Thursday , 30 January 2020
Home » Ekonomi » Ini Kendala Penyebab Perbankan Syariah Tumbuh Perlahan

Ini Kendala Penyebab Perbankan Syariah Tumbuh Perlahan

(jabartoday.com/net)

JABARTODAY.COM – BANDUNG — Secara perlahan, industri jasa keuangan syariah (IJKS) mulai dikenal publik tanah air, tidak terkecuali Jabar. Seiring dengan hal itu, IJKS pun, satu di antaranya perbankan, mulai menunjukkan perkembangan dan pertumbuhannya,

“Secara keseluruhan, perbankan syariah di Indonesia menunjukkan pertumbuhan. Tapi, masih tergolong lambat,” tandas Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 2 Jabar, Sarwono, pada Silaturahmi Media Sareng OJK di Kantor OJK Regional 2 Jabar, Jalan Ir H Djuanda Bandung, Rabu (2/5).

Sarwono mengemukakan, secara nasional, asset perbankan syariah, baik bersifat bank umum syariah maupun Unit Usaha Syariah (UUS) mencapai Rp 435 triliun. Lalu, total nilai pembiayaan, lanjutnya, sebesar Rp 291 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp 341 triliun.

Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan pertumbuhan perbankan syariah cenderung lambat jika perbandingannya dengan perbankan konvensional. Dijelaskan, sejauh ini, perbankan syariah di Indonesia belum memiliki produk yang inovatif dan berbeda dengan konvensional. Artinya, terangnya,  seluruh produk dan pasar perbankan syariah nyaris tidak berbeda dengan perbankan konvensional. “Ini berat karena model dan pasarnya tidak berbeda jauh dengan perbankan konvensional,” tukasnya.

Sebagai contoh, sebutnya, dalam hal pembiayaan, masih didominasi sektor konsumsi, semisal rumah tangga, yaitu 40,67 persen. Selain itu, katanya, produk DPK pun masih didominasi dana mahal, yaitu deposito, sebesar Rp 196 triliun, sementara dana murah, tabungan dan giro, lebih kecil, masing-masing Rp 100,83 triliun serta Rp 39,36 triliun. Hal itu, ucapnya,buat biaya operasional menjadi tinggi.

Kendala lainnya, tambah Sarwono, perbankan syariah pun belum didukung teknologi yang mumpuni. Ini berpengaruh, ujarnya, pada pertumbuhan nasabah. Termasuk, sahutnya, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang juga belum mencukupi. “Kondisi-kondisi itu membuat perbankan syariah memiliki pekerjaan rumah besar dan berat. Karenanya, perbankan syariah perlu melakukan berbagai inovasi dan pembenahan agar pertumbuhannya lebih cepat,” tutup Sarwono.   (win)