Tuesday , 19 November 2019
Home » Teknologi » Bisnis Contact Center, Malaysia Jadi Pesaing

Bisnis Contact Center, Malaysia Jadi Pesaing

Infomedia-NusantaraJABARTODAY.COM – BANDUNG
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk telekomunikasi, memang dapat menunjang laju pertumbuhan ekonomi. Karenanya, Infomedia Nusantara, anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk atau PT Telkom Indonesia, terus melakukan berbagai upaya. Diantaranya, mengembangkan Bussiness Process Outsourcing (BPO), berupa sistem Call Center, yang memang menjadi andalan mereka.
 
“Pelayanan Call Center berkontribusi positif bagi kami. Selama ini, kontribusinya 80 persen total pendapatan perusahaan. Karenanya, tahun ini, proyeksi kami terjadi pertumbuhan 25 persen,” ujar Direktur Utama Infomedia, Joni Santoso, beberapa waktu lalu.
 
Sejauh ini, ungkap Joni, dalam menggerakkan bisnis Call Center, pihaknya sukses menggandeng ratusan korporasi, yaitu sebanyak 110 perusahaan. Menurutnya, korporasi-korporasi itu berlevel tinggi dan bergerak dalam berbagai sektor. Antara lain, asuransi, perbankan, kedirgantaraan (penerbangan), ritel, food & beverages, dan sebagainya.
 
Untuk memberi pelayanan prima kepada ratusan korporasi itu, pihaknya, sahut Joni, memiliki agen sekitar 11.000 agent. Seluruh agen itu, tuturnya, tersebar di berbagai titik, yaitu Bandung, Jakarta, Medan, Makasar, dan Surabaya.
 
Soal persaingan, Joni mengakui bahwa kondisinya semakin ketat. Untuk itu, pihaknya mendorong pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal. Joni mengatakan, di ASEAN, ada beberapa negara yang menjadi pesaing dalam hal pengembangan Call Center. “Salah satunya adalah Malaysia,” ucapnya.
 
Direktur Enterprise & Business PT Telkom Indonesia M. Awaludin mengemukakan, sebenarnya, di Indonesia, menuturkan bisnis contact center sudah lama beroperasi. Sayangnya, tukas Awaludin, di Indonesia, pertumbuhan bisnis ini tidak seperti India dan Filipina. Padahal, bisnis ini menjanjikan.
 
Gambarannya, jelas dia, di Filipina, bisnis itu mampu menghasilkan 11-12 miliar Dolar Amerika Serikat atau berkontribusi 9-10 persen GDP negara tersebut. Di Filipina, pelanggan Call Center tidak hanya perusahaan-perusahaan domestiknya, tetapi juga negara lain. “Di antaranya AS dan beberapa negara Eropa,” ucap Awaludin. (ADR)