Saturday , 23 November 2019
Home » Headline » DKM Al-Ashri Studi Banding ke Masjid Jogokarian

DKM Al-Ashri Studi Banding ke Masjid Jogokarian

Rombongan takmir dan jamaah Masjid Al-Ashri Perum Alam Asri melakukan studi banding ke Masjid Jogokarian, Yogyakarta, Sabtu (15/6/2019).

JABARTODAY.COM-YOGYAKARTA. Sebanyak 18 orang pengurus dan jamaah Masjid Al-Ashri Perum Alam Asri Kuningan melakukan studi banding tentang manajemen masjid ke DKM Jogokarian, Yogyakarta, Sabtu (15/6/2019). Sebelum bertolak ke Yogyakarta, para pegiat masjid ini bersilaturrahim kepada Habib Quraisy Baharun, Pendiri Pondok Pesantren As Shidqu, Sampora, Kuningan, Jumat (14/6/2019) sore.

Rombongan Al-Ashri tiba di Masjid Jogokarian, Yogyakarta pada Jumat (14/6/2019) pukul 23.05 WIB. Setelah tidur beberapa saat, pada pukul 02.40 WIB, para peserta rombongan menjalankan shalat qiyamul lail, menyimak kajian, sahur bersama, sholat shubuh berjamaah dan ceramah subuh. Usai sholat subuh, rombongan disambut oleh perwakilan takmir Masjid Jogokarian, Ustadz Rosidi.

Tidak saja dari Kuningan, Masjid Jogokarian juga kedatangan tamu dari takmir masjid di Depok dan Demak. Kepada para tamu, Ustadz Rosidi mengungkapkan sejarah singkat berdirinya Masjid Jogokarian yang sejatinya diangkat dari nama kampung Jogokarian. Berdiri 1966 dan mulai digunakan pada 1967.

“Semula, kampung Jogokarian ini merupakan basis PKI. Betul-betul awam dalam beragama. Jauh dari nuansa religius. Untuk bisa menjadi seperti sekarang, takmir masjid membutuhkan waktu 50 tahun, sehingga takmir memiliki visi sebagai “pegawai Allah” dan secara totalitas melayani seluruh kepentingan jamaah,” tutur Ustadz Rosidi.

Ustadz Rosidi menceritakan, Jogokarian aslinya kampung abangan. Sebelum ada masjid, ada lapangan semi yang biasa digelar ketoprak, semacam seni pentas drama tradisional yang dibina oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), salah satu organisasi underbouw PKI.

“Semangatnya adalah mengembalikan warga ke Mesjid. Door to door mengajak warga ke mesjid. Jauh dari kehidupan religius. Setelah berkhidmat lama untuk jamaah, pada 2016 mendapat penghargaan sebagai masjid percontohan nasional,” ujarnya.

Para takmir dan jamaah Masjid Al-Ashri, Kuningan berpose bersama begitu tiba di Masjid Jogokarian, Yogyakarta, Jumat (14/6/2019) malam.

Setiap tahun, ujarnya, ada sekitar 13-18 ada program bedah rumah jamaah. Bahkan, dalam waktu dekat takmir masjid Jogokarian akan membangun rumah warga yang dihuni 4 kepala keluarga. Lantai satu akan digunakan untuk usaha, sementara lantai dua akan digunakan untuk hunian bagi empat KK tersebut.

“Yang penting bagaimana jamaah senang datang dan sholat berjamaah di masjid. Sebuah masjid disebur makmur bila orang-orang senang dan betah berlama-lama di masjid. Masjid yang makmur, karena kemanfaatan dan keberkahannya. Indikator penting kemakmuran mesjid adalah seberapa banyak jamaah sholat shubuh,” tambahnya.

Ustadz Rosidi, takmir Masjid Jogokarian, Yogyakarta saat menjelaskan manajemen masjid sesuai fungsi asalnya, sebagai pusat pelayan jamaah dan pusat budaya dan ilmu pengetahuan, Sabtu (15/6/2019).

Apa yang harus dilakukan agar masjid jadi makmur? Yang pertama dilakukan adalah merubah mindset para takmir bahwa masjid seluruhnya adalah milik Allah ta’ala. Tidak boleh ada makhluk yang memosisikan dirinya sebagai penguasa masjid.

“Kami sebagai takmir sejatinya adalah pegawai Allah yang mengurus rumah-Nya di muka bumi. Mengurus masjid itu bukan sambilan, atau sekedar aktifitas sosial kemasyarakatan. Ini aktifitas yang memerlukan totalitas. Kalau kita bekerja pada Allah, Allah akan menggaji kita dengan maksimal. Sedang bila kita bekerja pada manusia, maka manusia akan menggaji kita dengan minimal. Allah yang akan mencukupi anggaran yang dibutuhkan pegawai-Nya, dalam mengurus rumah-Nya,” ujar Ustadz Rosidi yang telah 10 tahun berkhidmat sebagai takmir Masjid Jogokarian yang masyhur itu.

Lebih lanjut Ustad Rosidi menekankan bahwa masjid itu mesti memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat, bukan menjadi beban masyarakat.

“Takmir masjid itu adalah pelayan jamaah, khadimu dhuyufullah, takmir bukan penguasa masjid,” tegasnya.

Ketua rombongan pengurus dan jamaah Masjid Al-Ashri, Ustadz Yogi Tyandaru mengungkapkan rasa syukurnya bisa datang ke Masjid Jogokarian dan belajar banyak tentang manajemen masjid sehingga sesuai dengan fungsi aslinya. Tidak saja sebagai pusat peribadahan tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan ummat baik dari aspek pendidikan, sosial dan ekonomi.

“Sejak Nabi saw mendirikan Masjid Quba di Madinah, fungsi masjid itu  sebagai pusat pengembangan peradaban ummat. Masjid menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan,” ujar Ustadz Yogi yang juga Direktur Utama Fajar Toserba, Kuningan. (ruz).