ojk
Home » Opini » Detoksifikasi Tubuh Bangsa

Detoksifikasi Tubuh Bangsa

Oleh : Zainal Bintang

Asupan retorika politik yang cenderung melimpah  akhir – akhir ini sebagai penanda dimulainya tahun politik, terus terang membuat tubuh bangsa ini menjadi limbung. Darah kotor dan racun politik yang dikonsumsi publik tiap hari isinya  lebih menyerupai intrik, teror, ancaman, kekerasan dan kriminalisasi. Hal mana membuat tubuh bangsa kurang sehat.

Agresifitas tim sukses sebagai jurubicara terkadang melampaui nalar sebuah bangsa yang berbudaya. Sangat destruktif.  Hal itu dapat difahami, karena rekrutmen tim sukses memang asal comot. Yang penting memiliki urat saraf baja yang mampu mempertontonkan kekasaran di layar kaca. Mempunyai kemampuan (ketegaan)  memaki, mencaci dan mengancam serta mempermalukna lawan bicara.

Namun, sesungguhnya tanpa sadar mereka telah menjadi  bola mainan pembawa acara televisi. Dikili – kili dan diadu seperti jangkrik supaya menjelma menjadi tontonan yang mengasyikkan. Bertujuan mengundang pemasang iklan yang menyasar pemirsa bernalar rendah pula.

Terlihat oleh publik terkadang  agresifitas lebih banyak diperagakan kubu petahana.  Menggambarkan betapa besar ambisi kembali berkuasa. Mengalahkan seluruh tata karma dan nilai – nilai kultural di dalam bertutur yang diwariskan leluhur. Melahirkan kecemasan terhadap kesantunan hari depan bangsa ini.

Jika berbicara mengenai kehidupan manusia sehari – hari, maka analognya setiap hari tubuh kita terpapar oleh racun, baik dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh. Dari makanan yang kita makan pun kita bisa mendapatkan racun, dari sisa-sisa hasil metabolisme atau fungsi yang dilakukan tubuh. Untuk itu, detoksifikasi diperlukan untuk membantu mengeluarkan racun dari tubuh. Tubuh perlu beristirahat sebentar untuk membersihkan dirinya.

Merujuk Pilkada DKI 2017, dari disitulah bermula terpicunya  muntahan lava panas persaingan keras sebagai bawaan dari gempa politik Pemilu 2014 . Memunculkan dua kubu  pelanggeng konflik di dalam proses perjalanan demokratisasi. Dua kubu itu mau tidak mau terpaksa berseberangan secara tajam. Berimplikasi adanya  pembelahan masyarakat ke dalam dua pilihan politik : Petahana atau oposisi (penantang).

Secara kebetulan kontestan Capres 2019 aktor utamanya berulang kembali : Jokowi dan Prabowo. Dua tokoh simbol kekuatan politik mutakhir yang ditakdirkan berseteru dengan alasan berkompetisi membangun bangsa.

Tumpahan lava dan lahar panas politik sebagai limbah konflik Pilkada DKI tidak mudah direhabilitasi. Benturan kepentingan tak terhindarkan. Elemen kronis tersusupkan ke dalamnya : Ketidak puasan diterjemahkan menjadi ujaran kebencian.

Politik identitas merebak menjadi faham radikal. Dan sikap intoleransi merajalela dimana mana. Tumbulah dengan suburnya belukar rimbun pembelahan bangsa secara masif.

Yang memprihatinkan  karena goyahnya modal sosial (social capital) bangsa ini. Padahal semua kita tahu bahwa modal sosial itulah yang paling bernilai tinggi dan menjadi pemandu keharmonisan bangsa.

Menurut Fukuyama (2000), modal sosial secara sederhana didefinisikan sebagai kumpulan nilai-nilai atau norma-norma informal secara spontan yang terbagi diantara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka.

Yoshihiro Francis Fukuyama  adalah ilmuwan politik  dan penulis Amerika Serikat itu mengemukakan,  bahwa mereka harus mengarah kepada kerjasama dalam kelompok dan berkaitan dengan kebajikan-kebajikan tradisional seperti: kejujuran; memegang komitmen; bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan norma saling timbal balik.

Silang sengkarut perpolitikan yang kadung membelah masyarakat, disesalkan karena  dapat dikatakan telah membuat longsornya ketahanan modal sosial yang dimiliki bangsa ini, yang dikenal di dalam satu tarikan nafas : Gotong royong.

Ruang  publik hari ini, – sejak pendaftaran Capres – Cawapres resmi disahkan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum),- telah berubah bagaikan bak sampah besar penampung  sumpah serapah jurubicara tim sukses.

Narasi kasar yang berhamburan dengan tujuan saling memojokkan, saling menghancurkan sangat mengganggu nalar budaya dan pakem tata karma sebagai bangsa.

Sebelum perpecahan dan pembelahan bangsa ini makin meluas ; dan sebelum membawanya ke jurang kehancuran sebaiknya segera digagas jalan keluarnya.

Perlu dibuat suatu kesepakatan untuk melakukan detoksifikasi nasional demi menyehatkan kembali tubuh bangsa ini.  Sungguh mengerikan membayangkan Pilpres 2019 dibawah bayang – bayang perpecahan yang berwajah kekerasan.

Karena hal tersebut hanya akan melahirkan Leviathan, sang diktator bertangan besi alias monster dalam kitab suci.  Seperti yang ditulis Thomas Hobbes, – seorang  filsuf  Inggeris dalam  bukunya yang terkenal Leviathan,

Menilik kerasnya perang terbuka aktor politik kedua kubu di ruang publik saat ini, mungkin dapat dianalogikan dengan tulisan Hobbes yang menyebutnya “Bellum omnium contra omnes : perang semua melawan semua”, kata Prof. Sri Edi Swasono dalam pesan watch up kepada saya beberapa hari yang lalu”.

 

*zainal bintang, wartawan senior dan pemerhati sosial budaya.-

 

 

 

 

Komentar

komentar