
Milad ke-54 DMI: Mengembalikan Masjid sebagai Rumah Peradaban
Oleh: Fahrus Zaman Fadhly, Sekretaris Bidang Kajian dan Penelitian MUI Kabupaten Kuningan
Di antara sayup adzan dan embun yang belum kering, Kabupaten Kuningan mencatat sejarah kecilnya sendiri. Puluhan ribu anak dari ujung Barat di Cigugur sampai timur di Cibingbin, serentak melangkah ke masjid. Bukan karena paksaan. Bukan karena lomba. Tapi karena ada yang memanggil mereka dengan cara yang berbeda: dengan cinta.
Itulah pemandangan pada “Sholat Shubuh Berjamaah 54.000 Anak Kuningan“, puncak peringatan Milad ke-54 Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Kuningan. Angka 54.000 sengaja dipilih. Ia cerminan usia DMI. Tapi lebih dari itu, ia adalah janji bahwa Kuningan serius menyiapkan generasi.
Masjid yang Kehilangan Anak
Kita harus jujur. Dalam dua dekade terakhir, masjid kita mengalami krisis yang senyap: kehilangan anak-anak. Anak-anak lebih banyak mengenal suara notifikasi HP daripada suara iqamah. Lebih hafal karakter game daripada nama-nama sahabat. Bukan karena mereka benci masjid. Tapi karena kita, orang dewasa, sering membuat masjid terasa asing bagi mereka.
Ada masjid yang terlalu steril. Penuh tulisan larangan. “Dilarang lari”, “Dilarang bicara”, “Anak-anak shaf paling belakang”, “Dilarang tidur di masjid” dan sebagainya. Wajar jika anak kemudian memilih bermain di teras, bukan di dalam. Ada pula masjid yang terlalu membiarkan. Anak dibiarkan ribut tanpa arah. Orang dewasa risih. Anak bingung. Akhirnya sama-sama tidak nyaman.
Di sinilah pentingnya gagasan yang disampaikan Ketua DKM Masjid Al-Ashri, Perumahan Alam Asri, Ustadz Dian Sunandar dalam tausiyah Milad: “Menjadikan Masjid Ramah Anak“. “Ramah bukan berarti bebas. Ramah artinya mengarahkan dan membimbing,” tegasnya. Mengarahkan artinya memahami fitrah. Anak tidak bisa diminta diam 30 menit. Energinya harus disalurkan. Alih-alih membentak, sediakan pojok menggambar masjid. Alih-alih mengusir, bisikkan: “Nak, di mihrab kita jaga adab ya. Nanti di luar kita main.”
Membimbing artinya memberi ruang tumbuh. Libatkan anak jadi muadzin kecil. Beri ia kepercayaan baca doa. Apresiasi dengan stiker “Jagoan Shubuh”. Karena anak yang merasa penting di masjid, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab atas masjid.
54.000: Ikhtiar Peradaban
Yang membuat acara DMI Kuningan ini berbeda adalah skalanya dan caranya. Tidak dipusatkan di satu lapangan atau masjid besar. DMI memilih jalan desentralisasi. Setiap masjid dan mushola di 32 kecamatan menjadi titik kumpul. Jika anak-anak ke masjid, ibu dan bapaknya akan turut mengantarkan ke masjid dan sholat shubuh berjamaah pula.
Keputusan ini sangat strategis. Pertama, ia memudahkan akses. Anak tidak perlu naik mobil jauh. Cukup jalan kaki ke masjid dekat rumah. Kedua, ia memaksa setiap DKM untuk siap. Dari toilet yang bersih, tempat wudhu yang tidak terlalu tinggi, sampai menu sarapan setelah sholat.
Rangkaian acaranya sederhana tapi padat makna: Sholat Shubuh berjamaah, kultum 7 menit bertema “Aku Anak Masjid”, sarapan bersama, lalu games edukasi tentang kisah nabi. Tidak ada pidato panjang. Tidak ada seremonial bertele-tele. Karena targetnya jelas: menanamkan kebiasaan, bukan sekadar euforia.
Angka 54.000 menjadi tamparan sekaligus harapan. Tamparan, karena ia menguji keseriusan kita. Mampukah kita mempertahankan 10% dari jumlah itu untuk istiqomah shubuh sebulan kemudian? Harapan, karena ia membuktikan satu hal: orang tua Kuningan masih percaya, masa depan anaknya ada di masjid.
