Friday , 13 December 2019
Home » Opini » Kultur Monozukuri

Kultur Monozukuri

Oleh: Fathorrahman Fadli

Meski dikenal luas sebagai seorang industrialis terkemuka, Rachmat Gobel, percaya betul tentang pentingnya membangun manusia. Ayahnya H.Thayeb Mohammad Gobel selalu mengingatkan dirinya tentang hakikat membangun pabrik yang tidak bisa dipisahkan dengan membangun industri.

Karena Inti sari membangun industri adalah membangun manusia.Industri akan maju apabila mampu mendidik manusia yang ada didalamnya menjadi manusia pencipta.

Lalu apa hubungan antara kultur monozukuri dengan membangun manusia?

Membangun manusia sebagai inti membangun industri tentu membutuhkan kultur monozukuri. Monozukuri adalah suatu tradisi menciptakan barang yang bisa memberikan nilai tambah kepada konsumen.

Kultur monozukuri yang terjadi di pabrik-pabrik Jepang bisa kita lihat dari aturan pemilahan, penataan, pembersihan, pemantapan dan pembiasaan. Semua itu dilakukan demi meningkatkan efisiensi dan produktifitas.

Rahmat Gobel menekankan pentingnya budaya mencipta ini agar tertanam kuat dalam masyarakat kita hingga ke desa-desa. Dengan demikian serbuan barang-barang asing ke -Indonesia tidak menjadi ancaman serius.

Justru akan bersaing dalam menciptakan kualitas. Dari situlah menjadi tugas negara untuk menegakkan SNI (Standar Nasional Indonesia).

Nasihat mencipta itu, disaat, dimana bangsa ini sangat konsumtif dan begitu tergantung pada produk-produk asing; jelas sangat relevan dan urgen. Betapa tidak, pasca diterapkannya ACFTA (Asean China Free Trade Area) serbuan barang-barang China semakin kencang membanjiri pasar-pasar Indonesia.

Lihatlah juga dijalanan kota-kota besar di Indonesia, betapa kota-kota itu telah menjadi tempat pembuangan sampah-sampah industri otomotif Jepang, Korea, dan Amerika. Tanpa sadar kita telah dicekoki dengan mobil baru nan mewah. Kita dipaksa “kredit” mobil baru, motor baru dengan DP yang rendah.

Lalu, mereka memaksa kita bekerja keras siang malam untuk membayar piutang-piutang yang mereka tebar. Mereka menjerat kita dengan utang-utang itu. Mereka sedot uang-uang kita di Bank-Bank.

Lambat tapi pasti, kehadiran mobil baru dan motor baru yang masih berstatus “kreditan” itu telah menjadi “sampah kota” yang merepotkan kita semua sebagai bangsa.

Ruang-ruang publik menjadi sumpek, kadar CO di udara tinggi, kenyamanan kota menjadi hilang karena telah mereka rampas. Konsumsi BBM menjadi meroket, dan tentu saja tingkat kesehatan masyarakat menurun karena polusi dan stres akibat kemacetan kota.

Lalu dimanakah negara itu, para pemerintah itu? Wallahu a’ lam