Tuesday , 31 March 2020
Home » Kesehatan » FAPOC Minta Masyarakat Tak Panik Hadapi Isu Corona

FAPOC Minta Masyarakat Tak Panik Hadapi Isu Corona

JABARTODAY.COM – BANDUNG Forum Antipolitisasi Corona (FAPOC) menilai, selama ini pemangku kekuasaan di daerah kurang tepat dalam mengomunikasikan persoalan covid-19. Hal ini berdampak dengan paniknya masyarakat terhadap wabah tersebut. 

Hal ini diutarakan oleh forum yang berasal dari berbagai unsur masyarakat itu dalam aksi di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (12/3).

Maka itu, koordinator FAPOC, Idham Kholid, meminta pemerintah untuk lebih cermat dalam mengatasi persoalan ini. Menurutnya, para pemangku kebijakan ini jangan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang justru semakin menambah kepanikan di masyarakat. 

“Yang mesti panik itu pejabat, yang mesti mikir itu pemerintah, bukan kita. Warga jadi panik akibat kesalahan komunikasi mereka (pemerintah). Mereka harus mengakui ada kesalahan,” ucapnya. 

Pihaknya pun mengkritisi sikap Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang menaikkan status kesiagaan terkait wabah ini. Penetapan status Siaga I yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Jabar, dipandang Idham, menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. 

“Ini jadi bukti Pemprov Jawa Barat gagal mengantisipasi korona. Padahal kan wabahnya sudah lama, tapi justru kasus corona pertama di Indonesia ada di Jawa Barat,” katanya. 

Dia pun mengimbau agar masyarakat tenang dan tidak melakukan aksi-aksi berlebihan terkait terus menjangkitnya covid-19 di Tanah Air. Selain diminta tidak panik, warga pun didorong untuk jangan gegabah dalam bertindak terutama jika harus merugikan orang lain.

“Jangan sampai ada kepanikan di masyarakat. Hari ini terjadi kepanikan,” tukas Idham. 

Menurut dia, kepanikan terlihat dari mulai menghilangnya masker dan cairan pencuci tangan di pasaran. Tak hanya itu, menurutnya, warga yang panik pun terlihat dengan menimbun sejumlah bahan makanan. Dengan kondisi seperti ini, Idham khawatir sebagian warga bakal menghindar dari berjabat tangan akibat ketakutan tertular virus corona.

“Warga Sunda yang dikenal someah hade ka semah (ramah terhadap tamu), berubah jadi panik, saling mencurigai, salaman saja tidak mau,” pungkasnya. (*)

Baca Juga:  Lockdown di Jabar, Emil: Kita Masih Matangkan