Dosen Unisa Bandung Kembangkan Pendampingan Holistik bagi Anak dengan HIV Berbasis Nilai Islam

Unisa Bandung
Foto: Dok. Unisa Bandung

JABARTODAY.COM, BANDUNG – – Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung menjalankan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Menjaga dengan Cinta”, yang dilaksanakan bersama dengan mitra pelaksana dari Klinik Pratama Mawar, dibawah koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, pada 13 September 2026.

Mengangkat tema pendampingan dengan pendekatan holistik bagi anak dengan HIV (ADHA) dan orang tua/ pengasuhnya, program ini memperkenalkan pendekatan bio-psiko-sosio-sipiritual yang memperluas kerangka kesehatan konvensional dengan menambahkan dimensi sosial dan spiritual sebagai bagian tak terpisahkan dari pendampingan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian yang dirancang dan dilaksanakan melalui kolaborasi tim dosen UNISA Bandung, yaitu Dr. Ami Kamila, S.ST.,M.Kes dari Sarjana Kebidanan, Rahmania Almira Fitri, S.Ds., M.Ds dari Desain Komunikasi Visual (DKV), dan Hendra Gunawan, S.Pd.,M.KM dari Sarjana Keperawatan. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa dari DKV dan Sarjana Kebidanan untuk membantu teknis pendampingan pada sesi kreatif bersama anak dan pemberian edukasi bersama orang tua/ pengasuh. Dalam pelaksanaannya, Dr. Ami Kamila, S.ST.,M.Kes, hadir langsung memimpin sesi pendampingan.

“Anak-anak ini butuh lebih dari sekedar informasi medis. Mereka butuh merasa aman, dipercaya, didukung, dan tidak sendirian,” ujar Dr. Ami, Minggu (13/09/2026)

 

Belajar Mendampingi, Bukan Menghakimi

Sesi pendampingan berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Anak-anak dikenalkan pada media storybook atau buku cerita bergambar yang dirancang berjenjang sesuai usia, membantu proses pemahaman kondisi kesehatan dilakukan secara bertahap dan aman secara psikologis.

Visualisasi melalui gambar dan cerita menjadi alat bantu utama dalam menjelaskan konsep-konsep yang sulit dipahami secara verbal.

“Karena topik ini sensitif, kami banyak mengandalkan ilustrasi dan cerita. Justru dari situ muncul kedekatan dan rasa aman,” ujar Dr. Ami.

Program ini turut menghadirkan psikolog dan tenaga kesehatan Klinik Mawar yang mendampingi penuh setiap sesi, memastikan prinsip kerahasiaan dan perlindungan psikologis anak sebagai kelompok rentan tetap terjaga.

Selain pendampingan anak, program ini turut membuka ruang diskusi kelompok bagi orang tua/caregiver untuk saling menguatkan.

“Topik ini sering dianggap tabu, bahkan oleh orang tua sendiri. Tapi kami melihat mereka terbuka dan siap belajar,” tambahnya.

Perancangan storybook ini digarap langsung oleh Rahmania Almira Fitri, S.Ds., M.Ds., anggota tim dari bidang Desain Komunikasi Visual, yang merancang buku bergambar berjenjang sesuai usia anak.

“Anak-anak tidak selalu bisa mengungkapkan perasaan lewat kata-kata, apalagi soal hal seberat ini. Makanya kami membuat media yang bisa ‘bicara’ lewat gambar dan warna dulu, supaya mereka merasa aman untuk mulai bercerita dengan cara mereka sendiri,” ujar Rahmania.

Ia menambahkan, proses menggambar bersama juga menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan menjelaskan secara verbal.  Menggambar salah satu media berkomunikasi dalam bentuk visual kepada orang lain tentang apa yang sedang dialami atau dirasakan.

“Yang paling berkesan itu saat melihat mereka excited nunjukkin gambarnya sendiri. Itu tandanya mereka merasa didengar, bukan cuma diperiksa,” tambahnya.

 

UNISA Dorong Pendekatan Kesehatan yang Berlandaskan Nilai Keislaman

Kegiatan ini menjadi bagian dari misi UNISA Bandung memperkuat kontribusi akademisi dalam pengabdian yang berbasis nilai kemanusiaan secara holistik dan berkelanjutan, selaras dengan identitas UNISA Bandung sebagai institusi berbasis Al-Islam Kemuhammadiyahan.

“Kami percaya nilai-nilai seperti kejujuran, sabar, dan ukhuwah bukan pelengkap, tapi fondasi dalam mendampingi anak dan keluarga menghadapi kondisi kesehatan jangka panjang,” ujar Dr. Ami.

Program ini diharapkan menjadi model pendampingan yang dapat direplikasi oleh institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan lain.

“Dari ruang sederhana di Klinik Mawar, kami melihat anak-anak yang mulai berani bermimpi lagi. Itu cukup membuktikan bahwa pendampingan, sekecil apa pun, bisa menggerakkan hati,” tambahnya. [ ]

Related posts