ojk
Home » Opini » Menyongsong Revolusi Industri 4.0 di Jabar X

Menyongsong Revolusi Industri 4.0 di Jabar X

Oleh: Kholis Malik

Ketua Umum PB HMI 200-2-2004/ Caleg Golkar Nomor Urut 2, Dapil Jabar X

Jabar X, tak sekedar akronim yang menyiratkan wilayah pemilihan pada Pemilu 2019 mendatang. Lebih dari itu, ada segudang potensi terkandung di dalamnya, baik manusia maupun kekayaan alamnya. Dari segi sumber daya manusia saja, pada 2018 jumlah penduduk Jawa Barat diproyeksikan telah mencapai 47,38 juta jiwa.

Total angkatan kerjanya pun mencapai angka 18,79 juta orang. Pada titik inilah, Jawa Barat memiliki market size yang besar. Dengan total populasi yang demikian besarnya, Jabar sendiri tak kekurangan lahan yang masih sangat profuktif. Belum lagi, keindahan alam yang bisa menjadi senjata ekonomi di sektor pariwisata.

Sekian banyak potensi yang dimiliki, pada prinsipnya tak akan berguna tanpa adanya inovasi yang kontekstual dengan semangat zaman. Seiring perkembangan teknologi informasi, saat ini Indonesia secara keseluruhan menghadapi Revolusi Industri 4.0. Jabar, khususnya di Dapil X (Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar) tak pelak harus berhadapan dengan revolusi industri ini.

Pada prinsipnya Revolusi Industri 4.0 merubah cara kerja manusia di zaman ini. Ada semacam pergeseran ekonomi, dari lapak biasa ke dunia maya. Mesinisasi menjadi kata kunci dalam revolusi ini. Sehingga sangat penting menciptakan lapangan kerja peralihan.
Lapangan kerja peralihan dimaksudkan untuk mengakomodasi dan menambah angkatan kerja.

Dengan demikian, keindahan alam yang ada di Kabupaten Pangandaran contohnya, dapat menambah lapangan kerja dengan cara yang efisien. Begitu juga dengan wisata sejarah yang ada di Kabupaten Ciamis, seperti Kerajaan Galuh. Kabupaten Kuningan pun demikian, disana pernah terjadi peristiwa penting Perjanjian Linggarjati. Kesemuanya ini dapat dikembangkan dengan inovasi.

Bentuk Lapangan Kerja Peralihan
Tenaga kerja adalah isu yang tek henti diperbincangkan sejak Reformasi bergulir. Membincangkan hal ini, tak bisa lepas dengan bonus demografi angkatan muda Indonesia yang memonopoli jumlah pekerja secara keseluruhan. Dari sektor pemilih pemula saja, berdasarkan data KPU Jabar, terdapat sekitar 10-12 juta jiwa anak muda yang terdata dalam Pilkada serentak 2018 lalu. Artinya ada sekitar 30 persen dari daftar penduduk potensial pemilih pemilu (DP4) yang mencapai 34 juta jiwa.

Salah satu potensi yang bisa berjalan beriringan dengan revolusi industri 4.0 ada di sektor pertanian. Dengan pemanfaatan metode ini, produksi pertanian tidak hanya berfokus pada pemanfaatan lahan. Sebab, kondisi tanah tentu sangat berpengaruh pada cuaca dan ketersediaan air. Disinilah pentingnya inovasi untuk menciptakan lapangan kerja peralihan.

Hal ini sangat terbantukan dengan perkembangan teknologi informasi yang demikian pesatnya. Untuk itu menelaah mata rantai sektor pertanian sampai ke meja konsumsi sangat dibutuhkan. Hal itu meliputi, petani, ketersediaan lahan, air, pemasaran hasil pertanian dan produk pertanian sampai bisa dinikmati oleh konsumen.

Di setiap variabel mata rantai tersebut, pada dasarnya lapangan kerja peralihan akan lahir. Ini tentu bergantung pada teknologi tepat guna. Misalnya, untuk ketersediaan air kita bisa berkolaborasi membuat bendungan. Lalu pengemasan hasil pertanian, ini bisa melibatkan banyak orang. Belum lagi, menjual hasil pertanian secara daring, yang cakupannya bisa sangat luas.

