Home » Headline » Nostalgia Masa Depan Manusia Post Colonial

Nostalgia Masa Depan Manusia Post Colonial

Oleh: Roby Muhamad

Roby Muhamad, seorang fisikawan ITB yang kemudian menekuni sosiologi. Risetnya tentang dunia kecil menarik minat para wartawan didunia.

JABARTODAY.COM – Dua teman lama, Ateis dan Taat namanya, bertemu melepas rindu. Ateis bercerita pengalamannya mengunjungi Kutub Selatan. Katanya, “Tiba-tiba saja mesin kapal mati. Begitu juga peralatan komunikasinya,” Terjebak di antara bongkahan es, di dalam keadaan putus asa, Ateis berdoa, “Tuhan, jika engkau memang ada, tolonglah kami”. Belum lima menit, muncullah dua orang Eskimo dengan kereta anjingnya. Ringkasnya, rombongan Ateis selamat kembali ke peradaban.

“Lantas apa yang masih membuat kamu menjadi ateis? Bukankah kamu sudah diselamatkan dari pelosok Kutub Selatan,” tanya Taat, yang memaknai pertolongan itu dari Tuhan.

Ateis menyanggah, “Bukan Tuhan yang menyelamatkan. Dua orang Eskimo tadilah penyelamat kami”.

Inilah ilustrasi realitas masa kini:  kita hidup di dalam kantong-kantong arogansi individu. Saking sulitnya keluar dari kantong-kantong itu, orang lebih suka mengajak bahkan memaksa orang lain masuk ke dalam kantongnya sendiri. Orang enggan keluar berkelana, apalagi membangun jembatan penghubung antar-kantong. Alih-alih didukung, mereka yang berusaha membangun jembatan lebih sering dicurigai oleh kedua belah pihak.

Kantong-kantong arogansi ini diberi banyak nama tergantung perannya. Pemerintahan menyebutnya ego-sektoral, bidang bisnis menyebutnya silo, kaum akademis menyebutnya disiplin ilmu, mahzab, atau paradigma,  dan motivator yang menyebutnya zona nyaman. Meskipun orang sadar perlunya berpikir dan bertindak melampui kantong-kantong arogansi ini, tetapi kenyataan sehari-hari malah mendorong kita semakin masuk ke dalamnya.

Kembali pada cerita Ateis dan Taat, rasanya percuma saja membahas siapa yang benar karena hanya akan berujung pada debat kusir. Namun juga terlalu naif jika kita mengambil posisi normatif dengan mengatakan Ateis dan Taat sama-sama benar dan kita harus bertoleransi. Posisi normatif seperti ini ibarat menyapu kotoran ke bawah karpet: tidak benar-benar menyelesaikan masalah, tetapi hanya menyembunyikannya sampai masalahnya muncul kembali.

Malam ini, saya mengajak hadirin mengeksplorasi berbagai kantong-kantong arogansi pemikiran, yang secara terpisah, mengklaim memberikan makna utama akan keberadaan manusia. Saya memberanikan diri memandu eksplorasi ini karena memang saya sendiri telah dan sedang melakukannya sejak 25 tahun terakhir.

Saya telah berpetualang melintas berbagai disiplin ilmu akademis, aktif di dunia bisnis, dan menjadi anak bawang di dunia seni. Dan semuanya berawal dari kebosanan. Jadi, suatu hari ayah saya yang sudah memiliki tiga anak merasa bosan bermain dengan anak-anak anjing. “Ingin mainan baru,” begitu rengek ayah saya yang lalu diamini ibu saya. Maka lahirlah saya, terpisah belasan tahun dengan kakak-kakak saya. Mungkin karena itu hidup saya penuh perjuangan melawan kebosanan. Karena kedua orangtua saya adalah dosen, bukan pengusaha, pejabat, atau seniman maka mainan yang saya cari adalah mainan-mainan intelektual.

Demikianlah selama 35 tahun saya sekolah non-stop dari TK hingga doktoral. Belajar fisika, statistik, sosiologi hingga psikologi. Dibantu teman-teman, saya tulis beberapa makalah ilmiah serta bangun start-up teknologi.

Jadi malam ini, saya akan bercerita, bukan berfilsafat, mengenai petualangan saya berkelana dari satu spesialisasi ke spesialisasi lain. Saya ingin memberikan sebuah laporan pandangan mata dari petualangan intelektual saya yang mungkin bisa memberikan sedikit kontur pengalaman manusia–yang bisa membantu kita menavigasi kehidupan pribadi dan kolektif.

Saya akan coba tunjukkan di mana ranjau-ranjau ditanam, lubang-lubang terselubung berada, dan di mana jembatan atau terowongan untuk pembaharuan berpeluang kita bangun.

Saya berani menceritakan pengalaman saya yang sederhana ini karena dua alasan: Pertama ada di level individu. Salah satu kenyataan yang kita alami hari ini adalah begitu sengitnya kompetisi. Dorongan untuk bertahan hidup membuat kita fokus mencari keunggulan individual. Keunggulan yang, jika mungkin, tidak dimiliki oleh orang lain, tetapi dibutuhkan atau diinginkan orang lain.

Jawaban dari fenomena ini adalah spesialisasi: Menjadi bagian kecil, tetapi penting dari sebuah sistem ekonomi raksasa. Akibatnya, kita terbiasa melihat manusia hanya dari dalam kotak masing-masing. Maka itu, di malam istimewa ini, mari kita gunakan beberapa jam mendatang untuk menelaah makna menjadi manusia ditinjau dari berbagai titik pengamatan.

Kedua, alasan kolektif. Peradaban manusia sedang berada pada lampu kuning. “Kuning” berarti situasi atau masa transisi. Setelahnya, keadaan bisa membaik menjadi lampu hijau atau malah memburuk menjadi lampu merah. Contoh lampu merah yang sudah di ambang mata adalah patahnya demokrasi, Perang Dunia Ketiga, pandemik, dan kepunahan massal akibat bencana ekologis.

