Friday , 6 December 2019
Home » Bandung Raya » BKPD Jabar: Jangan Tergantung Sama Beras

BKPD Jabar: Jangan Tergantung Sama Beras

Sosialisasi yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan Daerah Jawa Barat bersama mahasiswa perguruan tinggi di Bandung di Car Free Day Dago, Minggu (18/5). Kegiatan ini untuk mengurangi konsumsi beras masyarakat dan memperkenalkan alternatif pangan di luar beras. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)
Sosialisasi yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan Daerah Jawa Barat bersama mahasiswa perguruan tinggi di Bandung di Car Free Day Dago, Minggu (18/5). Kegiatan ini untuk mengurangi konsumsi beras masyarakat dan memperkenalkan alternatif pangan di luar beras. (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Mencari alternatif pangan lokal untuk mengurangi subsidi beras menjadi prioritas bagi Badan Ketahanan Pangan Daerah Jawa Barat. Maka itu, bertempat di Car Free Day Dago, Minggu (18/5/2014), BKPD Jabar mengadakan sosialisasi pangan lokal pada masyarakat.

“Kita memperkenalkan pangan lokal, contohnya, kita bawa beras, singkong goreng, dan lainnya, untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang hadir,” ujar Kepala BKPD Jabar, Lilis Irianingsih.

Menurut Lilis, sosialisasi yang dilakukan pihaknya dalam rangka mencari alternatif pangan non beras dan non terigu. “Artinya kita jangan tergantung sama beras. Karena makin lama, lahan padi makin sempit,” tukasnya.

Tak hanya itu, dari segi kesehatan, nasi juga dapat menimbulkan penyakit diabetes, karena kandungan index glikemiks. Sedangkan ubi-ubian dari singkong, terang Lilis, index glikemiks-nya rendah 50 sampai 50. ” Dia (singkong) tidak menyebabkan gula dan kadar seratnya tinggi. Untuk kesehatan bagus,” ucapnya.

Lilis menilai, masyarakat Indonesia belum terbiasa memakan makanan lain selain nasi, apalagi yang berasal dari umbi-umbian. Padahal, kata Lilis, singkong dapat diolah dengan cara lain, tidak hanya direbus. “Bisa dibikin pizza singkong, brownies singkong, dan lainnya,” paparnya.

BKPD Jabar, disampaikan Lilis, bekerjasama dengan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung, seperti Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Padjadjaran maupun Universitas Pasundan, dalam mensosialisasikan hal tersebut. Sosialisasi telah diadakan di 26 kabupaten/kota se-Jabar. “Saya lihat responnya bagus, banyak juga masyarakat yang mencicipi hasil olahan kami, mereka cukup menikmati,” tandas Lilis. (VIL)