ojk
Home » Opini » Penerbangan Domestik yang Kurang Banyak Dipahami

Penerbangan Domestik yang Kurang Banyak Dipahami

Oleh Marsekal TNI (Purn).H. Juwono Kolbioen SE.

Perlu kiranya dipahami bahwa antara kurun tahun 2009 dan tahun 2014, jumlah Penumpang domestic pesawat terbang Indonesia meningkat dari 27.421.235 orang menjadi 84.504.086 orang. Hal ini merupakan peningkatan lebih dari 3 (tiga kali) lipat.

Selanjutnya pada tahun 2017 jumlah penumpang domestic meningkat menjadi 96 juta orang. Prediksi pada tahun 2018 adalah 102.589.160 orang dan pada tahun 2019 diperkirakan akan menjadi 107.311.119 orang.

Perlu ditambahkan bahwa International Air transport Association (IATA) telah meramalkan bahwa Indonesia akan menjadi pasar angkutan udara terbesar keenam dunia pada tahun 2034 Larena pada tahun 2034, berdasarkan perkiraan yang cukup akurat akan ada sekitar 270 juta penumpang pesawat terbang di Indonesia baik penerbangan domestic maupun internasional.

Revenue untuk penerbangan dalam negeri. Khusus untuk tahun 2017, apabila rata-rata seorang penumpang membayar US $ 50, maka akan terkumpul US $ 4.800,000,000 atau apabila di rupiahkan akan menjadi Rp. 72.480.000.000.000,- (72,5 Triliun) .

Muncul pertanyaan, maskapai Penerbangan mana yang menikmati revenue yang trilyunan itu? Secara linear dapat dipahami bahwa di Indonesia ada 2 (dua) maskapai penerbangan besar yang melayani rute domestik di Indonesia yaitu Air Asia dan Lion Air. Sudah bukan menjadi rahasia, bahwa pemilik dari 2 (dua) maskapai penerbangan tersebut tidak jelas, namun tentunya pemilik maskapai tersebut bukan main-main karena maskapai yang dimiliki sangat besar.

Siapa pemiliik Lion Air?

Sebagaimana yang berlaku sesuai dengan peraturan perundang-undangan bahwa dalam suatu PT itu yang paling berkuasa adalah pemegang saham. Karena merekalah yang punya uang. Sehingga dalam dinamika suatu PT, jangankan sampai terjadi kerugian sebagai akibat kecelakaan yang keras diduga karena kesalahan direksi, bahwa hanya karena keuntungan yang menurun saja sudah akan membuat pemegang saham bereaksi keras dan yang dijadikan target adalah direksi.

Dalam kasus fatal accident Penerbangan Lion Air JT610, sudah seharusnya pemegang saham mengamuk, meminta penjelasan dan pertanggungjawaban direksi. Namun anehnya faktanya tdk ada reaksi dari pemegang saham…
Yang ada reaksi dari Dutabesar RI utk Malaysia.

Lalu siapa ya pemegang sahamnya atau RUPSnya? Karena peran dan fungsi pemegang saham sepertinya sudah diambil alih oleh Menteri Perhubungan RI ditandai dengan tindakannya menonaktifkan Direktur Teknik Lion.
Ini aneh…….????

Komentar

komentar