Untuk membuat lampu kuning berubah menjadi lampu hijau, kita harus memeriksa keadaan sekarang dan masa depan manusia secara menyeluruh, dilihat dari berbagai tradisi berpikir. Karena mengutamakan keluasan cakupan, maka saya harus mengorbankan kedalaman pembahasan.

Risiko kehilangan kedalaman ini diambil, karena saya percaya bahwa obsesi terhadap pengetahuan yang terspesialisasi inilah yang membawa kita pada situasi lampu kuning tadi. Untuk menyelamatkan peradaban manusia, termasuk di dalamnya peradaban Indonesia, kita perlu mengubah kebiasaan berpikir “terkotak-kotak” yang merupakan artefak pendidikan abad ke-20.

Saya telah memulai dan masih berusaha membebaskan diri dari pengotakan pikiran dan kantong-kantong arogansi. Dan saya bisa bilang ini: Kebebasan yang nyata adalah ketika kita mampu keluar dari arogansi diri sendiri, dari lubang-lubang pikiran, kebiasaan, dan pengetahuan yang sudah ada. Keluar dari lubang butuh kekuatan, seperti roket yang hanya mampu menembus angkasa jika memiliki mesin cukup kuat untuk mengalahkan gaya gravitasi bumi. Kita baru bebas setelah mengalahkan “gaya gravitasi” diri kita sendiri—dan itu butuh kerja keras, disiplin, dan ketekunan.

Petualangan akan kita mulai dari level paling umum yang mencakup totalitas perilaku dan sifat kolektif kehidupan manusia yang biasa disebut budaya. Dari situ kita akan mempersempit cakupan seperti makna moral, politik, sosial, teknologi, psikologi, biologi, hingga fisika dari eksistensi manusia yang sedang bersusah payah berjuang untuk meraih kebebasan.

Keberadaan lapisan-lapisan ini adalah realitas yang kita alami setiap saat. Namun saat melakukan analisis atau refleksi, kita sering mengabaikan lapisan-lapisannya. Begitu banyak insentif untuk menjadi spesialis, sedangkan untuk menjadi seorang generalis lebih banyak disinsentifnya.

Generalis sering disamakan dengan amatir. Padahal generalis adalah mereka yang berusaha memegang teguh prinsip bahwa realitas tidak bisa dimutilasi menjadi potongan-potongan kecil. Seorang generalis selalu berusaha menjunjung tinggi kemanusiannya, bukan mesin, untuk menjadi relevan dalam banyak aspek kehidupan. Hadirin, mari lepaskan penat dari tanggung jawab dan tuntutan profesi masing-masing dan nikma suguhan simfoni realitas dengan segala pernak-perniknya.

  1.     BUDAYA

Dalam urusan budaya, sepertinya ada tekanan kuat untuk mengadopsi budaya Barat. Istilah budaya Barat, untuk sekarang ini, cukuplah kita artikan sebagai sistem di mana fungsi sosial semakin terdiferensiasi akibat tekanan kompetisi. Semakin maju tingkat diferensiasi, semakin banyak fungsi sosial. Semakin banyak fungsi sosialnya, semakin bergantunglah indvidu pada individu lain. Misalnya, tidak sulit menemukan sebuah keluarga kelas menengah ke atas yang kelancaran hidupnya bergantung pada asisten rumah tangga, pengurus anak, supir, penasihat keuangan, konsultan pajak, hingga make-up artist.

Semakin orang bergantung satu sama lain, semakin kehidupannya harus diatur seakurat dan sedetail mungkin, agar setiap orang bisa menjalankan fungsi sosialnya. Tak heran jika dalam kehidupan sehari-hari, kita didorong untuk selalu membuat perencanaan dan bertindak rasional.

Jika budaya Barat mengagung-agungkan perencanaan dan rasionalitas maka wajar kita bertanya bagaimana budaya ini dibangun pada awalnya. Strategi kebudayaan seperti apa yang dahulu dipakai untuk membebaskan Eropa dari Masa Kegelapan? Perencanaan dan sikap rasional seperti apa yang ditunjukkan oleh para pendobrak Gerakan Pencerahan?

Ternyata, penelitian mutakhir menyebutkan pemicu gerakan ini bukan berasal dari strategi rasional atau perencanaan yang matang! Gerakan Pencerahan lahir dari strategi ambigu yang bertumpu pada keberagaman.

Mari kita ke Florence, Italia abad ke-15 ketika bibit-bibit gerakan pencerahan Eropa mulai disemai. Saat itu, Florence dikuasai oleh keluarga-keluarga kecil yang berkompetisi. Begitu banyak keluarga, tetapi keluarga Medici-lah yang akhirnya memenangkan persaingan mengkonsolidasikan kaum elite, dan  memunculkan sebuah revolusi, bahkan sebuah peradaban baru. Yang menarik, sang pemimpin keluarga, Cosimo Medici digambarkan sebagai orang yang pasif dan lebih senang berada di balik layar. Dalam aneka pertemuan tertutup pun, Cosimo tetap tak bicara banyak. Tanpa memberikan komitmen, dia sering menutup pertemuan dengan perkataan, “Saya akan lihat dan pertimbangkan hal itu”.

Ada penjelasan menarik soal ini—dari banyak penjelasan. Keluarga Medici memenangkan persaingan bukan karena jadi keluarga paling kuat, paling kaya, dan paling berkuasa, tetapi  karena posisi strukturalnya dalam jejaring sosial yang ada pada saat itu. Medici menjalin berbagai relasi yang membentuk jejaring besar yang berpusat pada keluarganya. Posisi struktural ini bisa dicapai karena Medici membangun kekuatan secara perlahan, tekun, dan dengan cara yang sulit ditebak. Medici membangun relasi berlapis-lapis dan jejaring rumit yang tak seorangpun, termasuk Medici, mengetahui pasti arena dan konstelasi sebenar.

