Friday , 22 November 2019
Home » Headline » Akar Masalah Bangsa itu Ketidakadilan

Akar Masalah Bangsa itu Ketidakadilan

JABARTODAY.COM.: JAKARTA – Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2009)  H Jusuf Kalla berpendapat bahwa akar dari masalah kebangsaan sejak dahulu hingga saat ini adalah persoalan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah, baik itu pemrintah pusat maupun pemerintah daerah.

Menurut Jusuf Kalla, ketidakadilan itulah yang kemudian melahirkan konflik yang bertebaran di seluruh Indonesia. Jusuf Kalla juga meyakini bahwa rumus itu juga berlaku umum untuk seluruh masalah atau konflik yang terjadi dibelahan bumi manapun. Ketidakadilan yang dimaksud Jusuf Kalla adalah ketidakadilan politik,  ketidakadilan sosial, maupun ketidakadilan ekonomi.

Ia mencontohkan, kasus Aceh. Menurutnya, kasus Aceh sama sekali bukan persoalan agama atau ideologi sehingga orang Aceh lantas memberontak dan mendirikan gerakan Aceh Merdeka (GAM ). “Kasus Aceh adalah karena ketidakadilan ekonomi dan politik, Aceh kaya akan hasil alam tapi hanya mendapat pengembalian yang sedikit dari pusat, orang Aceh merasa dicurangi, wajar kalau mereka marah,” jelas Ketua Palang Merah Indonesia itu.

Kalau mantan presiden Abdurrahman Wahid memecahkan masalah itu dengan memberikan Otonomi Khusus (Otsus) dengan syariah itu tidak menyelesaikan persoalan. Pasalnya karena akar masalahnya  bukan syariah tapi bersumber pada ketidakadilan pembagian hasil alam yang tidak seimbang.

Bukan hanya Aceh, kasus konflik Poso maupun Ambon, jelas Jusuf Kalla,
awalnya bukan konflik agama, tapi konflik yang diakibatkan ketidakadilan politik yang berasal dari sistem demokrasi yang terbuka. “Dahulu terjadi perimbangan antar agama, namun ketika demokrasi terbuka, wakil-wakil agama tertentu tersingkir, lalu konflik muncul karena merasa tidak terakomodasi,” jelasnya.

Contoh lainnya PRRI dan Permesta itu karena rasa keadilan yang terlukai. Bahkan DI/TII itu bukan soal agama, itu karena Kahar Muzakkar merasa tidak adil, karena bukan dia menjadi panglima justru perwira KNIL yang jadi panglima. Dia membawa bendera agama, karena agama mudah membangun solidaritas,” kata Jusuf Kalla. [far]