Home » Hukum » Ojang Ikhlas Terima Vonis 8 Tahun Penjara

Ojang Ikhlas Terima Vonis 8 Tahun Penjara

Bupati Subang nonaktif Ojang Sohandi berbincang dengan jaksa penuntut umum usai persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung, Rabu (11/1). Ojang divonis 8 tahun penjara. (jabartoday/avila dwiputra)

JABARTODAY.COM – BANDUNG Usai divonis delapan tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Rabu (11/1), Bupati Subang nonaktif Ojang Sohando mengaku, menerima dan menghormati keputusan itu, serta akan melaksanakan hukuman dengan ikhlas. “Saya bersyukur. Apapun keputusan majelis saya terima, akan saya laksanakan,” ujar Ojang, usai persidangan.

Dirinya pun berpesan kepada kepada Pelaksana Tugas Bupati Subang untuk meneruskan pembangunan di Subang, dan menginginkan apa yang menimpa dirinya tak terulang kembali. Ojang juga berharap, dengan langsung menerima putusan tersebut, kondisi di Subang dapat kembali normal, dan pemerintahan berjalan seperti sediakala. “Semoga setelah ini, keadaan kembali normal. Dan, para PNS tidak tersakiti,” harap dia.

Ojang sendiri dijatuhi hukuman delapan tahun penjara oleh majelis hakim karena terbukti melakukan suap terhadap dua jaksa yang berdinas di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Deviyanti Rochaeni dan Fachri Normallo.

Majelis hakim menilai Ojang melanggar tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a jo. UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, yang tercantum di dakwaan primair.

Dirinya juga terbukti melanggar tindak pidana yang tercantum dalam dakwaan kedua, yakni Pasal 12b UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP. Dan, dakwaan ketiganya, yaitu Pasal 11 UU No 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bahkan, Ojang pun dianggap telah melakukan pencucian uang, yang dibuktikan dalam Pasal 3 UU No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Dalam dakwaan kedua, mantan ajudan Eep Hidayat diduga menerima gratifikasi yang jumlahnya mencapai Rp 38.293.000.000 dari sejumlah pihak. Sementara itu, dalam dakwaan ketiga, jaksa menilai Ojang menerima uang Rp 300 juta dari Elita Budiarti, Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan yang juga Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. Pemberian itu diduga diberikan karena jabatannya sebagai bupati.

Untuk pencucian uang, jaksa ang yang diperoleh Ojang diduga disamarkan, di antaranya untuk membeli sejumlah tanah beserta bangunan, membeli sapi 30 ekor, mobil, serta memberi uang kepada Eep Hidayat (mantan Bupati Subang) sebesar Rp 2, 491 miliar, memberi uang kepada anggota Komisi A dan D DPRD Kabupaten Subang sebesar Rp 1.948.756.000, hingga membeli perangkat kampanye sebesar Rp 1,681 miliar.

Kuasa hukum Ojang, Rochman SH mengungkap, vonis delapan tahun penjara dinilai cukup ringan mengingat dakwaan berlapis dari jaksa. Apalagi, Ojang juga dijerat TPPU, yang hukuman minimalnya empat tahun penjara. “Melihat terdakwa TPPU lain yang divonis di atas sepuluh tahun, kami menganggap putusan ini sudah yang terbaik bagi Pak Ojang,” urainya.

Belum lagi, sejumlah aset yang sebelumnya disita karena dianggap hasil tindak pidana korupsi, dikembalikan kepada kliennya, membuat pihaknya mengambil langkah tersebut. Apalagi, sejak awal Ojang sudah akan menerima apapun vonis dari majelis hakim kepada dirinya tersebut. “Ya, mengingat dakwaan berlapis dengan tuntutan jaksa sembilan tahun penjara, Pak Ojang sudah akan menerima apapun yang diberikan oleh majelis,” tandas Rochman. (vil)

Komentar

komentar