ojk
Home » Headline » Pancasila Vs Tirani Elektoral

Pancasila Vs Tirani Elektoral

Oleh : Zainal Bintang

 

Telah menjadi rahasia umum di dalam ajang Pemilu serentak 2019 nanti, – dimana pemilihan calon legislatif diadakan bersamaan dengan pemilihan pasangan calon presiden dan wakilnya, –  akan timbul suatu komplikasi destruktif yang dapat mengganggu soliditas komitmen parpol koalisi pengusung paslon.

Loyalitas kader parpol pengusung akan mengalami ujian berat. Mereka diharuskan menentukan sikap tegas : memberi kemenangan kepada paslon yang diusung oleh koalisi  parpolnya. Itu adalah harga mati yang mendasari  lahirnya koalisi parpol.

Disinilah berlangsung ujian loyalitas kader kepada parpolnya secara bersamaan dengan  konsistensi parpol kepada koalisinya. Kedua pijakan tersebut semuanya bersumber kepada seberapa serius dan seberapa besar kapasitas kerja politik, yang dapat menghasilkan limpahan elektoral untuk memenangi kontestasi akbar siklus lima tahunan itu.

Limpahan elektoral itu! Inilah target yang memilki wajah ganda. Limpahan elektoral yang diperkelahikan itu bisa saja berwajah barokah namun tidak tertutup kemungkinan berubah menjadi wajah hantu yang menakutkan.

Perpacuan perburuan limpahan elektoral untuk kemenangan paslon presiden dan wakilnya adalah wajib hukumnya. Karena ini terkait dengan kehormatan dan harga diri koalisi. Disebabkan adanya pemahaman keras,  merebut kursi presiden berarti bersemayam di Istana.

Dan Istana bukan saja  simbolik kekuasaan yang bergengsi tinggi. Tetapi juga adalah tempat dimana segala kebaikan maupun keburukan silih berganti dapat direkayasa.

Akan tetap di satu sisi , meskipun kursi presiden dapat direbut, namun jika perolehan elektoral tidak memadai di sektor legislatif, maka pada sisi yang lain terbuka kemungkinan presiden dalam hal ini eksekutif akan menjadi bulan – bulanan  kubu oposisi di Senayan. Sebagaimana telah terjadi belakangan ini.

Maka ajang Pemilu serentak ini ke depannya dapat dikatakan akan menjadi gelanggang adu kuat dua kubu koalisi parpol. Mereka dipaksa adu taktik, strategi dan intrik. Yang menderita beban psikologis dari pertarungan politik yang terkesan keras dan bertempo tinggi ini, bukan cuma caleg akan tetapi presiden petahanapun demkian juga adanya.

Harus diakui, kekisruhan dan komplikasi dunia politik tersebut merupakan kelemahan yang mendasar bangsa ini saat ini. Penyebab timbulnya gangguan “peredaran darah” ideologi  di dalam tubuh parpol kita, justru terletak di dalam ketidak akurasian penghayatan ideologi elite parpol itu sendiri.

Tidak bisa dibantah, bahwa adalah sumber rekrutmen caleg atau pengurus parpol menjadi faktor utama sulitnya menemukan kader yang berideologi konsisten dengan garis partai.

Karena apa? Proses rekrutmen kader tidak dijalankan sesuai dengan semangat dan jiwa serta visi dan misi daripada parpol itu sendiri.

Atas nama limpahan elektoral yang menjadi target besar semua parpol, membuat pimpinannya mengambil jalan pintas. Membuka pintu lebar – lebar masuknya “kader dadakan”. Mereka berjaya karena memiliki sumber daya finansial yang kuat dan ada juga karena memiliki modal  sumber daya populeritas yang bersifat semu.

Fakta menyedihkan dan suram ini dapat ditemukan pada  hampir semua parpol. Akibatnya, sejumlah kader potensial berideologi konstan harus  tersingkir. Mereka  tidak punya sumber dana untuk membiaya kontestasi dirinya dan parpolnya.

Koalisi tambal sulam yang terjadi di dalam semua gawe Pilkada ke Pilkada dapat menjadi fakta terbuka yang menyajikan dua hal yang anomali. Pertama, parpol yang berbeda jauh secara ideologi bisa koalisi. Kedua, kader dadakan kontan saja dapat  menjadi “pangeran” parpol,. Semua karena uang. Lagi – lagi uang.

Uang telah menyingkirkan sejumlah hal – hal yang baik dan  digantikan dengan berbagai rekayasa institusional untuk mengelabui rakyat sang pemilik kedaulatan politik dan kekuasaan. Mengecoh sang silent mayority.

Yang ironis dan membuat publik miris, kini telah terdengar senandung duka reformasi yang dihiasi lirik – lirik lirih yang menyakitkan hati. Konon, kini telah beredar rumor adanya “sila gelap” Pancasila yang berbunyi : Keuangan Yang Maha Esa!

Dan ini tidak boleh dibiarkan. Ini pertanda Indonesia sedang menderita penyakit yang berbahaya. “Peredaran darah ideologi” Pancasila sedang mengalami penyumbatan akibat gencarnya tirani elektoral yang dipraktekkan parpol dewasa ini sebagai ideologi baru.

Sejenis ideologi hantu yang mendewakan kekuasaan sambil menghina akal sehat dan kemanusiaan. Tirani elektoral telah yang mendewakan materi dan telah menurunkan derajat Pancasila sebatas dekorasi demokrasi.

Generasi baru dan politisi wajah baru yang segar, saatnya bangkit melakukan perlawanan. Bangkit menyuarakan dan mengampanyekan sebuah Indonesia Baru : The New Indonesia yang berjiwa dan bertubuh Pancasila duapuluh empat karat.

 

*Zainal Bintang, wartawan senior dan pemerhati sosial budaya

 

Komentar

komentar