Home » Nasional » Endriartono Sutarto Concern Nasib Buruh

Endriartono Sutarto Concern Nasib Buruh

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto (baju putih) bersama sesepuh Jawa Barat Solihin GP usai pertemuan di Bandung, Selasa (4/2/2014). Endriartono sendiri akan mengikuti Konvensi Calon Presiden yang diadakan Partai Demokrat pada Rabu (5/2/2014). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto (baju putih) bersama sesepuh Jawa Barat Solihin GP usai pertemuan di Bandung, Selasa (4/2/2014). Endriartono sendiri akan mengikuti Konvensi Calon Presiden yang diadakan Partai Demokrat pada Rabu (5/2/2014). (JABARTODAY/AVILA DWIPUTRA)

JABARTODAY.COM – BANDUNG

Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat Jenderal (Purn)  TNI Endriartono Sutarto meminta restu sesepuh dan warga Jawa Barat dalam mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya sejak kecil di Bandung, sekolah di Bandung. Jadi, saya merupakan bagian dari warga Jabar,” ujar Endriartono usai pertemuan dengan sesepuh, seniman, dan budayawan Jabar di sebuah rumah makan di Bandung, Selasa (4/2/2014).

Menurut Endriartono, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menyerap masukan dan aspirasi dari masyarakat melalui para tokoh tersebut, sekaligus untuk mendapatkan restunya dalam proses dukungan di Konvensi PD.

“Jawa Barat merupakan provinsi juara, dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan tentunya memiliki potensi sangat besar dalam berbagai hal,” terangnya.

Dalam pertemuan tersebut, Endriartono memaparkan visi dan misi kepemimpinannya dalam pembangunan infrastruktur, peningkatan nilai kebangsaan, persatuan dan kesatuan, pembangunan sektor kelautan, transportasi, pengembangan sektor ekonomi, termasuk soal buruh.

Menurutnya, era buruh murah di Indonesia harus segera ditinggalkan. Pemerintah harus mempromosikan ke investor, terutamanya asing, bila buruh Indonesia tidak murah tapi produktif yang ujungnya menguntungkan. “Yang kedua adalah menekan biaya operasional industri usaha. Sehingga, pengusaha tidak berkeberatan menaikkan pendapatan buruh,” imbuh Tanto, sapaan akrabnya.

Biaya operasional industri sendiri, seperti diterangkan Tanto, adalah perijinan yang harus melewati beberapa meja, lalu penggunaan listrik yang tarifnya cukup besar dan membuat pengusaha sedikit menekan upah bagi para buruh, juga infrastruktur yang belum mendukung industri murah. “Lalu, kebanyakan alat-alat industri menggunakan solar yang harganya cukup mahal. Kalau pengusaha menggunakan batu bara atau energi murah lainnya, biaya operasional bisa ditekan,” tuturnya.

Tak hanya fokus pada buruh, ia juga menyampaikan beberapa konsep peningkatan kesejahteraan rakyat, antara lain dengan meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan sumber daya alam, mendorong potensi diri serta memaksimalkan peluang dan potensi yang dimiliki.

“Indonesia memiliki segalanya, sumber daya alam melimpah. Ke depan perlu strategi untuk memberdayakan potensi itu menjadi sebuah pemecahan untuk kesejahteraan rakyat. Kita punya laut yang masih menyimpan kekayaan yang masih bisa dimaksimalkan, punya mineral yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” paparnya.

Saat disinggung kurang populernya dia di masyarakat dibanding peserta konvensi lainnya seperti Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, maupun Pramono Edhie Wibowo, Tanto tidak ambil pusing. Selama program yang disampaikan dan media mem-blow-up seluruh calon dengan adil, masyarakat dapat melihat. “Kalau keder, udah dari kemarin mundur,” tegas Tanto. (VIL)

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.