Home » Hukum » Korban Fedofilia Berpotensi Jadi Pelaku

Korban Fedofilia Berpotensi Jadi Pelaku

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jabar Kombes pol Pramujoko (kiri) dan Keapal Bidang Humas Polda Jabar Kombes pol Martinus Sitompul (tengah) memberikan keterangan pers terkait kegiatan Bid Dokkes Polda Jabar, Selasa (7/10). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jabar Kombes pol Pramujoko (kiri) dan Keapal Bidang Humas Polda Jabar Kombes pol Martinus Sitompul (tengah) memberikan keterangan pers terkait kegiatan Bid Dokkes Polda Jabar, Selasa (7/10). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Mengantisipasi korban fedofilia menjadi pelaku, Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Jawa Barat bekerjasama dengan psikolog dalam menangani para korban pencabulan tersebut. Selain itu, Polda juga menggandeng Dinas Kesehatan kabupaten/kota di wilayah Tatar Pasundan.

“Ketika ada kejadian, di situ tim kita akan turun dan melibatkan Dinkes yang ada di sana. Setelah mereka bisa mengerjakan, baru kita mundur karena itu bukan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kita lagi,” ujar Kepala Bidang Dokkes Polda Jabar Komisaris Besar dr. Pramujoko, di Aula Bid Dokkes Polda Jabar, Selasa (7/10/2014).

Mengapa pihaknya begitu peduli dengan para korban? Pramujoko memiliki jawabannya. Ia berpendapat, bahwa para korban fedofilia berpotensi besar melakukan apa yang dialami dirinya. Pasalnya, terang Pramujoko, karena korban fedofilia dapat rendah diri, tidak berani ke lawan jenis. “Anak yang jadi korban cenderung menjadi tidak percaya diri, pemurung, dan rentan menjadi pelaku fedofilia juga ke depannya,” jelasnya.

Saat penanganan kasus fedofilia dengan tersangka Emon, di Sukabumi, beberapa waktu lalu, Dinkes diberikan porsi untuk menangani ratusan anak yang disinyalir menjadi korban kelainan Emon. Emon, dulu korban juga awalnya. Makanya dengan pengetahuan itu, ke depan setiap korban itu kita lakukan penanganan secara psikologi, kita kembalikan kepercayaan dirinya,” papar Pramujoko.

Dirinya mengaku, hingga kini belum ditemukan rentang waktu korban bisa menjadi pelaku fedofilia. Sejauh ini, Pramujoko menyebut, baru ditemukan fakta, jika korban bisa menjadi pelaku di kemudian hari. (VIL)

Komentar

komentar