Friday , 22 November 2019
Home » Bandung Raya » Atasi Macet, Kota Bandung Pertimbangkan Penerapan Ganjil-Genap

Atasi Macet, Kota Bandung Pertimbangkan Penerapan Ganjil-Genap

Ganjil Genap

JabarToday.com, Bandung — Kota Bandung meraih predikat kota termacet di Indonesia versi Bank Pembangunan Asia (ADB). Wacana pemberlakuan ganjil-genap kembali muncul untuk mengurangi kemacetan sebagaimana diberlakukan di Jakarta.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengaku tidak menutup kemungkinan mengadopsi kebijakan ganjil-genap yang belum lama ini diperluas oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Menurut pria yang kerap disapa Emil ini, kebijakan ganjil genap ini bisa menjadi salah satu kebijakan andalan untuk mengurangi kemacetan di Bandung. Apalagi, kebijakan ini sudah terbukti dan teruji mengurangi kemacetan di Jakarta.

“(Termasuk ganjil genap) semua yang baik-baik kita praktikkan,” ujarnya.

Selain itu, Emil mengunkapkan tengah mempersiapkan beberapa infrastruktur transportasi umum yang nyaman dan murah. Menurutnya, transportasi publik adalah hal yang utama untuk mengatasi kemacetan.

Mantan Wali Kota Bandung itu menambahkan, bila kualitas transportasi publik sudah baik, diyakini masyarakat akan mau berpindah dari kendaraan pribadi. Salah satu contohnya adalah dengan adanya MRT di Jakarta atau KRL di Jabodetabek.

“Termasuk memperbanyak jalur-jalur kereta api, jalur pejalan kaki. Dalam 5 tahun saya memperbaiki jalur se-Jawa Barat di 27 kota/kabupaten supaya jangan manja dikit-dikit naik kendaraan pribadi,” ujarnya.

Kurangi Volume Kendaraan

Di Jakarta, penerapan perluasan ganjil genap sudah sebulan dilakukan. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengklaim ada penurunan volume kendaraan sekitar hampir 30%.

“Jadi selama sebulan kemarin untuk peningkatan jumlah penumpang angkutan umum 12% untuk TransJakarta. Kecepatan kendaraan bertambah dari 25 km/jam menjadi 28,5 km/jam. Kemudian volume lalu lintas penurunannya 29,58% hampir 30%,” ucap Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, Selasa (8/10/2019).

Untuk kualitas udara, Syafrin juga menyebut ada perbaikan. “Untuk kualitas udara untuk pm 2,5 terjadi penurunan yang signifikan untuk yang di Kelapa Gading rata-rata 22%,” kata Syafrin.

Baca Juga:  Kota Bandung Macet, Jalan Layang Bukan Solusi

Sistem perluasan ganjil genap dilaksanakan sejak 9 September 2019. Uji coba dilakukan 7 Agustus sampai 6 September 2019.

Syafrin menyebut ada peningkatan pada nilai penurunan volume kendaraan bermotor. Meski begitu, belum mencapai target penurunan volume kendaraan sebesar 40%.

“Untuk yang (saat uji coba) penurunan volume 25% sekarang 29%. Sekarang 29%. Untuk ukuran jumlah traffic, itu luar biasa,” ucap Syafrin.

Syafrin juga mengemukakan, perluasan ganjil-genap efektif. Hal ini dinilai dari kecepatan rata-rata kendaraan bermotor.

“Berhasil dari sisi kecepatan meningkat, biasanya peningkatan kecepatan nol koma sekian, kan sekarang 25 km/jam ke 28 km/jam cukup signifikan,” kata Syafrin.

Ganjil-genap adalah metode pembatasan kendaraan bermotor untuk melalui jalan tertentu, memarkirkan kendaraan, atau membeli bahan bakar kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar.

Penggunaan jalan, parkir, atau pembelian bahan bakar didasarkan plat nomor kendaraan, apakah harus menggunakannya pada hari ganjil atau hari genap. (jt2/detik/okezone).*