Ambiguitas, ketidaktahuan, dan ketidakpastian ini tidak menjadi penghalang bagi Medici, tetapi justru menjadi sumber kekuatan karena segala manuvernya menjadi tersamar. Medici memiliki banyak kepentingan dan tujuan, serta bergerak simultan menuju berbagai tujuan tersebut.  Baginya, kepentingan bisnis, politik, dan keluarga selalu tercampur sehingga lawan-lawannya sulit menebak langkah berikutnya.

Kalau dia terlalu rasional dan terencana dalam mengejar satu tujuan maka lawan akan mudah mengantisipasi langkah-langkahnya. Dengan kata lain, Medici tak punya strategi global. Namun dia memilih strategi lokal yang memanfaatkan ambiguitas secara kreatif.

SZcxot1fTHDkaKW1yvXYZMYptTLBJ4Sw.jpg

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah strategi budaya yang kokoh untuk jangka panjang mungkin bukan berasal dari strategi yang terencana matang, menyeluruh, dan rasional, melainkan strategi ambigu yang mampu mengelola ketidakpastian dan keberagaman. Strategi ini bertumpu pada penciptaan kreatif kemungkinan-kemungkinan baru. Improvisasi dan adaptasi terhadap lingkungan lebih berperan dibanding perencanaan dan mencapai tujuan pribadi.

Di sini kita bisa lihat ironi, bahwa peradaban yang menjunjung tinggi rasionalitas dan homogenitas demi efisiensi, justru dibangun dengan sebuah strategi budaya yang utamanya memanfaatkan ambiguitas dan keberagaman.

Hadirin, fungsi utama budaya adalah pemaknaan. Dari pemaknaan terhadap realitas dan fenomena ini kita mengkonstruksi identitas kita. Dari identitas ini, muncullah perilaku dan sikap yang lebih mekanis seperti rasionalitas beserta hitungan untung-ruginya. Kita membutuhkan pemaknaan dari apa yang kita alami setiap saat agar tidak terasa acak dan absurd. Karena itulah budaya bersifat praktis dan berperan aktif sebagai strategi navigasi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya peran pasif dan normatif yang hanya memberikan tujuan atau nilai-nilai ideal.

Jika budaya adalah suatu strategi pemaknaan, lantas strategi budaya seperti apa yang cocok bagi kita?

Filsuf Arthur Danto berargumen, makna hanya bisa dibangun oleh apa yang dia sebut kalimat naratifKalimat naratif adalah kalimat yang hanya bermakna jika diucapkan setelah kejadian bermaknanya terjadi. Sebagai contoh, kita tahu bahwa Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 dan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Tetapi, kalimat pertama tidak bermakna signifikan (karena ada banyak bayi laki-laki yang lahir di Surabaya) sampai setelah tanggal 17 Agustus 1945. Sebelum tahun 1945, kita tidak bisa berkata bahwa pada tahun 1901 lahirlah seorang proklamator di Surabaya karena proklamasinya belum terjadi.

Di sini terlihat, pemaknaan sebuah fakta hanya bisa terjadi melalui peristiwa-peristiwa di masa depan. Karena fakta atau kronologi masa lalu sudah hilang dari genggaman, yang nyata bagi kita bukan lagi faktanya melainkan maknanya. Di sinilah kebenaran –yang sebetulnya adalah pemaknaan–dipertarungkan. Karena itu, penting bagi kita memiliki strategi budaya yang tepat untuk mempertahankan makna dalam hidup kita.

Di dalam dunia yang relatif stabil, masa depan mungkin akan “begitu-begitu” saja sehingga makna memiliki usia yang relatif panjang. Namun dalam dunia yang bergejolak dan cepat berubah seperti sekarang, makna akan lebih cepat kedaluwarsa, kecuali kita dapat melampui periode perubahan yang ada. Karena selalu ada peluang untuk perubahan makna, kita akan diuntungkan jika tidak cepat-cepat melakukan klaim pemaknaan.

Sebuah klaim pemaknaan akan mengundang klaim pemaknaan lain dan begitu seterusnya. Implikasi lain dari keadaan yang bergejolak ini adalah akan sangat sulit kita membuat strategi global. Yang lebih tepat dilakukan adalah menyusun strategi lokal yang beragam dalam taktik dan tujuan.

  1. MORAL

Bayangkan Anda berada di dalam situasi perang. Tiba-tiba saja tentara musuh mendekat menuju ke rumah Anda. Semua penghuni rumah sigap masuk ke dalam ruangan persembunyian yang sudah disiapkan. Setiap orang duduk diam, tegang, dan cemas mendengar suara-suara tentara yang lalu lalang di dalam rumah. Dari dalam ruangan, bayi yang ikut bersembunyi tampak mau menangis. Semua orang panik, karena tentara musuh ini terkenal kejam dan tidak segan membunuh rakyat sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Jika tangis bayi terdengar, sudah pasti mereka semua akan mati. Semua mata tertuju pada si ibu yang menggendong bayi. Sambil bercucuran air mata, sang ibu meletakkan telapak tangannya di muka bayinya. Dia harus memilih: apakah membekap bayinya dengan risiko si bayi meninggal dan yang lainnya selamat atau membiarkan bayi menangis dengan risiko semua orang di ruangan akan mati?

Skenario di atas dikenal sebagai moral dilema. Sang ibu menghadapi pilihan moral: mengorbankan satu orang demi keselamatan orang banyak atau berpegang pada prinsip tak boleh membunuh siapapun meskipun risikonya banyak orang meninggal. Si ibu pasti punya moral, tetapi pertanyaannya adalah moral mana yang dia pilih. Tidak ada artinya ketika kita mengatakan seseorang bermoral atau tidak. Tetapi yang bisa kita katakan mungkin moral orang tersebut berbeda dengan moral kita.