Revolusi industri 4.0 sudah pasti akan sedikit banyak menggantikan kerja manusia. Jika sebelumnya ada 10 petani dalam penggarapan sebuah lahan, maka dengan adanya traktor dan teknologi pertanian lainnya, yang dibutuhkan bisa saja hanya 1 petani. Dengan adanya metode ini, 9 lainnya bisa mengerjakan pemasaran secara online, pengemasan produk pertanian dan seterusnya.

Sektor lain yang juga bisa melahirkan lapangan kerja peralihan adalah pariwisata. Fokusnya bisa bertumpu pada pemasaran berdasarkan kearifan lokal. Di Jabar X khususnya, terdapat karya kesusastraan dan kesenian yang cukup kaya. Apabila mampu dikapitalisasi dengan baik, dampak ekonominya tentu akan menyejahterakan masyarakat.

Produk kebudayaan seperti karya sastra dan seni tidak boleh terhenti dan hanya dinikmati oleh masyarat Jawa Barat saja. Ada khalayak Indonesia dan dunia yang juga bisa dan bahkan butuh merasakan kehebatan karya-karya tersebut. Dan jika berjalan maksimal maka akan tercipta pasar yang luas bagi masyarakat di Jabar X.

Yang bisa dilakukan adalah membentuk tim guna menerjemahkan karya sastra yang ada di Jawa Barat ke dalam bahasa nasional dan internasional. Begitu juga, dengan membabarkan seni musik dan terutama seni pertunjukan. Kerja demikian ini bisa berjalan dengan inovasi sekaligus juga kolaborasi.

Inovasi Sekaligus Kolaborasi

Inovasi sebagaimana lazimnya, selalu bertumpu pada isi dan tampilan. Dari situlah produk apapun itu akan tercipta. Jika produk kebudayaan seperti sastra, musik dan seni pertunjukan ingin dikapitalisasi, maka kita tentu harus menyiapkan creative content.  Hal ini, bisa dilakukan dengan maksimal oleh mereka yang saat ini menyandang status milenials.

Disamping itu harus ada pula semacam political will untuk menyambungkan program eksekutif/kepala daerah dengan masyarakat. Inilah yang disebut kolaborasi pemimpin dan rakyatnya, terutuama sekali angkatan muda. Kolaborasi akan menjadi titik temu inovasi antara para politisi dan masyarakat.

Semangat ini sejalan dengan hasrat anak muda zaman sekarang yang memang dekat dengan internet. Artinya, kita tinggal menciptakan karya yang bisa menjadi tontonan menghibur sekaligus menjadi tuntunan. Inilah hiburan yang menuntun sekaligus membantu perekonomian masyarakat.

Revolusi industri 4.0 tak jauh beda dengan sepak bola. Ia juga bisa menarik minat anak muda untuk membangun potensi diri dan daerahnya. Generasi yang terwadahi dengan aktivitas menarik akan lebih produktif dalam berkarya. Sebagaimana lazimnya olah raga yang menggunakan bola, inovasi ini tentu membutuhkan kerja tim yang tidak sederhana untuk mencetak gol.

Kekayaan yang ada di Dapil Jabar X sangatlah melimpah di sektor pertanian dan pariwisata. Ini tak akan berarti tanpa adanya kerja keras. Seperti tradisi sepak bola yang mengharuskan adanya kedisiplinan tinggi agar memperoleh kemenangan. Membangun Dapil Jabar X pada dasarnya adalah kerja tim dari seluruh komponen yang terlibat di dalamnya.

Sekali lagi arus Industri 4.0 dapat menjadi wadah menempa potensi diri. Memunculkan keberanian untuk menatap masa depan secara setara. Orang yang bergelut didalamnya selalu memiliki good will, dengan begitu kesejahteraan sudah sejengkal dari kaki. Cita-cita ini mari kita sambut secara bersama, agar kesejahteraan dan kerja keras tak saling berpunggungan. ***

Komentar

komentar