Ahmad Suparman, Guru SD yang Jadi Wasit Futsal FIFA (1)

  • Whatsapp

Melalui Sepak Bola Bisa Keliling Indonesia dan Melawat ke Luar Negeri

JABARTODAY.COM – JATINANGOR

Ahmad Suparman (tengah), guru SDN Ciawi, Jatinangor yang juga berprofesi sebagai wasit sepak bola nasional dan wasit futsal FIFA,bersama Iwa Cahya, guru SDN Sinarjati, Jatinangor (kiri) dan Usep Mulyana, guru SDN Mekarsari, Jatinangor (kanan). (DEDE SUHERLAN/JABARTODAY.COM)

JIKA Anda penggemar sepak bola nasional, pasti pernah melihat pria yang satu ini memimpin pertandingan sepak bola dalam Liga Super Indonesia (LSI) 2011-2012 lalu. Tak hanya itu, pria bernama lengkap Ahmad Suparman (41) yang saat ini mengajar di SDN Ciawi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang itu, juga telah berkibar sebagai wasit futsal di berbagai pertandingan internasional. Maklum, selain memiliki predikat wasit nasional, Ahmad merupakan wasit futsal federation international de football association (FIFA).

Kedekatan Ahmad Suparman dengan dunia perwasitan sepak bola  memang bukan serbadadakan. Di tengah aktivitas mengajar yang dijalani pria jebolan jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) STKIP Pasundan Cimahi ini, dia sudah malang melintang menjadi wasit sepak bola.

Tengoklah sekilas perjalanan Ahmad dalam memimpin pertandingan favorit masyarakat ini. Pada 2008 lalu, dipercaya menjadi salah satu wasit di Kejuaraan Dunia Futsal di Malaysia. Lalu,  pada 2009 menjadi wasit dalam Kejuaraan Futsal Asia di Vietnam. Pada tahun yang sama, Ahmad kembali menjadi wasit pada Kejuaraa Futsal Asean Football Federation (AFF) di Vietnam.

Tak hanya itu, untuk tingkat nasional, Ahmad didapuk untuk menjadi salah satu wasit yang memimpin pertandingan dalam LSI 2011-2012. Pertandingan LSI yang digelar di kandang Sriwijaya FC, Persipura, Persiwa, Persela, Persija, Pelita Jaya, Persiba, dan Mitra Kukar pernah diwasiti oleh Ahmad.

Selain itu, di pertandingan LSI 2011-2012 lainnya, yaitu di home base Persidafon,Persisam, Arema, PSPS, Persiram, Gresik Utd, PSMS, Deltras, dan PSAP juga pernah dipercayakan untuk dipimpin oleh Ahmad.

“Dalam satu bulan, saya biasa memimpin dua hingga tiga kali pertandingan LSI. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya bisa keliling Indonesia melalui sepak bola. Bahkan, karena profesi wasit yang saya geluti selama ini, saya pun bisa terbang ke luar negeri,” kata Ahmad, Rabu (5/9).

Tentunya, prestasi yang diraih Ahmad tak datang begitu saja. Perjalanan panjang telah dilewati oleh pria berperawakan tinggi dan besar itu. Untuk mencapai predikat wasit nasional dan wasit futsal FIFA, butuh perjuangan keras.

Ahmad menyebutkan, sejak menggeluti profesi wasit pada 2000 lalu, dia tak ingin sekadar menjadi wasit sepak bola yang biasa-biasa saja. Ternyata,  keinginannya itu berjalan sesuai rencana. Pada 2000, Ahmad meraih lisensi wasit tingkat dasar atau C3. Lalu, lisensi wasit tingkat kabupaten/provinsi atau C2 diperoleh pada 2002 dan lisensi wasit tingkat nasional atau C1 diraih pada 2004.

“Tiga lisensi wasit itu saya peroleh dalam waktu empat tahun. Melalui lisensi wasit tingkat nasional yang saya raih tujuh tahun lalu, kesempatan saya untuk merambah dunia perwasitan nasional dan internasional menjadi terbuka,” tutur Ahmad. (DEDE SUHERLAN)

Related posts