ojk
Home » Headline » Tragedi Mesin Potong Demokrasi

Tragedi Mesin Potong Demokrasi

Oleh : Zainal Bintang*

Intrik, fitnah, adu domba dan propaganda adalah elemen utama di dalam  farasa  “Saraddasi”. Frasa “Saraddasi” kembali diangkat ke permukaan oleh Ilham Bintang, Ketua Dewan Kehormatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pada acara ILC (Indonesia Lawyer’s Club) yang disiarkan stasiun TV One, Selasa malam (09/10/18).

“Saraddasi” di dalam kehidupan sosial Bugis Makassar adalah sebuah perilaku yang destruktif. Anehnya, meskipun diketahui berfungsi sebagai  momok destruktif, tetap  saja menjadi rujukan di dalam kontestasi  perebutan kekuasaan. Di ranah politik praktis “Saraddasi” menjadi alat pemetik  kemenangan melalui “kematian”  (kehancuran) pihak lain.

Tidak keliru apabila KPU (Komisi Pemilihan Umum)  mengharuskan diadakannya  ”Deklarasi Damai” parpol peserta Pemilu di Monas, Jakarta Minggu, siang (23/09/18).  Mereka mengucap janji : Satu, mewujudkan Pemilu yang langsung, umum bebas, rahasia, jujur dan adil.Dua, melaksanakan kampanye pemilu yang aman tertib, damai, berintegritas, tanpa hoax, politisasi SARA, dan politik uang. Tiga, melaksanakan kampanye berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Deklarasi Damai”  itu menggambarkan adanya  sikon kritis  tengah menimpa bangsa Indonesia dewasa ini. Tahun politik menjadi ancaman keutuhan bangsa. Aktor politik “diharuskan” menjadi murid Taman – Kanak  – Kanak.

Gelombang elemen destruktif tersebut hari – hari ini muncul dengan wajah yang lebih menyeramkan lewat perilaku mereka, aktor itu.  Indonesia dibawa masuk ke dalam kancah “perebutan kekuasaan” yang buas dan keji : Saling meniadakan. Saling menghacurkan : Zero Sum Game.

Ancaman perpecahan bangsa sudah di depan mata. Setuju atau tidak setuju, dewasa ini rakyat  telah terbelah ke dalam dua kubu besar kontestan Pemilu 2019. Gejala keretakan sudah terlihat dimana – mana. Penyebabnya karena  gencarnya gejolak perebutan kekuasaan diantara anak bangsa sendiri, diantara sauadara kita sendiri. Dalam bahasa Inggeris disebut sebagai  “Game Of Thrones” dalam skala lebih kecil.

Gejala saling serang terbuka antara pendukung kubu Jokowi dengan pendukung kubu Prabowo  sudah menjadi rahasia umum. Mulai terpantik pada pra dan paska Pemilu 2014. Kemudian mengalami eskalasi dalam format lebih lokal namun berdampak nasional pada pelaksanaan Pilkada DKI 2017.

Dalam berbagai momen memang  terlihat adanya upaya untuk meredam  konflik dan “permusuhan” politik diantara dua kubu politik besar itu. Misalnya ketika ada acara penutupan Asian Games.  Kedua tokoh bangsa itu  “dipaksa” berpelukan oleh seorang atlit muda bernama Hanifan di Senayan, Rabu malam (29/08/18).

Kenyataan itu  menegaskan bahwa di basis akar rumput pun “perseteruan” kedua kubu itu tidak dapat ditutup – tutupi. Pelukan paksa yang spontan dan mengharukan itu kontan sejenak memang mampu menekan ketegangan.

Peristiwa itu melambungkan ingatan kepada keperkasaan bangsa ini yang tahan banting. Sebutlah sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga hari ini. Ketahanan bangsa ini terdapat di dalam rahim Pancasila yang telah disepakati sebagai ideologi negara. Pancasila telah membuktikan dirinya mampu menjadi perekat aneka perbedaan : Suku, Agama, Ras dan Golongan (SARA).

Di era Bung Karno Pancasila menjadi mantra sakti penghimpun kekuatan bangsa menghadapi segala macam siasat penjajah untuk kembali mengcengkeramnya kuku kekuasaannya.

Pancasila kembali menjadi kekuatan bangsa, berfungsi  sebagai mesin raksasa pendorong pembangunan di era Soeharto untuk mengejar ketertinggalan. Memanusiakan petani. Melahikran Swasembada  pangan yang  mendunia.

Mengapa keperkasaan itu sekarang mulai goyah. Adakah yang sengaja menggoyahkannya? Siapakah yang berperan menggoyahkannya?

Jawabannya adalah : “Saraddasi” itu!  Cara kerja “Saraddasi” memang sangat dahsyat. Mungkin dapat disejajarkan   dengan likuifkasi :  unsur gempa yang menarik tanah tertelan bumi jauh ke bawah dan lanyap.

Skenario “Saraddasi” harus dinyatakan memang sengaja dipersiapkan, entah oleh siapa, untuk merobohkan nasionalisme bangsa ini. Membuat masyarakat pelan – pelan skeptis terhadap Pancasila. Karena  Pancasila dirasakan gagal mengatasi ketimpangan  antara yang maha kaya (kapitalis) dengan rakyat kecil (simiskin).

Inilah kampanye hitam kelompok anti Pancasila di dalam tubuh bangsa  yang saat ini  yang harus terus diwaspadai dan dilawan. Karena terus dihembuskan oleh aktor politik penghianat bangsa untuk menggagalkan kesinambungan keperkasaan bangsa Indonesia. Mereka menggunakan skenario “Saraddasi” yang berwajah lembut namun mematikan.

Sangat aneh, apabila  nafsu berkuasa yang begitu besar para politisi itu mengalahkan tanggung jawabnya untuk melindungi keutuhan bangsa. Ini pertanda calon pemimpin bangsa itu telah gagal faham menghayati ideologi bangsanya sendiri. Keutamaan ideologi telah terdegradasi menjadi sekedar sebuah jubah penipuan terhadap rakyat pemilihnya.

Seluruh komponen bangsa harus kembali ke rahim Pancasila. Jangan hanya berdiam diri. Jangan membiarkan “Saraddasi” merajalela membunuh demokrasi dan pelan – pelan akan membunuh pula bangsa ini.

“Apabila dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”, kata Bung Karno.

 

*Zainal Bintang, wartawan senior dan pemerhati sosial budaya.

 

 

Komentar

komentar