Legislator: Armada Diskar PB Kota Bandung Harus Selalu Prima

  • Whatsapp

JABARTODAY.COM – BANDUNG Kondisi armada pemadam kebakaran yang dimiliki Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung, yang terlihat mulai tidak prima, menjadi sorotan DPRD Kota Bandung.

“Selain produksi lama juga kurang terpelihara dengan baik. Tetapi, saya melihat armada pemadam kebakaran itu kendaraan impor dan tentu harganya mahal-mahal ya, tapi sayangnya beberapa diantaranya tidak berfungsi dengan optimal karena kurang terpelihara dengan baik. Saya enggak tahu apa permasalahannya, apakah sparepart yang harus impor atau memang harus dilakukan oleh teknisi khusus yang memperbaikinya, sehingga hal ini tidak segera dilakukan,” ujar Sekretaris Komisi A  DPRD Kota Bandung Erick Darmadjaya, saat dihubungi, Jumat (19/3/2021).

Menurutnya, satu hal yang pasti, kesiapan armada Diskar PB, sangat dibutuhkan saat terjadi bencana seperti kebakaran, maka seharusnya selalu dalam kondisi prima setiap saat.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia ini pun mendorong agar Pemkot Bandung dapat menjalin kerja sama dengan mitra strategis lain, salah satunya PT Pindad, dalam rangka menyediakan prasarana pemadam kebakaran lokal dengan kualitas impor. Sehingga, kebutuhan sparepart untuk pemeliharaannya tidak harus menunggu lama.

“Saya yakin PT Pindad bisa membuat armada pemadam kebakaran, sehingga bila kerja sama ini terjalin, setiap kali ada masalah, bisa langsung tertangani. Dengan ketersediaan jumlah armada damkar yang ada saat ini saja, saya kira kurang ideal untuk bisa meng-cover saat terjadi kebakaran besar, apalagi bila dua atau tiga diantaranya tidak bisa beroperasi, tentu proses penanganan akan terhambat,” kata Erick.

Baca Juga

Dihubungi terpisah anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi Gerinda, Hasan Faozi menilai, bahwa kesiapsiagaan infrastruktur penanganan bencana menjadi faktor kebutuhan yang sangat krusial dari upaya penanganan musibah dan berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia, sehingga diperlukan perhatian serius pemerintah untuk dapat mewujudkannya. Terlebih, area layanan Diskar PB Kota Bandung terbilang cukup luas, yakni 30 kecamatan.

“Kesiapan penanganan suatu bencana, bukan hanya dipengaruhi oleh kemampuan dari setiap petugasnya saja, tapi juga sarana dan prasarana yang dimilikinya. Maka, kelengkapan penunjang operasional menjadi sesuatu yang krusial yang harus dimaksimalkan dalam setiap penanggulangan bencana,” ujar pria yang akrab disapa Ozi ini.

Menurut Ozi, yang juga Ketua Komisi B ini, berdasarkan pemantauan dan hasil rapat kerja yang dilakukannya dengan Diskar PB Kota Bandung beberapa waktu lalu, diketahui bahwa beberapa kelengkapan sarana prasarana Diskar PB, perlu optimalisasi. Salah satunya ketersediaan alat ukur ketinggian gedung, untuk memastikan akurasi tekanan air yang dibutuhkan saat menangani musibah kebakaran, khususnya dalam gedung bertingkat.

Disamping itu, lanjut dia, kurangnya ketersediaan tabung oksigen bagi para petugas, menimbulkan jeda waktu saat bertugas. Karena kondisi tersebut, penggunaan kebutuhan tabung oksigen terpaksa dilakukan secara bergantian antara satu petugas dan petugas lainnya saat menangani bencana.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong Pemkot Bandung untuk segera melengkapi kedua kebutuhan tersebut, apalagi tabung oksigen sangat erat kaitannya dengan keselamatan nyawa petugas di lapangan.

“Karena pentingnya dua alat tersebut, saya berharap ini dapat segera dilakukan pembahasan di tingkat Badan Anggaran untuk mendorong eksekutif segera mewujudkannya. Apalagi kebutuhan anggaran dari kedua alat ini hanya sekitar Rp. 200-250 jutaan, nominal yang tidak terlalu besar. Harusnya ini menjadi prioritas,” pungkasnya. (*)

Related posts