ojk
Home » Opini » Bebaskan Diri dari Politik Sandera

Bebaskan Diri dari Politik Sandera

M. Rizal Fadillah, Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat, juga Ketua Masyarakat Unggul (Maung) Institute Bandung

Oleh M. Rizal Fadillah

Ketua Umum Masyarakat Unggul (MAUNG) Institute Bandung

Mengejutkan banyak tokoh politik yang tampilan awalnya menunjukkan sikap kritis terhadap pemerintahan atau rezim namun kemudiannya —baik tiba-tiba, maupun lambat laun— berubah menjadi pendukung, pembela, bahkan penjilat penguasa.

Masyarakat bertanya ada faktor apa yang menyebabkan perubahan sikap politik tersebut. Ada fenomena unik di balik peristiwa ini. Bisa faktor fasilitas dan uang yang mengusik pendirian (carrot policy) ataupun ada ‘gebukan’ masalah yang membuat dirinya limbung dan butuh tempat bergantung (stick policy).

Dalam politik pola hadiah (iming-iming) dan ‘gebuk rangkul’ adalah biasa untuk mengendalikan sesuai kemauan. Melalui gebuk rangkul inilah si pesakitan menjadi terkuasai. Bahkan, akan taat dengan sepatuh-patuhnya. Posisinya tersandera. Sang tersandera itu bisa pejabat, politisi, cendekiawan, ulama, atau aktivis. Rezim yang biasa melakukan hal ini bisa disebut rezim machiavelis, menghalalkan segala cara, yang penting terkuasai. Biadabnya, hukum menjadi alat kekuasaan. KPK sangat dimanfaatkan.

Kejutan-kejutan berupa perubahan sikap menjadi pendukung bahkan penjilat tersebut sungguh menjadi tontonan memuakkan di panggung sandiwara politik Indonesia kini. Melengkapi carut-marutnya wajah bangsa yang tergadaikan, rakyat yang tercekik biaya hidup dan pembangunan yang lebih bersifat pencitraan ketimbang menyejahterakan.

Para pesakitan akan terus tersandera jika pun dukungan, pembelaan, bahkan jilatannya itu mampu membuat jabatan sang penguasa diperpanjang. Bahkan posisinya akan semakin parah, semakin tak berdaya. Sebenarnya ia seperti terjerat di sarang laba-laba. Laba-laba yang bergerak sistematik siap memangsa kapan saja. Di sarangnya.

Satu-satunya jalan untuk lepas dari sandera adalah melawan, bukan tenggelam. Putuskan sarang laba-laba yang sebenarnya lemah. Ikut bersama sama berjuang untuk mengalahkan laba-laba jahat sang penjerat. Putuskan jaringan pencitraannya. Kalahkan dia.
Ganti lakon untuk episode berikut, pesakitan akan menjadi sehat dan ceria kembali. Tentu dengan kerja keras dan perjuangan. “To be or not to be, that is the question,” kata William Shakespiere.

Bandung, 12 Juli 2018.

Komentar

komentar