ojk
Home » Opini » Pencuri Bersorban

Pencuri Bersorban

Oleh M Rizal Fadillah

Ketua Masyarakat Unggul (Maung) Institute Bandung

Pencuri selalu digambarkan kekurangan dengan pakaian sederhana, wajah lugu atau kadang sangar juga, ya pokoknya tergambar profil ‘teu nyakola‘, tidak berpendidikan. Kepura-puraan tinggi agar seperti masyarakat awam. Tidak dikenal oleh lingkungan, sembunyi-sembunyi. Profesinya ya tetap jelas mencuri barang milik orang.

Di era maju saat ini pencuri bermimikri dalam banyak penampilan. White collar crime adalah kejahatan pencuri berdasi. Pakaian necis, gadget berkelas, berkendaraan mewah, berkantor nyaman, bersepatu mengkilap dan berajudan tegap.

Senyum kanan kiri, wajah milenia lah. Berkumis pun rapi. Berada dan suka di ruang publik. Kesehatan terjaga karena rutin berfitness, tenis atau golf. General check up rutin. Tak ada yang disembunyikan semua jelas siapa si dia.

Di meja kerjanya banyak dokumen yang mesti disetujui dan ditandatangani.
Nah disinilah cela dirinya itu, sadis hatinya, dan rakus wataknya.

Tandatangannya bernilai upeti, bribe (suap), pemerasan, serta menentukan perpindahan rekening. Berteman dengan agen kolusi untuk sampai pada tahap korupsi. Ini dia pencuri berdasi. Tandatangan sakti bisa menghilangkan uang rakyat bermilyar atau bertriliun. Tergantung jenis proyek yang ditangani.

Di era kini dan di sini, di negeri yang dipimpin bapak ‘sederhana’ Jokowi bermunculan pencuri-pencuri model baru. Pencuri bersorban. Pencuri berbasis spiritual. Bisa ulama, pendeta, biksu, atau spiritualis lainnya. Yang dicuri adalah spiritualitas umat yang dibimbing nya. Spiritualitas itu dijual ke penadah yang bernama penguasa.

Dalam kaitan ulama, Nabi pernah bersabda “Apabila engkau melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa, maka ketahuilah bahwa dia itu pencuri” (HR Dailami).

Benar ulama dan umaro mesti harmonis dan tidak boleh saling mendestruksi. Ulama menyinari jalan keagamaan umaro, menegur dan bila perlu mengingatkan dengan keras agar kekuasaan tetap berjalan lurus dan tetap berada di rel syariat yang diridloi Allah.

Akan tetapi ulama tidak boleh involved atau menjadi abdi dari penguasa yang ‘nempel kemana mana’ . Apalagi semata menjadi tukang stempel kebijakan dengan dalil dalil pilihan. Ulama pencuri selalu mencuri perhatian di panggung pertunjukkan politik. Ia mengklaim representasi dari komunitas ulama, selainnya tidak. Selainnya hanya pemimpin umat intoleran, radikal, dan kalaupun mereka disebut ulama, maka kelasnya abal-abal.

Ulama pencuri adalah mereka yang diam atau melegalisasi persekusi untuk mencari muka. Pasang badan untuk melanggengkan kekuasaan. Tak peduli bahaya bagi umat Islam atas langgengnya kekuasaan itu.

Pencuri bersorban bukan karena ia bersorban tapi bisa saja berseragam, berkopeah, bersarung, atau berbaju koko dan gamis, sepanjang ia mengklaim dirinya ulama lalu ‘melacurkan diri’ demi kekuasaan, maka ia adalah pencuri.

Umat harus bergerak mengendus para pencuri bersorban ini, melaporkan ke yang berwenang, mendorong proses hukum, karena pada hakekatnya mereka adalah penista ulama, penista dirinya sendiri, dan penista agama. Merusak korps dan menghancurkan kewibawaan umat dan Islam. Su’ul akhlak, perilaku yang tercela.

Umat sudah cerdas, bisa memilih dan memilah mana pemimpin yang baik atau buruk, ulama pejuang atau pengumpul uang, pengabdi umat atau pencuri. Sungguh salah jika dikira dengan sorban umat dapat dikadalin. Salah besar. Pencuri tetap pencuri meski beratribut agama, apalagi beratribut preman, lebih parah lagi. capee deh. ***

Bandung, 19 September 2018

Komentar

komentar