Tuesday , 26 May 2020
Home » Ekonomi » Dibayangi Kredit Macet Tinggi, Aset BPR Capai Belasan Triliun

Dibayangi Kredit Macet Tinggi, Aset BPR Capai Belasan Triliun

OJKJABARTODAY.COM – BANDUNG

Keberadaan Bank Perkreditan Rakyat memang dapat menunjang terjadinya pergerakan ekonomi. Itu karena penyaluran kredit dapat lebih menjangkau daerah-daerah  yang selama ini belum tersentuh perbankan konvensional dan syariah.

Tidak heran, secara umum, kinerja BPR, khususnya, di Jabar, hingga April 2014, menunjukkan tren yang masih cukup positif. “Itu tercermin pada naiknya aset, dana pihak ketiga (DPK), dan penyaluran kredit yang tumbuh lebih tinggi daripada pencapaian akhir 2013,” tukas Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kantor Regional II Jabar, Anggar Nuraini, belum lama ini.

 Anggar meneruskan, dalam hal aset, hingga April 2014, pihaknya mencatat aset BPR mencapai Rp 13,16 triliun atau lebih tinggi 12,77 persen daripada periode yang sama tahun lalu. Jika perbandingannya dengan pencapaian Desember 2013, aset BPR hingga April 2014  tumbuh 12,13 persen.

Begitu pula dalam hal DPK. Anggar menyebutkan, hingga April 2014, total DPK BPR di Jabar sebanyak Rp 9,23 triliun. Nilai itu, lanjut dia, lebih tinggi 13,90 persen daripada periode yang sama 2013. “Sebesar 72,71 persen DPK BPR di Jabar adalah deposito, yang hingga April 2014 tumbuh positif sebesar 15,30 persen. Sisanya, berupa tabungan. yang kondisinya, justru turun 10,32 persen pada April 2014,” papar Anggar.

Kenaikan pun terjadi pada penyaluran kredit. Sejauh ini, jelas Anggar, kredit produktif masih menjadi mayoritas penyaluran pembiayaan oleh BPR. Pangsa pasarnya, ucap dia, 53 persen.  Sisanya, kata Anggar, yaitu sekitar 47 persen, adalah kredit konsumtif.

Memang, tambah Anggar, komposisi penyaluran kredit konsumtif lebih kecil daripada kredit produktif. Akan tetapi, pertumbuhan kredit konsumtif melebihi kredit produktif. “Harus hati-hati karena jika terus berlangsung, kredit konsumtif dapat menggeser kredit produktif,” sahut dia.

Selain itu, tegas dia, pihaknya pun meminta BPR di Jabar untuk lebih memperhatikan masalah Non-Performing Loans (NPL) alias kredit bermasalah. Pasalnya, terang dia, BPR di Jabar mencatat NPL yang tinggi, yaitu 5,86 persen. Angka itu, jelas dia, melebihi NPL 2013, sebesar 5,54 persen. “NPL BPR Jabar melewati NPL nasional yang besarnya 5,06 persen,” tuturnya.

Melihat kondisi itu, Anggar meminta seluruh BPR di Jabar supaya lebih meningkatkan dan memperhatikan faktor kehati-hatian. Ini supaya, sergah dia, kondisi BPR di Jabar dapat terjaga dan sehat. “Apabila BPR di Jabar sehat, itu berefek positif bagi ekonomi Jabar,” tutup Anggar.  (ADR)