Riset terakhir menunjukkan ada enam tipe moral yang dipakai oleh manusia, yaitu moral yang mengutamakan kesucian, loyalitas, keadilan, kebebasan, otoritas, dan kepedulian. Riset lainnya di Amerika menemukan orang yang berideologi liberal cenderung hanya mementingkan dimensi kepedulian dan mengabaikan dimensi moral lainnya. Sementara itu kelompok konservatif, cenderung menganggap semua dimensi moral sama pentingnya. Riset itu juga menemukan bahwa basis moral adalah intuisi, bukan nalar rasional.

Mari kita bayangkan ada sekumpulan kecoa yang bersih dan steril hasil budidaya di laboratorium. Lalu kecoa ini diblender menjadi jus kecoa. Saat ditanya apakah bersedia minum jus kecoa ini, kebanyakan orang menolak. Ketika ditanya apa alasan menolak minum jus kecoa, kebanyakan kesulitan menemukan jawaban dan berusaha melakukan rasionalisasi. Jadi tampaknya mereka secara intuitif menolak minum karena merasa jijik. Dan jijik adalah kebalikan suci jadi termasuk dimensi moral kesucian.

Dari situ kita bisa mengerti kenapa hal yang berkaitan erat dengan moral seperti ideologi, politik, dan agama dapat dengan mudah memecah-belah masyarakat. Itu disebabkan karena bisa jadi setiap kelompok berpegang pada dimensi moral yang berbeda.

Nalar lebih sering dipakai untuk merasionalisasi moral—yang berbasis intuisi. Debat rasional yang dipercaya dapat memoderasi perbedaan dan mengurangi posisi ekstrem, justru memiliki dampak sebaliknya. Debat menggiring orang mencari pembenaran yang lebih kuat menurut kelompok masing-masing. Opini atau kepercayaan menjadi ekstrem, maka muncullah polarisasi. Jika mekanisme rasional seperti diskusi, debat, dan berbagi informasi cenderung tidak mengurangi perbedaan malah memperuncing perbedaaan, maka kita perlu mencari pendekatan lain.

rWZt7zhgZKaToRwcVTOpoHG4I6T-4tv0.jpg

Mari kita tengok eksperimen lainnya. Misalkan, ada Kelompok Kiri dan Kelompok Kanan. Kedua kelompok sudah lama berevolusi dan tidak pernah berinteraksi sama sekali sehingga memiliki moral, kepercayaan, dan nilai yang berbeda. Mereka memiliki sejarah beribadah, hari-hari besar, dan menjalankan sistem ekonomi dan politik masing-masing.

Meski terpisah, Kelompok Kiri dan Kanan hidup damai, makmur, dan bahagia. Suatu saat, hutan lebat yang memisahkan Kelompok Kiri dan Kanan terbakar habis. Di antara lahan mereka kini ada sebuah lahan kosong dan subur terbuka untuk diolah. Melihat peluang ini, baik Kelompok Kiri dan Kanan mengirim utusan ke lahan baru ini. Akhirnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka bertemu.

Lantas apakah mereka bisa bekerja sama untuk memanfaatkan lahan terbuka ini? Atau justru mereka akan berperang memperebutkan lahan itu?

Di atas sudah disebutkan bahwa Kelompok Kiri dan Kanan memiliki moral yang berbeda. Kelompok Kiri punya kepercayaan bahwa setiap kali bertemu dengan orang baru, mereka harus salaman dengan tangan kiri—selain tangan kiri adalah perbuatan dosa. Sementara itu Kelompok Kanan percaya bahwa saat bertemu dengan orang baru, mereka harus salaman dengan tangan kanan—salaman dengan tangan kiri adalah dosa.

Salaman sebagai tanda persahabatan dan mencapai harmoni sosial hanya bisa terjadi jika ada yang mengalah atau, bahkan lebih dari itu, melakukan perbuatan dosa! Solusi lainnya adalah merumuskan moral baru yang dapat mengakomodasi Kelompok Kiri dan Kanan. Membuat moral baru tentu bukan hal mudah dan butuh waktu agar terinternalisasi dengan baik.

Moral memiliki banyak fungsi, tetapi salah satu yang utama adalah sebagai pengikat keutuhan sosial. Manusia yang hidup sendirian di sebuah pulau tanpa manusia lain tidak membutuhkan moral. Hanya ketika hidup dengan manusia lain, seseorang memerlukan moral sebagai bentuk solidaritas yang memungkinkan keberlangsungan kolektif.

Dengan kata lain  kepentingan pribadi terkontrol oleh moralitas. Tantangan muncul saat masyarakat yang berbeda-beda moralnya terekspose satu sama lain. Dalam kasus ekstrem, mengintai trade-offantara perbuatan dosa dan harmoni sosial.

  1. POLITIK

Akhir-akhir ini, kompetisi politik yang sengit dengan polarisasi yang tajam terjadi di Indonesia dan beberapa negara demokratis lain di dunia. Dalam situasi ini, salah satu pertanyaan yang muncul adalah apakah pemilu bisa menghasilkan pemenang yang “salah”?

Ambil contoh pemilihan gubernur DKI Jakarta beberapa bulan lalu. Dalam pemilu itu, Pak Gubernur meraup tiga juta suara lebih, pesaingnya gubernur yang lalu meraih sekitar dua juta suara. Tentunya wajar, masing-masing pemilih yakin pilihannya adalah pilihan yang benar. Juga wajar pendukung Pak Gubernur merasa benar, karena jagoannya memang menang dan terjustifikasi oleh hasil akhir pemilu. Yang menarik adalah melihat pendukung pasangan yang kalah—pendukung ini cenderung memiliki keyakinan tinggi. Ketika mayoritas rakyat Jakarta memberikan pilihan yang berbeda maka ada dua reaksi umum pendukung ini.