Selamat Milad ke-54, DMI Kabupaten Kuningan
Di usia 54 tahun, DMI Kabupaten Kuningan di bawah kepemimpinan tokoh pendidikan, Dr. KH. Ugin Lugina, M.Pd., memilih untuk tidak menua. Alih-alih menggelar tasyakuran formal, DMI memilih turun ke akar rumput. Memanggil anak-anak. Membersihkan sajadah untuk mereka.
Selamat Milad. 54 tahun adalah usia yang matang. Cukup lama untuk belajar dari jatuh bangun. Cukup dewasa untuk memahami bahwa dakwah masjid tidak cukup hanya dengan ceramah. Ia harus dengan keteladanan dan fasilitas.
Terima kasih kepada seluruh pengurus DMI Kuningan, para takmir, marbot, dan relawan yang begadang menyiapkan acara ini. Terima kasih karena telah membuktikan bahwa masjid masih relevan. Bahwa masjid masih bisa menjadi magnet bagi generasi.
Semoga Milad ini menjadi titik balik. Bukan puncak. Dari 54.000 ini, semoga lahir 5.000 remaja masjid yang aktif. Dari 5.000 itu, semoga lahir 500 pengurus DKM masa depan. Dan dari 500 itu, semoga lahir para pemimpin Kuningan yang takut kepada Allah dan cinta kepada rakyatnya.
Tiga PR Besar Setelah Subuh
Agar semangat ini tidak padam, ada tiga pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan bersama:
Pertama, Benahi Fisik Masjid. Masjid ramah anak harus dimulai dari yang kasat mata. Tangga wudhu untuk anak. Tempat gantung tas dan sandal yang rapi. Pojok baca dengan buku cerita nabi bergambar. Lampu yang hangat, bukan yang menyilaukan. Karpet yang tidak membuat anak kedinginan saat sujud. Hal kecil, tapi menentukan apakah anak mau kembali atau tidak.
Kedua, Upgrade SDM Takmir. Kita butuh DKM yang melek psikologi anak. Yang tahu cara menegur tanpa melukai. Yang bisa bercerita 7 menit dan membuat anak tertawa sekaligus meneteskan air mata. Kita butuh marbot yang hafal nama anak-anak di lingkungannya. Karena anak akan datang ke tempat di mana ia merasa dikenal.
Ketiga, Jaga Konsistensi Program. Jangan biarkan masjid kembali sepi setelah Milad. Ciptakan agenda rutin: “Ahad Ceria” tiap minggu, “TPQ Gratis” tiap sore, “Tabungan Amal Anak”, “Lomba Adzan”, “Lomba Menggambar Masjid”. Beri anak alasan untuk rindu ke masjid. Karena cinta tidak tumbuh dari satu kali pertemuan.
Epilog
Rasulullah pernah membiarkan Hasan dan Husain bermain di atas punggungnya saat sujud. Para sahabat bertanya. Beliau menjawab, “Anakku ini sedang bermain.” Itu pelajaran penting. Masjid di zaman Nabi adalah ruang yang hidup. Ada sholat, ada musyawarah, ada anak bermain, ada yang iktikaf. Ia bukan museum.
Kuningan hari ini sedang mencoba menghidupkan kembali ruh itu. Melalui 54.000 anak yang belajar bahwa hari paling baik dimulai dengan sujud. Wahai para orang tua, titipkan anak-anak kita pada subuh. Karena dunia akan terus menarik mereka ke layar dan ke malam. Tapi jika hati mereka sudah pernah merasakan nikmatnya shaf shubuh, insyaAllah mereka akan selalu menemukan jalan pulang ke masjid.
Sekali lagi selamat untuk DMI Kabupaten Kuningan. Terima kasih telah mengingatkan kami: membangun peradaban tidak dimulai dari gedung megah, tapi dari seorang anak yang belajar berwudhu dengan benar. Semoga Allah mencatat setiap langkah kecil itu sebagai amal jariyah. Untuk DMI, untuk Kuningan, untuk Indonesia yang kita cintai. Wallahu a’lam bishawab.
Kuningan, 26 Juli 2026.