Friday , 22 November 2019
Home » Hukum » Berlarut-larut, Tim Mediasi Sengketa Proyek GWK Mundur

Berlarut-larut, Tim Mediasi Sengketa Proyek GWK Mundur

Garuda Wisnu KencanaJABARTODAY.COM – BANDUNG

Tidak ditemukannya jalan keluar atas perselisihan antara Eddy Sukamto dan Nyoman Nuarte dalam sengketa proyek pembangunan Garuda Wisnu Kencana membuat tim mediasi mundur dari kasus tersebut.

Diutarakan Ketua Tim Mediasi Firman Turmantara, selama proses mediasi tidak ada dokumen pembuktian adanya unsur penipuan dari Nyoman Nuarta. Padahal kasus ini sudah bergulir lebih dari 3 bulan, hanya dokumen dari pihak Eddy Sukamto yang diterima.

“Kami sudah mengupayakan mediasi antara kedua belah pihak, namun tidak terdapat titik temu antara para pihak. Karena itu, kami menyatakan berhenti sebagai mediator dalam penyelesaian masalah ini,” ucap Firman di Dakken Café, Sabtu (12/7/2014).

Firman memaparkan, selama ini pihaknya hanya mendapat dokumen pendukung sepihak dari Eddy. Sementara, dari pihak Nyoman belum memberikan data atau dokumen terkait kasus tersbut meski telah dilaporkan ke ranah hukum. “Tim kami berkerja berdasarkan pemikiran kepentingan nasional terkait proyek GWK dan permintaan dari masing-masing pihak melalui anggota tim Irwan D Hadinata. Selain itu, menghindari timbulnya masalah hukum dalam proyek ini,” terangnya.

Firman menyebut, faktor Nyoman Nuarta sebagai seniman yang juga aset bangsa adalah alasan pihaknya bersedia menjadi mediator. Ditambah, Nyoman Nuarta telah menyatakan kesanggupannya untuk memberikan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan memang ditipu dan dirugikan oleh Eddy Sukamto. Bahkan, Nyoman juga berjanji menyertakan seorang anggotanya yang mengetahui masalah pembukuan dan transaksi kerja sama. “Kami menunggu beberapa bulan, tetapi dokumen tersebut tidak diberikan. Padahal dokumen itu untuk dikaji sebagai dasar adanya penipuan atau tidak,” lanjutnya.

Berdasarkan dokumen dari Eddy Sukamto, urai Firman, pihaknya dapat menyimpulkan tidak ada unsur penipuan seperti yang dituduhkan Nyoman Nuarta. Selaku mediator, dikatakan Firman, pihaknya tidak memiliki kapasitas untuk memberi kesimpulan terhadap kasus tersebut. “Kami hanya menyampaikan informasi yang terjadi selama proses mediasi. Untuk saat ini, kami tidak memperoleh bukti adanya pendzoliman, kecuali ada bukti yang diberikan,” tegasnya.

Soal nasib GWK, Firman mengaku tidak mengerti. Kapasitasnya hanya ingin menghindarkan kedua belah pihak dari masalah hukum. “Kami belum sampai upaya mempertemukan, yang penting kita kaji dulu berdasarkan dokumen yang disampaikan. Kita cari dokumen yuridis. Ternyata ini kurang afdol. Silahkan tafsirkan bagaimana kooperatif atau tidaknya,” tandas Firman. (VIL)