjata dan amunisi produk PT Pindad (Persero) mampu memiliki kualitas yang mengungguli sejumlah produk luar negeri.

Itu terbukti pada hasil kejuaraan menembak antarnegara yang berlangsung beberapa waktu lalu. Dalam ajang itu, Indonesia, yang mengandalkan senjata jenis SS-2, sukses menggondol gelar juara yang ke-9 kalinya.

“Ini membuktikan bahwa produk senjata nasional tidak kalah oleh produk asing yang sejenis. Saat lomba, Indonesia juara pertama. Gelar juara itu pun menunjukkan bahwa senjata produk PT Pindad punya kualitas tinggi,” tandas Direktur Utama PT Pindad, Sylmi Karim, usai kunjungan Staf Ahli Kepresidenan, Luhut Panjaitan, di PT Pindad, Jalan Gatotsubroto Bandung, Kamis (4/6).

Menurutnya, prestasi yang diraih Indonesia pada perlombaan menembak itu berefek positif bagi perkembangan industri strategis nasional, khususnya, persenjataan. Dampaknya, kata dia, sejumlah negara mengajukan permintaan, baik berupa pembelian maupun dalam bentuk lisensi.

“Sebuah respon positif bagi produk senjata dalam negeri. Efek positifnya, tidak hanya bagi industri strategis, tetapi perekonomian negara ini karena berpengaruh pada devisa,” sambung pria yang saat itu mengenakan busana batik tersebut.

Sylmi tidak membantah bahwa pasca lomba tersebut, pihaknya menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa negara. Sayang, Sylmi menolak menyebut nama negara-negara yang menjalin MoU tersebut. “Nanti, apabila sudah kontrak, kami sebutkan,” elak dia.

Kendati begitu, Sylmi mengakui bahwa setidaknya, ada 5 negara asal Asia, Afrika, dan Timur Tengah yang meminati produk senjata lembaga BUMN tersebut. Sylmi berpendapat, negara-negara peminat tersebut memang merupakan pangsa pasar PT Pindad. “Yang berminat ada 5 negara. Yang serius, sebanyak 3 negara,” ucapnya.

Pada sisi lain, berkenaan dengan perkembangan BUMN yang bergerak dalam bidang industri strategis, Sylmi berpandangan, negara ini butuh sebuah lembaga yang menjadi holding BUMN-BUMN itu. Lembaga tersebut, terang dia, berperan sebagai penjembatan antara pemerintah selaku pengambil kebijakan, dan perusahaan-perusahaan BUMN sebagai pelaksana. Selain itu, holding tersebut juga dapat melakukan evaluasi perkembangan BUMN-BUMN industri strategis setiap hari. “Day by day terus termonitor perkembangannya. Holding itu pun dapat mempercepat kemandirian BUMN,” sahut Sylmi. (ADR)

Related posts