Demiz Dukung Pengembangan Kesenian Tradisional Indramayu

Cawagub Jawa Barat yang juga aktor senior Deddy Mizwar berkeliling Kota Indramayu, Rabu (30/1). Salah satu tempat yang dituju adalah Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah, Desa Pekandangan, Indramayu. Kesenian tradisional ini sudah memiliki murid lebih dari seribu orang.

JABARTODAY.COM – INDRAMAYU

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan semua seni itu netral, termasuk kesenian Jaipong. Namun semuanya juga bergantung dimana dan kreativitas seniman saat dipentaskan. Hal itu ditegaskannya saat silaturahim dengan seniman dan pengurus Dewan Kesenian Indramayu (DKI) di Gedung DKI Indramayu, Rabu (30/1).

Dalam silaturahim yang berlangsung santai dan akrab, sambil duduk lesehan, itu terungkap beragam persoalan pengembangan kesenian tradisional di Indramayu. Seperti minimnya perhatian pemerintah dan kontroversi kesenian Jaipong.

Seorang peserta diskusi mengungkapkan jika selama ini beredar kabar di masyarakat tentang ketidaksetujuan Calon Gubernur Jabar petahana Ahmad Heryawan terhadap kesenian Jaipong. Mizwar yang mendampingi Heryawan dalam Pemilihan Gubernur Jabar mendatang, mengilustrasikan dengan sebuah film untuk orang dewasa, tetapi ditonton oleh anak-anak di bawah umur. Begitu juga dengan Jaipong, bergantung pada kreativitas seniman dan tempat pementasannya.

“Kang Aher bukan tidak setuju dengan Jaipong. Tetapi bagaimana kesenian itu dikemas dan di mana tempat pementasannya” ujarnya.

Pada kesempatan itu, para seniman juga meminta komitmen Mizwar sebagai budayawan, jika nanti memimpin bersama Aher, untuk mendukung pengembangan kesenian dan kebudayaan Indramayu.

“Akan sulit jika hanya dilakukan sendiri oleh para seniman atau masyarakat,” ujar Ketua Dewan Kesenian Indramayu Abdul Gani.

Menurut dia, untuk mengembangkan kesenian dan kebudayaan, perlu kerjasama yang baik antara masyarakat dan pemerintah.

Sedangkan Demiz menyebut, itu adalah kewajiban pemerintah untuk mendukung pengembangan kesenian dan kebudayaan masyarakat. Dengan menyediakan fasilitas, seperti membangun pusat kesenian dan kebudayaan, serta memberikan subsidi operasional pada tahap awal sebelum mandiri.

Fasilitas apapun yang disediakan pemerintah tidak akan berarti apa-apa, jika para seniman tidak bersungguh-sungguh berkreasi menghasilkan karya terbaiknya,” tandasnya. (AVILA DWIPUTRA)

Related posts