Home » Nasional » Aher Puji Kenduri Cinta Cak Nun

Aher Puji Kenduri Cinta Cak Nun

Aher di Kenduri Cinta Cak Nun - 5JABARTODAY.COM – JAKARTA

Forum Silaturahim Budaya dan Kemanusiaan “Kenduri Cinta” yang diasuh Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun di Taman Ismail Marzuni, Jakarta, Jumat (15/11) malam, kedatangan tamu yang “agak lain”.

 

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bergabung dengan para seniman, budayawan, mahasiswa, dan aktivis pergerakan lainnya pada dialog lesehan bebas itu, usai hadir ke Universitas Islam As-Syafi’iyah, Bekasi, menjadi pembicara di acara Sarasehan Nasional dan Temu Alumni dalam rangka Tasyakur ke-80 Tahun As-Syafi’iyah.

Kenduri Cinta, seperti halnya forum sosial Cak Nun lain, dikemas terbuka, non-partisan, ringan, dan diramaikan gelar kesenian lintas gender. Kenduri cinta sudah bergulir lebih 10 tahun di halaman parkir TIM.

 

Kenduri Cinta bertajuk “Syarat Rukun Bencana” edisi November 2013, dipandu langsung Cak Nun. Lesehan yang dimulai sekitar pukul 21.00 berakhir hingga Sabtu (16/11) dini hari.

 

Saat memperkenalkan tamu istimewanya, Cak Nun menyatakan, Aher adalah “Gubernur sesungguhnya”. “Tidak heran bila ia dipercaya lagi oleh rakyat Jawa Barat memimpin untuk periode kedua,” tutur Emha.

 

Narasumber dari berbagai daerah mengusung berbagai tema. Misalnya Firdaus, penulis buku, menyorot praktik berdemokrasi di Indonesia. Menurutnya, para elite politik dan pemerintahan kini telah meninggalkan nilai utama demokrasi Indonesia, yakni musyawarah. “Sebenarnya, musyawarah lebih tinggi tinggi dibanding demokrasi. Demokrasi cenderung berpegang pada angka-angka. Yang besar berkuasa, sedangkan yang kecil menjadi penonton. Sementara musyawarah, besar maupun kecil, sama-sama berperan,” papar Firdaus di hadapan ratusan hadirin.

 

Aher sebelum menyampaikan pokok pikirannya mengatakan, dirinya hadir bukan sebagai gubernur. “Saya berdiri di tengah para sahabat malam ini sebagai Ahmad Heryawan, pribadi,” tegasnya.

 

Heryawan memuji format cair Kenduri Cinta. Karenanya, nilai-nilai kebajikan dapat diterima lintas generasi dengan beragam latarbelakang dengan mudah. “Sesuatu itu memang harus dikemas menarik. Kebenaran yang dikemas buruk, kerap justru tidaki diterima orang banyak. Sementara keburukan yang dikemas menarik, justru diminati banyak orang,” ujar Aher.

 

Karena itu, katanya lagi, forum seperti Kenduri Cinta dapat memasyarakatkan pemikiran untuk keunggulan peradaban Indonesia dan dunia ke depan. (*)

Komentar

komentar