Pertama, mereka menganggap pendukung lawan sebagai pihak yang “salah” atau “bodoh” atau kedua, menganggap pendukungnya “dibohongi” dengan informasi sesat. Kitapun lantas bertanya, seberapa mungkin jutaan orang “salah”, “bodoh”, atau “dibohongi?” Jika ikut alur berpikir seperti ini, kita akan sampai pada kasus-kasus di mana sistem demokratis menghasilkan pemimpin yang tidak demokrasi—Hitler contoh paling umum.

Tetapi bukankah banyak juga pemilu yang menghasilkan pemimpin yang “benar?” Apakah nasib demokrasi ditentukan jumlah pemimpin “benar” yang telah dihasilkan?

GtQRpYoQyB9znDLjFDZr4ewLm8fyrApq.jpg

Ada yang berusaha mengambil jalan tengah dengan mengatakan bahwa legitimasi demokrasi tidak ditentukan oleh hasil pemilu, tetapi oleh prosedur pemilu itu. Selama pemilu tersebut dijalankan secara adil dan jujur, hasil apapun adalah sah dan “benar.” Argumen demokrasi prosedural ini menarik.

Jika demikian, buat apa kampanye para kandidat? Bukankah asumsi di balik kampanye adalah adanya pilihan yang benar yang direpresentasikan oleh para kandidat. Jika kandidat tidak merepresentasikan pilihan yang “benar” maka kampanye tidak diperlukan lagi, karena yang penting adalah prosedurnya yang jujur dan adil.

Jika kita bersikukuh pemilu bisa menghasilkan pemimpin yang baik dan benar maka ada asumsi implisit, yaitu kumpulan individu memiliki semacam kecerdasan di luar individu itu sendiri. Kita sebut saja sebagai kecerdasan kolektif. Jika kecerdasan kolektif ini memang ada, lalu bagaimana kita bisa mengakses kecerdasan kolektif ini? Mekanisme apa yang paling baik untuk merangsang kecerdasan kolektif? Apakah sistem satu-orang satu-suara merupakan sistem paling efektif untuk menangkap kecerdasan kolektif?

Ada hal lain yang perlu diperhatikan untuk menyelamatkan demokrasi yang sedang mengalami krisis ini: demokrasi partisipatif. Sistem demokrasi yang dipakai di Indonesia dan di dunia adalah variasi dari sebuah sistem demokrasi representatif. Sistem demokrasi ini berfokus pada pemerintahan, di mana pemilu—baik memilih walikota, bupati, gubernur, presiden, atau anggota legislatif—menjadi puncak kegiatan demokrasi ini.

Demokrasi dimaknai memilih representasi warga yang menjadi pejabat publik, bukan terfokus pada kebutuhan dan partisipasi warga. Jika kita anggap ide ini serius maka tantangan di depan cukup berat. Alasan normatif demokrasi—yaitu demokrasi penting dan terbaik karena menjunjung nilai-nilai mulia seperti keadilan dan kebebasan—sudah tidak cukup lagi.

Kita perlu demokrasi yang lebih pragmatis, yaitu demokrasi yang memang memberikan hasil terbaik. Kita harus menemukan sistem politik yang bisa menampung variasi heterogenitas yang ada. Pemilu hanya salah satu mekanisme dari banyak mekanisme lain untuk mengaggregasi preferensi warga.

Salah satu tantangan terberat masa kini adalah kita hidup di dunia yang begitu terkoneksi. Kepentingan politik telah menembus batas geografis. Kebijakan Presiden Amerika misalnya telah berdampak pada dunia, tetapi warga di luar Amerika tak memiliki suara untuk menentukan siapa Presiden Amerika.

Dengan demikian, mungkin saja sistem politik akan menuju seperti sistem finansial di mana sekat geografis semakin tidak relevan, seperti uang digital yang tidak memiliki kedaulatan secara geografis. Apakah mungkin kita membuat sistem politik seperti ini? Terdengar klise, sedikit, tetapi pasti semakin banyak warga yang menjadi warga dunia.

Kita perlu membuat sebuah sistem politik yang bisa secara lebih serius mengangkat kegiatan warga—juga dengan memanfaatkan penggunaan internet. Kita telah melihat berbagai kemungkinan kolaboratif yang menggunakan teknologi itu muncul, mulai dari wikipedia sampai pada berbagai crowdsourcing dan crowdfunding.

Bentuk kolaborasi ini menunjukkan bahwa teknologi amat mungkin dipakai untuk membuat sebuah sistem yang lebih berpusat pada warga tinimbang pemerintahan. Tantangan kita adalah membuat sistem demokrasi yang ditopang teknologi yang tepat sehingga dapat memunculkan dan mengelola kecerdasan kolektif dengan partisipasi aktif warga secara berkesinambungan. Ini bukan hanya tantangan bagi Indonesia, tetapi juga tantangan global, jika kita masih menginginkan sistem demokrasi.

  1. SOSIAL

Suatu hari saya bertanya pada anak saya, saat itu duduk di kelas empat Sekolah Dasar.

“Kamu tahu Pancasila?”
“Ya aku tahu” jawabnya.
“Coba sebutkan,”
Nggak bisa,”
Lho, katanya tahu, sebut saja seingatnya,”
“Iya aku tahu, tapi nggak bisa,”
Saya heran, “Sebut saja yang kamu ingat, kan kamu tahu Pancasila,”
“Papa, aku tahu tapi aku nggak bisa,”
“Kenapa?” tanya saya.
“Aku gak pernah berlatih bela diri,”

Awalnya saya bingung, tetapi lalu mengerti. Sambil tersenyum saya berkata, “Itu pencak silat, bukan Pancasila.”

Anak saya bukan aktivis yang terpengaruh ideologi atau dogma tertentu sehingga mengabaikan Pancasila. Bukan. Dia tidak mengenal Pancasila bukan karena keputusan sadar, apalagi sebagai bentuk perlawanan. Dia tidak kenal Pancasila karena Pancasila bukan sesuatu yang menarik. Bukan sesuatu yang bagi dia pantas mendapatkan perhatiannya. Bukan sesuatu yang masuk radar untuk dikenali, dipahami, apalagi dilakukan.

