Home » Opini » Memaknai Kemenangan

Memaknai Kemenangan

Oleh IMAN SUBASMAN
Pengurus ICMI Kuningan dan Peneliti PUSPAMDIK (Pusat Studi Pengembangan Mutu Pendidikan)

Salah satu ciri positif yang dapat menggerakan potensi seseorang adalah jika ia mempunyai ambisi atau berjiwa ambisius. Nilai positifnya adalah, seseorang yang punya ambisi ia akan berpikir dan mengerahkan segenap jiwanya untuk mendapatkan apa yang ia cita-citakan. Seseorang yang lemah jika sudah muncul ambisinya akan berpikir bagaimana ia bisa kuat dan meraih impian-impian besarnya. Dalam makna positifnya, sangat bijak bila ambisi ditempatkan pada perspektif positif serta ditempatkan pada posisi yang adil dalam sikap dan pribadi seseorang.

Sikap ambisi seringkali dikaitkan dengan kekuasaan atau peraihan kekuasaan. Sebagian orang menilai ambisi terhadap kekuasaan adalah sikap yang negatif, dengan alasan ia akan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Ambisi dalam pandangan paradigma ini adalah akar dari kerakusan dan kejahatan. Paham seperti ini tak dapat dipungkiri memang ada sebagian fenomena yang menunjukkan gejala itu, namun tampaknya tidak dapat di generalisasi untuk semua keadaan.

Kekuasaan sesuai kaidahnya ia harus ditempati oleh orang yang baik, bijak, kuat dan terpercaya. Dalam susasana demokrasi meraih kekuasaan bukan hal yang mudah untuk mendapatkannya. Demokrasi memberikan kebebasan kepada siapa pun untuk menempati kekuasaan asalkan ia mampu memenangkan “permainan” dengan cara yang demokratis. Dalam keadaan seperti ini, tampaknya sulit bagi orang yang tak punya ambisi menumbuhkan semangat jiwa mendapatkan kekuasaan. Dari pandangan inilah kemudian muncul paradigma ambisi sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kekuasaan. Dengan pandangan yang berbeda tentang ambisi antara negatif dan positif, ada baiknya kita menghadirkan pandangan bahwa efek dari sebuah ambisi adalah sebuah kemenangan.

Pandangan kemenangan seringkali terdengar hanya dalam pandangan fisik. Mendapatkan kursi jabatan, kekuasaan, mendapatkan harta melimpah atau mungkin juga popularitas. Pandangan yang membatasi kemenangan hanyalah kemenangan fisik, sepertinya harus mendapatkan pandangan pelengkap dari paradigma lain. Tujuannya adalah untuk menanamkan kesadaran bahwa kemenangan fisik bukan satu-satunya kemenangan apalagi dipandang sebagai sebuah tujuan. Mengapa pandangan ini perlu kita hadirkan? Agar kemenangan dapat dinikmati orang banyak. Jika kemenangan hanyak dimaknai fisik, maka kemenangan fisik hanya akan dinikmati oleh segelintir atau kelompok orang. Orang bijak mengatakan “dunia terlalu sempit untuk orang yang rakus”.

Dimensi lainnya yang ingin dihadirkan adalah kemenangan adalah perpektif batiniah. Pandangan yang dapat menghadirkan suasana batin yang lebih baik dalam nuansa kemenangan. Bahwa kemenangan fisik bukanlah kemenangan segalanya ketika batinnya tak mampu hadir dalam suasana kemenangan yang baik. Bukanlah kemenangan jika tak diiringi rasa syukur dan sabar, demikian pendapat orang bijak dan sebaik-baik rasa syukur dan sabar itu jika hatimu luluh pada kuasaNya serta menyadari bahwa yang memberimu kuasa sesaat di dunia adalah Sang Maha Kuasa. ***

Komentar

komentar