Home » Ekonomi » Hadapi Revolusi Industri 4.0, Akuntan Harus Tingkatkan Kemampuan

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Akuntan Harus Tingkatkan Kemampuan

JABARTODAY.COM – JAKARTA Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia bekerja sama dengan Pranadipta Consulting melaksanakan Focus Group Discussion dengan mengangkat tema “Akuntasi di Era Revolusi Industri 4.0”, Rabu (19/6).

Acara yang dilaksanakan di Hotel Borobudur, Jakarta ini menghadirkan pemateri antara lain Ersa Tri Wahyuni, Ph.D, CA, CPMA, CPSAK, Angggota DSAK Ikatan Akuntan Indonesia yang juga dosen FEB UNPAD, Dr. Adis Imam Munandar, dosen SKSG UI, Danny Buldansyah, wakil direktur PT. Hutchison 3 Indonesia, serta Erick, CA, CPA, PhD., dari JMT Law House. Acara ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, peneliti, dan akuntan profesional.

Materi diawali dengan penjelasan Revolusi Industri 4.0 oleh Adis Imam Munandar. Menyambung hal ini Danny Buldansyah mengatakan, di era Revolusi Industri 4.0 mengharuskan kita untuk berinovasi dan berdaptasi untuk bisa bertahan.

“Dalam waktu yang relatif singkat Gojek dan Grab mampu mengalahkan nilai ekonomi yang dimiliki oleh Bluebird atau penyedia jasa armada taksi konvensional, padahal mereka tidak punya satupun kendaraan sebagai armadanya,” bebernya.

Senada dengan Adis. Danny juga menekankan penemuan bisnis model yang relatif baru mengharuskan setiap orang dari profesi apapun harus menjawabnya dengan perubahan paradigma dalam menyelesaikan masalah, termasuk dalam bidang akuntansi.

Sementara itu, Ersa Tri Wahyuni mengungkapkan, Indonesia sebagai negara dengan perkembangan start-upposisi kedua di dunia menjadi kabar gembira bagi masyarakat. Karena hal ini menandakan kreatifitas dan minat pelajar, mahasiswa dan anak muda Indonesia di bidang bisnis digital.

“Facebook memiliki nilai valuasi yang tinggi dikarenakan digital traction-nya yang tinggi. Rata-rata perusahaan digital memiliki masalah dalam menyusun laporan keuangan, dikarenakan adanya beberapa transaksi dan aset yang bingung dalam proses pencatatan laporan keuangannya. Sebagai anggota DSAK IAI, saya diminta pendapat terkait permasalahan ini,” urainya.

Dalam riset yang dilakukan olehnya, Ersa menemukan 64 persen kalangan start-upmengakui kesulitan dalam penyusunan laporan keuangan dan menganggap laporan keuangan sebagai isu yang krusial. Aplikasi Revolusi Industri 4.0 dalam bidang start-upditinjau dari sudut pandang akuntansi dan proses penyusunan laporan keuangan adalah development costyang dapat dikapitalisasi dan tidak harus di-expandasal memenuhi persyaratan yang cukup ketat sebagaimana diatur dalam PSAK untuk aset tak berwujud.

“Saat ini PSAK 19 membatasi pengakuan aset tak berwujud yang dibangun sendiri, kecuali berhasil memenuhi syarat yang ketat. Selain dari itu proses ‘bakar uang’ yang dilakukan oleh perusahaan start-upuntuk user acuititiondalam pencatatannya bisa dikapitalisasi dengan syarat adanya kepastian dan keyakinan bahwa userdari start-upitu akan menghasilkan revenue,” tambah Ersa.

Menurut Ersa, akuntan harus terus berusaha membuat dirinya relevan untuk masyarakat dan entitas bisnis. Selama akuntan mampu memberikan nilai dan berkontribusi kepada masyarakat, maka selamanya profesi ini akan terus ada. Fungsi utama seorang akuntan adalah dia harus mampu mengomunikasikan keadaan ekonomi perusahaan kepada decision maker. Akuntan harus memahami bahwa toolsyang dipakai dalam bekerja itu sudah beragam danup-to-date.

“Akuntan harus paham penggunaaan big data analyticdalam penyusunan laporan keuangan,” tukasnya.

Pada kesempatan ini, Erick menerangkan, bahwa jumlah pengguna/usermenjadi patokan yang paling penting.Hal ini guna menghitung valuebisnis digital start-upbisa dihitung dari number of users-nya. Contoh jika untuk satu useritu dinilai enam dollar misalnya, dengan asumsi number of usersGojek sejumlah 2 juta orang, maka valuebisnisnya senilai 12 juta dollar.

“Tinggal yang menjadi permasalahan apakah Number of Usersitu bisa masuk laporan keuangan? Hal itu masih menjadi perdebatan. Tentu saja dalam hal ini IAI harus menjawabnya dengan regulasi dan panduan yang memadai untuk menjawab permasalahan ini,” cetusnya.

Dahulu akuntansi menulis dengan berpatokan pada transaction base. Maka aset yang dibeli tahun 1980 dilaporan keuangan tahun 2000 nilainya masih sama dengan nilai saat transaksi. Masalah ini sudah diselesaikan dengan regulasi yang baru bahkan sekarang sudah future transaction base. Akuntan tidak lagi hanya menjadi pencatat tapi juga sebagai penilai. Dengan demikian, prinsip dan model kerja akuntan selalu berubah dikarenakan model bisnis dan ekonomi yang mengalami peningkatan dan perubahan.

“Sebagai contoh lainnya adalah permasalahan laporan keuangan Garuda tahun 2018. Garuda mencatatkan pendapatan dari penyediaan jasa wifi on boarddalam lima belas tahun kedepan dalam satu transaksi. Apabila ditinjau dari principal based, yaitu dengan melihat subtansi transaksi yang relevan dari kontrak maka hal tersebut sah dan dapat dilakukan,” tandasnya. (*)

Komentar

komentar