Bandung Tuan Rumah Road To Indonesian Coffee Festival

  • Whatsapp
jembenkpoenja.blogspot.com

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Bandung menjadi tuan rumah pelaksanaan Road To Indonesian Coffee Festival. Tumbuhnya budaya minum kopi yang disertai dengan bermunculannya suguhan kopi low prioce di Bandung menjadi alasan dijadikannya Bandung sebagai tuan rumah Road To Indonesian Coffee Festival.
Penggagas Indonesian Coffee Festival, Yanthi Tambunan, menuturkan kopi low price merupakan jalan keluar yang cerdas yang didasarkan daya beli masyarakat. “Kopi low price bermunculan di Bandung seiring dengan markanya kafe-kafe lokal yang ternyata mampu bersaing dengan kafe franchise,” kata Yanthi dalam keterangan pers di Toko You Bandung, Rabu (14/12).
Selain itu berdasarkan sejarah Bandung memiliki makna penting dalam perkembangan kopi di Indonesia. Perkebunan kopi pertama kali di Bandung dibuka oleh Peter Engelhard yang kemudian dikenal dengan java coffee.
Road to Indonesian Coffee Festival  diagendakan digelar di Cihampelas Walk 23 Desember mendatang. Sedangkan even Indonesian Coffee Festival digelar di Bali pada tahun 2012.
Menurut Yanthi even tersebut sebagai upaya edukasi bagi masyarakat untuk lebih mengenal mengenai kopi. Terlebih  Indonesia sendiri merupakan penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil dan Vietnam.
Dengan sedikitnya ada 14 jenis kopi yang dihasilkan di sejumlah daerah yang berbeda mulai dari di Jawa, Sumatera hingga Papua. Produksi kopi nasional diperkirakan lebih dari 300 ribu ton.
Dimana diestimasikan konsumsi kopi nasional sekitar 200 ribu ton. Pertumbuhan konsumsi kopi nasional diperkirakan mencapai 10 persen.
Dengan pertumbuhan konsumsi tersebut, andai 10 persen dari masyarakat Indonesia mengkonsumsi kopi, maka ekspor tidak perlu dilakukan. Kopi produksi lokal cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Adapun ekspor kopi antara lain ke AS, Jepang, Jerman, Italia dan Inggris.  Menurut Yanthi, permintaan ekspor akan selalu besar mengingat potensi pasarnya yang luas.
“Tapi biasanya kopi yang kita ekspor, justru kembali masuk Indonesia sebagai produk impor setelah diganti merek,” ungkap Yanthi. Mutu kopi Indonesia sendiri telah diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Sementara itu pemilik Kopi Aroma Bandung, Widya Pratama, mengatakan anomali cuaca saat ini menjadikan produksi kopi turun hingga 10 persen. Panen kopi di berbagai daerah banyak yang tidak berhasil akibat hujan yang turun hampir sepanjang tahun pada tahun 2011 ini.
Produksi kopi nasional diperkirakan akan terus turun pada tahun 2012 apabila kondisi cuaca tidak berubah. Beruntung produsen kppi berskala menengah seperti Kopi Aroma memiliki stok yang memadai.
“Bagi kami, penurunan hasil produksi kopi tak berpengaruh apa-apa,” tutur Widya. Menurut Widya dirinya mempunyai stok kopi yang cukup hingga 5 tahun-8 tahun mendatang.
Anomali cuaca ini menjadikan harga kopi menjadi mahal. Harga kopi saat ini sudah mencapai sekitar Rp 80 ribu/kg. (dio/fzf)

Berita Terkait