Kiprah UKM LPPMD Unpad Mencerdaskan Warga Terpinggirkan

Menggelar Sekolah Gratis, Ajari Anak –anak Soft Skill

Jajaran pengurus dan anggota UKM LPPMD Unpad saat menggelar evaluasi program pengabdian masyarakat. (DEDE SUHERLAN/JABARTODAY.COM)

JABARTODAY.COM – JATINANGOR

KEPEDULIAN terhadap sesama sangat dibutuhkan saat sebagian masyarakat yang hidupnya terpinggirkan jumlahnya semakin membengkak. Langkah itu dilakukan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD) Unpad. Bagaimana kiprah lembaga ini saat terjun ke tengah masyarakat?

SAAT JABARTODAY.COM  bertandang ke LPPMD Unpad, akhir Agustus lalu, Sekretariat LPPMD Unpad yang terletak di kompleks kesekretarian UKM Unpad Jatinangor, tampak sepi. Maklum sebagian besar mahasiswa masih mudik lebaran. Hanya terlihat dua aktivis LPPMD yang tengah sibuk membereskan ruangan dan dokumen-dokumen penting di UKM itu.

Kendati dokumen-dokumen penting di LPPMD tampak berserakan di sembarang tempat, namun jangan anggap UKM ini tidak memiliki program yang terencana secara matang. Sebagai lembaga yang melakukan pengkajian terhadap berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat, LPPMD tak sekadar terpaku pada penela’ahan. UKM ini juga terjun langsung terlibat dalam mencari solusi penyelesaian berbagai persoalan di tengah warga.

Sejak Oktober 2009, LPPMD Unpad meluncurkan program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi.

“LPPMD Unpad memiliki sekolah binaan atau dalam istilah kami biasa disebut sekolah rakyat yang terletak di Desa Jatiroke, Kecamatan Jatinangor. Saat ini sebanyak 30 anak mengikuti program pendidikan di sekolah rakyat. Kami tidak memungut biaya apapun alias gratis terhadap anak yang mengikuti program itu,” kata Kepala Divisi PendidikanLPPMD Unpad, Rendra Priatno.

Rendra mengatakan, UKM yang diketuai oleh Rina Nurjanah itu, sengaja menyelenggarakan sekolah rakyat secara gratis. Tujuannya tentu saja sangat mulia, yaitu ingin memasilitasi anak-anak usia SD yang berasal dari kalangan tidak mampu agar bisa mengenyam pendidikan secara layak dan terprogram.

Kata dia, selain mendapat bimbingan pelajaran umum seperti matematika dan bahasa Inggris, anak-anak yang mengikuti sekolah rakyat juga dibekali dengan soft skill, seperti keterampilan beretorika dan menulis.

“Siapapun anak-anak yang berasal dari kalangan tidak mampu bisa mengikuti kegiatan pendidikan yang kami selenggarakan. Biasanya, kami menyelenggarakan sekolah rakyat setiap hari Rabu selama dua jam. Guru-guru yang menjadi pembimbing di sekolah rakyat juga berasal dari LPPMD. Mereka adalah mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan di Unpad,” ujarnya.

Dikatakan, sejak sekolah rakyat digulirkan pada akhir 2009 lalu, tanggapan dari masyarakat Jatiroke terhadap program itu sangat antusias. Terbukti, saat pertama kali muncul, sebanyak 18 anak usia SD di Jatiroke terdaftar menjadi peserta sekolah rakyat.

Anggota LPPMD Unpad, Rohman, mengungkapkan, kurikulum pendidikan di sekolah rakyat didesain berbeda dengan kurikulum yang digunakan di sekolah umum. Dalam pendekatan kegiatan belajar mengajar (KBM) misalnya, siswa tidak terpaku untuk duduk di bangku dan mendengarkan ceramah dari guru.

“Agar lebih menarik, sekali-kali kami menyelenggarakan pembelajaran dengan metode game. Ternyata cara itu lebih efektif untuk menarik siswa mengikuti pelajaran. Selain itu, guru-guru di sekolah rakyat juga ditugaskan secara bergiliran. Itu dimaksudkan agar anak-anak tidak bosan karena  berhadapan dengan guru yang itu-itu saja,” katanya. (DEDE SUHERLAN)

Related posts