Boleh jadi, pengalaman ini juga terjadi pada orangtua lain. Bisa jadi banyak anak sekarang tidak mengenal Pancasila hanya karena Pancasila tidak dianggap sesuatu yang menarik dan relevan. Itu tidak berarti Pancasila sebagai ideologi kalah oleh ideologi tandingan. Yang menjadi ancaman bagi Pancasila bukanlah ideologi lain, tetapi perhatian kita yang semakin berkurang.

Ini bukanlah hal baru. Tengok ilustrasi dari sebuah debat yang pernah terjadi pada pertengahan abad silam antara George Orwell dan Aldous Huxley. Ketika sebagian besar muka bumi luluh lantah akibat Perang Dunia, Orwell dan Huxley mengantisipasi masa depan dengan sama-sama memberikan gambaran masa depan peradaban manusia yang suram. Keduanya pesimistis akan proyek pencerahan yang bercita-cita mengantarkan manusia pada kebebasan melalui nalar dan pengetahuan akan kebenaran.

Meski begitu, dalam hal bagaimana manusia kehilangan kebebasannya dan terpisahkan dari kebenaran, Orwell dan Huxley menempuh jalan yang sangat berbeda. Bagi Orwell, ancaman terbesar datang dari penguasa otoriter—bisa berlandaskan ideologi apa saja: fasis, rasis, atau ekstremis religius. Rezim ini memiliki kekuasaan hampir tanpa batas sehingga mampu mengkontrol informasi, melakukan sensor, serta menutupi dan memanipulasi kebenaran. Rezim ini hidup dari rasa takut yang mencekam dan berkomunikasi dengan bahasa kekerasan, baik mental maupun fisik.

Sedangkan bagi Huxley, ancaman terbesar bukan datang dari tirani, tetapi dari kelemahan mental manusia, berupa kemalasan dan kesukaan untuk selalu diganggu perhatiannya. Kalau Orwell mengkhawatirkan rezim otoriter akan melarang peredaran buku, Huxley malah beranggapan pelarangan buku tidak diperlukan lagi, karena orang sudah malas membaca.

Orwell  membayangkan tirani memonopoli saluran informasi yang terus-menerus mengeluarkan propaganda dan indoktrinisasi. Tetapi Huxley malah membayangkan berlimpahnya saluran informasi sehingga orang menjadi apatis dan narsis.

Dalam dunia Orwellian, kita tidak bisa menemukan kebenaran karena kita diberikan informasi dan pengetahuan yang sangat terbatas. Sedangkan di dalam dunia Huxley, kita sangat sulit menemukan kebenaran karena justru kita dibanjiri oleh Informasi-informasi yang remeh, dangkal, tidak relevan, dan sekaligus merusak konsentrasi.

Jika menurut Orwell ancaman terbesar kita adalah tirani dan hal-hal yang kita benci, maka menurut Huxley ancaman terbesar justru datang dari hal-hal yang kita sukai, baik secara sadar atau tidak.

dn9JgdbZ8XAeFnEX1-Wja7LmnpEL4GyJ.jpg

Melawan tirani metodenya sudah jelas: rapatkan barisan, lakukan mobilisasi massa. Khusus bagi manusia Indonesia, rasa-rasanya kita ini sudah cukup ahli melawan tirani. Dari revolusi kemerdekaan hingga reformasi, sejarah kita sarat dengan perjuangan melawan tirani. Sebagai tambahan, internet juga mempersempit ruang gerak rezim otoriter. Jika saya membahas ini maka apa yang saya sampaikan malam ini menjadi pidato politik, bukan pidato kebudayaan.

Bagi saya, sebuah pidato kebudayaan adalah ajakan untuk masuk ke alam pikiran dan batin kita masing-masing. Sebuah ajakan untuk berhenti sejenak melakukan refleksi. Bukan ajakan agitasi untuk melawan dan turun ke jalan. Menurut saya, tantangan terbesar justru melawan hal-hal yang kita sukai, yang menghambat perkembangan kecerdasan kolektif; alih-alih menghasilkan kecerdasan, kegiatan kolektif kita malah berujung pada kebingungan atau kedangkalan kolektif.

  1. KOGNISI

Jika kecerdasan kolektif dapat mengalami degenerasi menjadi kebingungan atau kedangkalan kolektif maka seberapa jauhkah kita bisa mengandalkan kemampuan kognisi individu? Penelitian psikologi terakhir menunjukkan ternyata sulit bagi kita untuk mempercayai akal sehat kita sendiri, karena terlalu banyak bias-bias kognisi.

Bias-bias kognisi membuat proses penilaian dan pengambilan keputusan yang kita ambil sangat tergantung pada intuisi, pengalaman pribadi, dan lingkungan. Sulit bagi kita menemukan keputusan atau sikap yang benar-benar objektif, karena setiap orang mengambil keputusan berdasarkan pengalaman pribadi—yang tentu saja akan berbeda-beda karena pengalaman pribadi yang berbeda pula.

Mari bayangkan kita sedang berada di kota A yang belum pernah kita datangi dan mencari tempat makan yang enak. Kita akan buka ponsel pintar lalu mengetik di mesin pencari: Restoran enak di kota A. Lihat, betapa keputusan kita ditentukan oleh algoritma. Bukan hanya itu, kita mungkin juga akan memilih restoran yang memiliki banyak review dan bagus nilainya. Itu artinya kita akan memilih restoran yang ramai dan dianggap bagus oleh orang lain.

Sering kali, ketika sulit menentukan pilihan, manusia akan mengambil jalan yang paling mudah: mengikuti pilihan orang lain. Jadi, jika kita berpikir kita mengambil keputusan sesuai dengan keinginan sendiri, coba periksa kembali. Karena kemungkinan besar, kita tidak memutuskan sendiri.

