ojk
Home » Headline » Derajat Elektabilitas Sudrajat

Derajat Elektabilitas Sudrajat

Tb. Ardi Januar (istimewa)

Tb Ardi Januar

Relawan Asyik

Sejak resmi dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Barat oleh Partai Gerindra, PKS dan PAN, nama Sudrajat terus menjadi buah bibir. Popularitasnya melesat secara signifikan. Purnawirawan bintang dua ini diprediksi kuat akan menjadi pengganti Ahmad Heryawan (Aher).

Pikiran Rakyat selaku media massa terkemuka di Jawa Barat pernah menggelar polling tentang Pilgub Jabar. Hasilnya, pasangan Sudrajat-Syaikhu menempati posisi teratas dengan raihan di atas 40 persen.

Musisi kawakan Iwan Fals juga pernah melakukan hal sama di akun Twitter miliknya. Perolehan hasilnya tak jauh beda. Pasangan Sudrajat-Syaikhu berhasil mengungguli tiga pasangan pesaingnya, yakni Ridwan-Uu, Hasanudin-Anton dan Deddy-Dedi.

Meski awalnya dirasa kurang populer, namun Sudrajat dan Syaikhu tidak terlalu sulit untuk menancapkan nama di Jawa Barat. Pasalnya, Jawa Barat adalah lumbung suara Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 lalu. Dimana hampir 60 persen warga Jawa Barat memilih Prabowo. Dan Sudrajat menjadi calon gubernur yang ditunjuk dan didukung penuh oleh Prabowo.

Selain fakor Prabowo, Jawa Barat juga menjadi basis kekuatan PKS. Mesin politik PKS mampu memenangkan Ahmad Heryawan menjadi gubernur selama dua periode. Padahal, kemunculan Aher pada Pilgub Jabar 2008 lalu diragukan secara popularitas dan harus bersaing dengan tokoh beken sekaliber Agum Gumelar dan cagub incumbent kala itu, Danny Setiawan.

Di Pilgub 2013, Aher pun kembali mengalahkan sederet nama beken seperti Rieke Dyah Pitaloka, Dede Yusuf dan Irianto Syaifudin alias Yance. Aher berhasil menjadi legend di Jawa Barat. Mesin politik PKS di Jawa Barat teruji dengan fakta.

Sejak Pilpres 2014 lalu, pilihan politik masyarakat seakan terbelah dua. Ada kubu yang pro kekuasaan dan ada barisan oposisi. Belakangan, masyarakat dan netizen mendaulat Partai Gerindra, PKS dan PAN selaku oposisi sejati. Di luar ketiga partai itu, dinilai sebagai partai yang pro dengan kekuasaan.

Di Pilgub Jawa Barat 2018 nanti, partai yang pro kekuasaan terbelah menjadi tiga. Nasdem, Hanura dan PPP berada di belakang Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul, Golkar menjagokan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, dan PDI Perjuangan memilih jalur sendiri mengusung kadernya Tb Hasanudin berpasangan dengan mantan Kapolda Jabar yang juga eks pembina ormas GMBI, Anton Charliyan.

Sementara barisan oposisi tetap solid dan satu suara mengusung Sudrajat-Ahmad Syaikhu. Artinya, suara kekuasaan terbelah tiga dan suara oposan tetap solid menjaga barisan.

Bicara soal figur calon, Sudrajat dan Syaikhu juga menjadi pasangan yang saling melengkapi. Secara latar belakang, pasangan nomor tiga ini adalah perpaduan antara mliliter dan sipil. Serta secara ideologi, pasangan ini mengawinkan nasionalis dan religius.

Dalam zonasi politik di Jawa Barat, ada tiga wilayah yang harus dikuasai. Pertama kawasan megapolitan seperti Bekasi, Depok dan Bogor. Kedua kawasan Pasundan seperti Bandung Raya, Sukabumi, Cianjur, Garut dan Tasik. Dan yang ketiga adalah kawasan Pantura seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Subang.

Pasangan Sudrajat dan Syaikhu sangat mewakili ketiga zonasi tersebut. Sudrajat mewakili Pasundan. Dia berdarah Sukabumi-Sumedang, dan tumbuh besar di Bandung Raya. Sementara Syaikhu adalah putra asli Pantura (Cirebon) dan belakangan menjadi pemimpin daerah di Megapolitan (Kota Bekasi).

Pesan yang ingin disampaikan dalam catatan ini, pasangan Sudrajat-Syaikhu adalah pasangan yang memiliki modal politik dan modal sosial yang sangat kuat dibanding tiga calon lainnya. Jadi, cukup tertawakan saja bila ada lembaga survei atau analis politik yang meragukan dan tidak memperhitungkan pasangan Sudrajat-Syaikhu.

*Ngopi dulu biar ASYIK…

 

Komentar

komentar