Home » Headline » Populisme Politik Lahir Karena Kecemasan dan Keterpurukan Ekonomi

Populisme Politik Lahir Karena Kecemasan dan Keterpurukan Ekonomi

Pengamat politik dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Airlangga Pribadi Kusman (Dok.Pri)

JABARTODAY.COM – Demokrasi Indonesia dalam perkembangannya diwarnai oleh fenomena populisme  yang kemudian menjelma sebagai kekuatan politik. Dalam derajat tertentu, semangat populisme ini bermakna positif, namun efek jangka panjangnya pada proses perubahan sosial harus diteliti secara komprehensif.

Pendapat itu disampaikan pengamat politik dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Airlangga Pribadi Kusman dalam perbincangan khusus,  di Jakarta, Selasa (4/12) menyinggung makin menjamurnya semangat populisme di Indonesia akhir-akhir ini.

Menurut Airlangga, saking berkembangnya semangat populisme sebagai sebuah gerakan sampai-sampai bagi kelompok yang lain disebut sebagai hantu yang menakutkan.

“Populisme itu bentuk protes sosial yang berisi kecemasan masyarakat karena ada kekuatan sosial yang merebut kuasa politik dan selanjutnya sangat dominan dalam menentukan arah negara. Kondisi berjalan seiring dengan tumbuhnya neoliberalisme sebagai kekuatan ekonomi politik yang luar biasa,” jelas Airlangga mantap.

Sebagai sebuah ekspresi politik, lanjut Airlangga, populisme sendiri tidak hadir diruang hampa namun ia terhubung dengan pertarungan sosial didalam dinamika corak perkembangan kapitalisme.

“Keterhubungan dengan konteks sosial dan struktur ekonomi-politik di setiap wilayah menjadikan artikulasi populisme politik bisa tampil dalam wajah yang beragam,” jelas dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya ini.

Dalam kajiannya, Airlangga menemukan fenomena populisme itu bukan hanya terjadi di Indonesia. Populisme juga merebak di Amerika Serikat, Perancis, Inggris, maupun Belanda. Airlangga menunjuk gelobang politik populisme yang tengah berlangsung di Amerika Serikat telah membawa Donald Trump ketampuk Presiden di Amerika Serikat pada 2016.

“Di negara lain juga demikian, misalnya ekspresi populisme yang sama dengan yang tumbuh di Prancis dengan bergeraknya politik sayap radikal kanan dibawah pimpinan Marine Le Pen, serta di Belanda yang diusung oleh Geert Wilders maupun di Inggris dengan kemenangan kubu pengusung Brexit,” jelas alumnus PhD Ekonomi-Politik dari Asia Research Centre Murdoch University.

Namun bagaimana nasib populisme di Indonesia?

Menurut Airlangga, protes politik populisme berbasis identitas dan antagonisme kultural di panggung politik Indonesia adalah pantulan dari realitas gelap kondisi sosial-ekonomi.

“Kondisi keterpurukan, baik secara ekonomi maupun politik itulah yang kemudian menjadi landasan kemarahan dan kecemasan mereka, bentuknya ya populisme politik itu,” jelas Airlangga.

Dalam konteks itu, lanjut Airlangga, pemerintah harus serius membenahi ekonomi masyarakat, terutama kalangan miskin di desa-desa agar mereka tidak mudah dimobilisasi untuk kepentingan politik kelompok tertentu. (jos)

Komentar

komentar