Contoh lagi, seorang sering melakukan sesuatu sebagai ekspresi individu atau sesuai dengan kehendaknya. Tetapi yang dia tidak sadari adalah sebenarnya dia sedang mengikuti tren, yang tentu saja berasal dari luar dirinya.

Salah satu kelebihan nalar manusia adalah kepandaiannya dalam memberikan justifikasi rasional tentang keputusan yang dipilih. Manusia lebih sering menggunakan rasionalitasnya, bukan untuk mencari kebenaran, tapi lebih banyak sebagai usaha mencari pembenaran atas kepercayaan dan bias-bias yang sudah ia miliki.

Mari kita lihat ilustrasi berikut. Pengamat diberikan hasil penelitian yang membandingkan prestasi satuan militer. Satu kelompok beranggotakan orang-orang yang berasal dari perkotaan, kelompok yang lain berasal dari pedesaan. Pertanyaannya adalah satuan militer seperti apa yang paling bagus dalam menjalankan tugasnya? Saat diberikan hasil yang menunjukkan orang-orang asal desa lebih baik, pengamat memberikan penjelasan bahwa tentu saja hasilnya demikian. Karena orang desa terbiasa menghadapi situasi berat dan penuh keterbatasan seperti di medan perang. Lebih terbiasa berinteraksi dengan alam, mereka tentu akan lebih lihai, lebih hebat, lebih jago jika dibandingkan dengan orang kota yang tidak terbiasa dan sulit untuk hidup di medan seperti itu dalam kesehariannya. Apalagi kalau berperang di tengah hutan. Pengamat bisa menemukan alasan itu sebagai pembenaran hasil yang mereka dapati.

Sebaliknya, jika pengamat diberikan hasil yang menunjukkan satuan militer yang berasal dari kota ternyata lebih baik performanya, mereka akan katakan tentu hasilnya demikian. Orang kota lebih berpendidikan sehingga mereka lebih mampu menggunakan alat perang canggih. Orang kota akan lebih hebat di militer karena dia terbiasa bertemu dengan orang-orang yang asing sehingga dia bisa bekerja sama dengan orang asing di organisasi militer yang modern yang rapi jika dibandingkan dengan orang desa. Untuk survive di medan perang, tentara membutuhkan ketangkasan dan skilluntuk cepat beradaptasi, di mana orang kota lebih terbiasa dalam hal ini.

Kedua temuan ini saling bertolak belakang, tetapi keduanya bisa dirasionalisasi sesuai dengan logika manusia sebagai pembenaran. Manusia bisa menemukan penjelasan apapun atas fakta yang ada. Sulit bagi manusia untuk menggunakan kognisi rasional untuk mencari kebenaran, karena otak manusia ternyata lebih pandai untuk membenarkan, mencari rasionalisasi, dan mencari pembenaran atau confirmation bias secara kognitif psikologis.

Lalu bagaimana dengan kemampuan kognisi rasional mereka yang berpendidikan tinggi? Apakah mereka lebih mampu memilah fakta-fakta dari bias kognisi untuk mencari kebenaran?  Dalam kasus menyebarnya berita hoax di berbagai media, kebanyakan orang berasumsi bahwa mereka yang mudah mempercai berita hoax kebanyakan adalah orang-orang yang kurang berpendidikan. Tetapi berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa bias kognisi juga terjadi pada orang yang berpendidikan tinggi. Bahkan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah dia terkena bias ini. Kenapa ini terjadi?

Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin sangat spesialisnya seseorang dalam keilmuannya. Seorang profesor doktor itu ahli betul dalam ilmu kedokterannya. Seorang profesor doktor teknik ahli sipil juga teramat ahli soal teknik sipil, demikian juga seorang profesor doktor sejarah. Mereka adalah ahli di bidangnya masing-masing. Bahkan satuan bidang keahlian saja bisa dipecah lebih spesifik lagi. Dokter bedah bisa dipecah lagi menjadi dokter ahli bedah jantung, ahli bedah otak, bedah mulut dan seterusnya. Jika kita perlu bedah otak tentu kita akan pergi ke dokter bedah otak bukan bedah jantung. Jadi, jikapun seseorang ahli dalam bidangnya, mereka bukanlah ahli dalam hal di luar bidang spesifik keahliannya.

Ketika beropini dan berpendapat di luar bidangnya, mereka yang berpendidikan tinggi ini cenderung terlalu percaya diri. Mereka menganggap opininya memiliki nilai kebenaran yang lebih dibanding orang awam. Padahal pendalaman pemahaman mereka terhadapnya tidak lebih baik dari awam. Lebih parah lagi, ada juga dukungan oleh mereka yang menganggap seorang berpendidikan tinggi memiliki nilai lebih dalam opininya, walaupun di luar bidang keahlian mereka. Praktik ini membuat kecenderungan bias lebih sulit untuk dikoreksi.

wFx2Qjbm_YwAD5rHQHC1bLX4TKnG5ScG.jpg

  1. TEKNOLOGI

Internet diciptakan dengan janji di mana semua orang bisa mendapatkan informasi tanpa filter, tanpa sensor, dan semua orang bisa mengeluarkan pendapatnya. Internet digadang akan membuat hidup manusia lebih bebas. Tetapi apakah benar demikian?

Di pemilu presiden Amerika tahun 2015 dan di Indonesia saat pemilu gubernur DKI Jakarta tahun 2017, kita melihat justru Internet—dan berbagai cara pandang warga di dalamnya—justru membuat polarisasi opini yang cukup ekstrem. Menjadi sulit untuk kita membedakan mana berita benar dan mana yang bohong serta mana yang faktual dan mana yang isapan jempol.

