Home » Pendidikan » Konten Media Penyiaran Kurang Miliki Nilai Edukasi

Konten Media Penyiaran Kurang Miliki Nilai Edukasi

ridwan-kamilJABARTODAY.COM – BANDUNG Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, persoalan masyarakat bukan lagi mencari informasi, melainkan memilah informasi. Makin hari, teknologi informasi ini makin bervariasi. Maka, semua orang bisa membuat media sendiri melalui saluran-saluran yang beragam. Bahkan, karena penontonnya banyak, bisa memasang iklan untuk mendapat penghasilan.

Pesatnya perkembangan teknologi, menurut pria yang biasa disapa Emil ini, membuat masyarakat bisa mendapatkan informasi dari banyak pintu. Kanal-kanal media sosial hingga ruang-ruang obrolan juga bisa menjadi sumber informasi yang terkadang dianggap kredibel. “Orang misalnya bisa menerima informasi dari grup-grup chatting yang sebagian mereka percayai dulu, sebelum mencari tahu kebenarannya,” kata Emil, usai menjadi Keynote Speaker pada kegiatan Diseminasi Hasil Survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Tahun 2016 yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia, di Hotel Grand Tjokro, Rabu (30/11).

Di kesempatan sama, Emil menyampaikan kekhawatirannya akan kualitas siaran televisi saat ini. Menurut dia, kontennya kurang memiliki nilai edukasi dan lebih banyak mengedepankan unsur hiburan. “Tolong seimbangkan media penyiaran tidak hanya memberikan informasi yang menghibur tapi mengedukasi ,” ujar Wali Kota.

Karenanya, dia seringkali merekomendasikan saluran televisi luar negeri untuk menyeimbangkan tontonan televisi yang edukatif. Kualitas siaran televisi yang mendidik, dipandang Emil, sebagai sesuatu yang sangat penting. Kualitas-kualitas penyiaran dan informasi harus memiliki tujuan yang baik, bukan asal menghibur, asal seru, hingga asal rating. Tapi, akumulasi informasi yang dikonsumsi masyarakat akan membentuk karakter masyarakat di masa depan. “Kalau asal-asalan saya khawatir, dengan kualitas siaran seadanya masyarakat di masa depan akan mudah terprovokasi hal-hal yang sifatnya tidak inspiratif dan lebih banyak negatifnya,” tutur Emil.

Dirinya mencontohkan, bagaimana media televisi saat ini melakukan framing terhadap situasi politik Indonesia. Dalam pandangannya, keseimbangan berita positif dan negatif tentang kondisi politik negeri ini harus tetap terjaga. Emil melihat, saat ini pemberitaan lebih sering mengarah pada hal-hal negatif.

Maka itu, Emil menitipkan kepada industri media untuk memperbesar proporsi konten edukatif dalam tayangan-tayangan yang diproduksi, agar membentuk kualitas masyarakat yang cerdas dan tidak mudah terprovokasi. “Itu yang saya titipkan agar KPI bersama industri media bisa menggunakan kekuatannya berupa information power untuk menghadirkan cetak biru kualitas masyarakat di masa depan,” pungkas Emil. (koe)

Komentar

komentar