Friday , 13 December 2019
Home » Headline » Gempa Aceh 2004 & 2012 Berbeda Jauh

Gempa Aceh 2004 & 2012 Berbeda Jauh

Selamatkan Diri Pasien dan keluarga pasien rumah sakit Materna, berhamburan ke halaman rumah sakit ketika terjadi gempa, di Medan, Sumut, Rabu (11/4). Gempa berkekuatan 8,5 SR berpusat di 434 kilometer barat daya Meulaboh dan sekitar 443 kilometer dari Banda Aceh, juga berdampak ke wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu dan Lampung. (FOTO ANTARA/Irsan Mulyadi)

JABARTODAY.COM – JAKARTA

Gempa Aceh 2004 dan gempa Aceh 2012 berbeda jauh. “Jika dulu lokasi gempa ada di sepanjang zona subduksi pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, gempa saat ini berlokasi hanya di lempeng Indo-Australia,” kata ahli tsunami, Dr Subandono Diposaptono.

“Beda jauh, dulu gempa terjadi di pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia, sekarang terjadi di lempeng Indo-Australia, atau sekitar 175 km lebih ke selatan,” kata Subandono yang juga Direktur Tata Ruang Laut dan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, Rabu malam.

Dengan demikian gempa Aceh yang terjadi kali ini merupakan gempa intraplate, bukan interplate seperti gempa Aceh berkekuatan 9,1 Skala Richter pada 26 Desember 2004. Gempa intraplate tidak menyebabkan tsunami yang besar seperti halnya gempa interplate yang berada di zona subduksi.

“Gempa Aceh 2004 menyebabkan tepian dari lempeng Indo-Australia melenting ke atas sepanjang 1.300 km tegak lurus zone penunjaman tempat lempeng samudra Hindia menyusup di bawah lempeng Eurasia (megathrust), dari mulai Simeuleu sampai Andaman dan membuat air laut surut dan kemudian menghempas ke daratan,” katanya.

Sedangkan gempa kali ini hanya menyebabkan gerakan mendatar yang menyebabkan getaran dan riak gelombang di lautan, yang kalaupun ada tsunami paling-paling tingginya hanya 10-20 cm saja atau paling tinggi tak lebih dari semeter.

Subandono juga mengingatkan pentingnya rencana tata ruang wilayah menjadi dasar dari pembangunan, khususnya di kawasan pontensial bencana gempa dan tsunami, sehingga diharapkan mampu meminimalisasi resiko bencana.

“Sayang sekali kalau kita sudah bangun kota dengan sebagus-bagusnya, tapi karena tsunami datang lagi, lalu kota kembali hancur, lalu kita harus membangunnya lagi,” katanya.

Ia mencontohkan Jepang yang dilanda gempa 9 SR pada Maret 2011 dan menyebabkan tsunami hingga 10 meter dan menewaskan ribuan korban, namun setahun setelah itu belum ada upaya rekonstruksi, karena pembangunan kembali baru akan dilaksanakan setelah semua rencana sesuai tata ruang berbasis mitigasi bencana sudah matang.

Rencana tata ruang wilayah, ujarnya, lebih penting daripada pembangunan tembok laut ataupun hutan pantai yang kurang efektif dalam meminimalisasi resiko bencana. (antaranews/D009)