Home » Headline » Hakikat Sebuah Pendidikan

Hakikat Sebuah Pendidikan

Oleh: Amanuddin

 

Suasana belajar yang seperti ini harus mampu menumbuhkan keperibadian yang positif untuk membangun masa depan

Sebuah ungkapan “Tuntutlah ilmu semenjak dari buaian sampai ke liang lahat”.  Hendaknya kita tidak berhenti menuntut ilmu hingga meninggal dunia.  Cropley berpendapat “life long education” merupakan pendidikan sepanjang hayat, pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya.

Pendidikan sepanjang hayat menjadi semakin tinggi urgensinya pada saat ini karena manusia terus menerus menyesuaikan diri supaya dapat tetap hidup secara wajar dalam lingkungan masyarakat yang selalu berubah. Sisi lain pendidikan sepanjang hayat adalah peluang yang luas bagi seseorang untuk terus belajar agar dapat meraih keadaan kehidupan yang lebih baik.

Secara Etimologi atau asal-usul, kata pendidikan dalam bahasa inggris disebut dengan education, dalam bahasa latin pendidikan disebut dengan educatum yang tersusun dari dua kata yaitu E dan Duco dimana kata E berarti sebuah perkembangan dari dalam ke luar atau dari sedikit ke banyak, sedangkan Duco berarti perkembangan atau sedang berkembang. Jadi,

Secara Etimologi pengertian pendidikan adalah proses mengembangkan kemampuan diri sendiri dan kekuatan individu.  Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Dari pengertian tersebut kita dapat memahami bahwa pendidikan adalah suatu proses tuntunan, arahan kepada peserta didik dan mempunyai tujuan yang jelas. Sebagaimana di  amanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945 Bab XIII tentang Pendidikan dan Kebudayaan Pasal 31 ayat 3 dikatakan bahwa “ Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlaq mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Mengutip sambutan Bapak Anies Rasyid Baswedan, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, “Pendidikan adalah tentang masa depan. Pendidikan adalah tentang menyiapkan generasi baru. Pendidikan bukanlah membentuk, tapi pendidikan adalah menumbuhkan.

Karena ia menumbuhkan, maka hal yang fundamental yang dibutuhkan adalah tanah yang subur dan juga iklim yang baik. Kalau kita membayangkan anak-anak itu sebagai bibit (biji), maka biji itu tidak kelihatan batangnya, tidak kelihatan akarnya, dan tidak kelihatan daunnya karena ia masih biji.

Sehebat apapun sebuah biji, maka tidak akan kelihatan semua komponennya. Namun nanti ketika biji tanaman itu sudah tumbuh berkembang, maka akan terlihat batangnya, akan terlihat daunnya, akan terlihat buahnya, akan terlihat bunganya. Tapi saat itu masih berupa biji belum terlihat. Kadang-kadang kita melihat biji seperti melihat tanaman yang lengkap.

Lalu kita ingin biji ini punya semuanya. Punya bunga dan lainnya. Tentu tidak bisa. Untuk menjadi tumbuhan yang lengkap, biji itu memerlukan waktu, memerlukan proses penumbuhan. Biji yang baik juga membutuhkan lahan yang subur. Di mana lahan yang subur itu?  Yaitu di rumah, di sekolah dan diantara rumah dan sekolah yakni lingkungan.

Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan maka bayangkan seperti kita menumbuhkan biji itu. Karena itu saya sering mengatakan jangan gunakan kata membentuk, apalagi kalau akhlaq. Akhlaq itu ditumbuhkan,karakter itu ditumbuhkan tidak bisa dibentuk.

Dulu saat kita sekolah pasti pernah praktek biologi tentang dua tanaman yang satu dipasang dekat matahari, yang satu jauh dari matahari. Beloknya beda bukan? Bibitnya sama, tanahnya sama, potnya sama, arah tumbuhnya sama tidak? Maka jawabannya tidak sama. Jadi kita mau belok kanan- belok kiri itu bukan daunnya yang dibelokkan, tapi rangsangannya yang berbeda.

Cuacanya diatur, lokasinya diatur. Karena itu mengelola sebuah sekolah, mengelola sebuah intitusi pendidikan itu adalah mengelola rekayasa. Sebagai contoh, di rumah kita bisa menjadikan anak kita menjadi anak yang individualis atau anak yang dekat dengan saudara-saudaranya. Misalnya sebuah keluarga dengan empat anak. Kita buat setiap kamar ada kamar mandinya agar semuanya rapi bersih semua.

Kamar mandi di dalam kamar. Sementara keluarga yang lain, dengan empat anak juga memiliki rumah dengan kamar mandi satu, di luar kamar. Maka apa yang terjadi? Keluarga yang pertama anak-anaknya tumbuh individualis. Semuanya diselesaikan sendiri. Keluar kamar semua sudah bersih. Sedangkan keluarga kedua, anak-anak tiap hari rebutan kamar mandi. Ada yang sikatannya lama, ada yg kalau mandi harus diketok-ketok, ada yang sering samponya ketinggalan. Mereka akan tumbuh berbeda dengan anak-anak di keluarga pertama.

Oleh karena itu jangan bayangkan pendidikan itu sesuatu yang tertulis, dibaca, dihafalkan, lalu diuji. Karena pendidikan itu adalah proses pembiasaan. Jadi kita bisa merancang anak kita sesuai skenario yang kita buat. Karena itu kemewahan keluarga dan kemewahan institusi pendididkan adalah bagaimana membuat aturan main yang membentuk perilaku.

Saya berharap kita yang bergerak dalam bidang pendidikan memikirkan rekayasa itu. Sekolah kita hari ini: anaknya abad 21, gurunya abad 20, ruang kelasnya abad 19. Kalau mau memikirkan sekolah dan pendidikan, maka pikirkanlah masa depan. Rekayasalah untuk masa depan. Umat islam gagal atau berhasil bukan masalah mampu dan tidak mampu, tapi bagaimana cara mengantisipasi perubahan. Di sinilah masalahnya.

Untuk menumbuhkan biji agar tumbuh dengan baik, pendidikan hendaknya diselenggarakan dengan sistem yang terstruktur, terukur yang dilandasi dengan semangat kompetensi, serta bermain dalam suasana kompetisi.

Visi ibarat sebuah rumah. Penghuni yang akan melakukan aktivitas berawal dari rumah. Kemana arah hari ini melangkah,  apa yang akan didapatkan, kebutuhan apa yang harus disediakan? Semuanya berawal dari rumah. Bila arah dan target yang akan dituju melenceng dari rencana, berarti harus kembali ke rumah lagi untuk dilakukan evaluasi”.

Penulis adalah dosen MSDM pada Universitas Pamulang

Komentar

komentar