Saturday , 7 December 2019
Home » Headline » Bandung Bukan Kota Festival!

Bandung Bukan Kota Festival!

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Secara historis Kota Bandung bukanlah kota festival. Hal itu dikarenakan, Bandung tidak pernah memiliki festival yang mentradisi atau memiliki keunikan tersendiri seumur hidupnya. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Braga Festival 2012, Mochammad S. Hanief.

“Secara struktur Bandung bukanlah kota festival seperti Yogya, Lombok, dan kota lainnya di Jawa,” ujar Hanief, yang ditemui seusai acara jumpa pers Braga Festival 2012, di Hotel Gino Feruci, Kamis (13/9).

Hanief menyebutkan, beberapa kota di atas memiliki festival yang selalu diperingati masyarakat tiap tahunnya. Seperti Yogya, yang memiliki Festival 1 Suro atau Sekaten. Bahkan dirinya juga menyebut festival kejar-kejaran banteng di Spanyol. Sedangkan Bandung selama ratusan tahun berdiri, tidak memiliki festival semacam itu.

“Harus dibedakan antara festival dengan event,” tukas Hanief, saat disinggung Bandung memiliki acara musik seperti Bandung Berisik yang melegenda.

Menurutnya, festival adalah kegiatan yang melibatkan masyarakat seluruhnya, baik umum ataupun komunitas. Sedangkan, event adalah acara yang memiliki segmen dan tidak mencakup keseluruhan masyarakat pada umumnya. Dalam festival ada 3 hal utama yaitu, waktu publik, ruang publik, serta ritus atau tradisi masyarakat. Sebagai contoh festival bir Oktober Fest di Muenchen, Jerman. “Jadi jelas, orang akan kemana, dimana, dan apa yang dicarinya. Seperti Braga Festival, ya tempatnya di Braga, bukan di alun-alun,” tegasnya.

Hanya saja, dirinya mengakui, untuk masalah waktu Braga Festival masih tentatif tiap tahunnya, beda dengan festival di kota atau negara lainnya. Dituturkannya, kegiatan kali ini adalah untuk mencari konsep seperti apa Braga Festival ke depannya. Yang membuat festival tersebut memiliki ruh dan menjadi agenda tahunan yang didatangi oleh masyarakat. “Maka itu, kita libatkan masyarakat, biar mereka yang menentukan konsep acara tahun-tahun selanjutnya seperti apa. Bisa mungkin gebug-gebugan bantal atau balap motor mungkin,” tuturnya sambil tersenyum.

Untuk itu pihaknya bersama Pemerintah Kota Bandung mendirikan kampung kreatif, sebagai wadah pencarian konsep acara Braga Festival ke depannya. Dan kampung kreatif tidak akan terpengaruh dengan usainya Braga Festival yang dilaksanakan 3 hari, akhir September nanti. Jadi sampai kapan? “Sampai masyarakat bilang “give up” (menyerah). Jadi terserah mereka ampe kapannya,” imbuhnya.

Braga Festival 2012 adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Estetika Kota (Festa) Bandung dan diprakarsai oleh Pemkot Bandung. Setelah sebelumnya, diadakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan dihentikan pada 2010. Kali ini akan mengambil tema People to People, hal itu untuk menjalin silaturahmi tidak hanya dengan masyarakat lokal, bahkan internasional. Maka itu, para sister city Bandung dilibatkan dalam acara tersebut.

Dalam festival yang akan diselenggarakan pada 28-30 September 2012 tersebut, akan diisi oleh berbagai acara seperti pameran profil dan kebudayaan sister city, pertunjukan seni tradisional dan kontemporer, konser musik, pasar rakyat, kuliner, festival film indie hingga workshop. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga 23.00 WIB, akan diadakan di dua tempat, yaitu Jalan Braga dan Jalan Cikapundung Timur. (AVILA DWIPUTRA)