Sebagian orang mengatakan kita telah sampai pada era ‘Post-Truth,’ keadaan di mana seolah-olah kebenaran sudah tidak ada lagi—meski menurut saya fakta atau kebenaran masih tetap ada, dalam bentuk yang terfragmentasi. Data menunjukan semakin hari semakin banyak orang, terutama generasi muda yang mendapatkan informasi melalui media sosial.

Media sosial diatur oleh algoritma dan sangat lihai untuk mengetahui apa yang kita suka.  Kita suka makanan, algoritma ini akan memberi informasi mengenai makanan yang kita sukai. Kita suka sepak bola, algoritma akan memberi banyak informasi tentang sepak bola, dan seterusnya. Apa yang kita lihat di media sosial itu sudah diatur dan direkayasa dalam sebuah algoritma yang fungsinya menyajikan apa yang kita suka, agar dapat menarik perhatian kita, sesuai dengan keinginan kita. Itu artinya, setiap orang terekspos oleh informasi yg berbeda-beda. Timeline media sosial saya akan berbeda dengan media sosial orang lain. Artinya, setiap orang memiliki informasi atau gambaran realitas yang berbeda-beda.

Katakanlah ada 100 juta orang di media sosial Indonesia. Masing-masing memiliki gambaran tentang realitas yang berbeda, berdasarkan algoritma yang menentukan mana yang penting dan yang benar untuk kita sehingga  tidak ada lagi realitas yang dapat kita sepakati bersama.  Yang terjadi bukan tidak ada lagi realitas kebenaran, melainkan realitas kebenaran sudah sangat terfragmentasi. Masing-masing orang memiliki realitas versinya sendiri.

Inilah salah satu implikasi bagaimana algoritma menentukan, bukan hanya perilaku, tetapi juga sikap dan opini kita, dengan mengatur apa yang kita konsumsi dari media tersebut, dalam hal ini jenis informasi yang kita dapati. Semakin lama, semakin banyak aspek hidup kita yang diatur dalam algoritma: bagaimana kita bepergian, bagaimana kita berbelanja, bagaimana kita berolah raga, yang semuanya diatur dengan aplikasi online.

Kita sepertinya tampak lebih bebas. Tetapi sebetulnya tidak. Asumsi jenis pilihan yang sepertinya bebas itu ternyata adalah hasil rekayasa algoritma. Semua pemilik platform aplikasi online ini, dengan pasukan orang-orang pintar lulusan-lulusan terbaik dari universitas terkenal, mengoleksi data-data perilaku kita untuk menghubungkannya dengan keuntungan.

Wajar, karena mereka semua adalah swasta dengan motivasi profit. Setiap interaksi kita dengan platform teknologi terekam dan dianalisis dengan tujuan: bagaimana perilaku kita dalam mengkonsumsi informasi—melalui sharing dan liking, atau memesan makanan, memesan jasa-jasa, membeli barang, dapat meningkatkan profit perusahaan-perusahaan tersebut. Ini sudah menjadi industri miliaran dollar dengan keuntungan miliaran dollar, yang semuanya didapatkan dari data-data pribadi kita.

Sementara mereka meraup keuntungan miliaran dollar, yang kita dapat malah polarisasi politik, polarisasi opini publik, yang kebanyakan justru merugikan kita. Ini yang harus kita pikirkan.

y2OlUXzEnopDc74mBjT5DlFIzrdQqCBh.jpg

Kita bisa menggalakkan gerakan literasi untuk melawan hoax, melawan berita bohong, melawan fakta-fakta bohong. Tetapi sulit bagi kita untuk melawan algoritma yang mampu dengan cepat beradaptasi terhadap keinginan kita sehingga kita menjadi addicted, berketergantungan terhadapnya. Algoritma adalah mesin yang sangat sistematis, dengan satu tujuan saja.

Bukan untuk mencegah berita bohong, tetapi agar kita dapat lebih banyak posting, memberikan informasi pribadi, berbagai kesukaan kita, lewat teks, gambar, foto, video, komentar-komentar yang bisa dihubungkan dengan keuntungan bagi mereka.

Dalam bahasa sekarang lebih banyak engagement, berarti lebih banyak memesan makanan, lebih banyak membeli, dan memberi keuntungan ekonomis secara sepihak. Ternyata, kehendak bebas yang kita pikir akan terbuka lebih lebih lebar dengan kehadiran Internet justru berbalik arah dan diserang oleh algoritma yang memaksakan kehendaknya.

  1. BIOLOGI

Ilmuwan telah sepakat bahwa manusia dan semua mahluk hidup di bumi sedang memasuki era kepunahan massal baru. Kepunahan massal dalam sejarah kehidupan di bumi sudah beberapa kali  terjadi. Namun kali ini, kemungkinan besar kepunahan terjadi akibat ulah kita sendiri.

Pemanasan global dan hilangnya keberagaman mahluk hidup di muka bumi disebabkan aktivitas manusia, terutama aktivitas ekonomi, yang dipicu pertumbuhan penduduk dan hasrat manusia yang tidak ada habisnya. Kerusakan semakin cepat, juga terdorong oleh kecerobohan penggunaan teknologi yang mengancam kelangsungan makhluk hidup dan alamnya.

Mari kita simak hikayat antibiotik. Sebelum ditemukannya antibiotik, 90% anak-anak meninggal dunia akibat infeksi bakteri meningitis—kematian ibu dan bayi sebanyak 40-50 kali lebih tinggi. Setelah ditemukannya antibiotik, kematian akibat penyakit menular menurun secara drastis, tingkat kesehatan manusia pun meningkat. Penemuan antibiotik pun dinobatkan sebagai miracle cure, obat mukjizat. Bahkan, dunia medis pernah bersepakat bahwa era penyakit menular di akhir abad ke-20 akan lenyap, karena begitu mudahnya berbagai penyakit menular secara cepat bisa disembuhkan dengan antibiotik.

Namun “mukjizat” penemuan antibiotik ini tidak bertahan lama. 10 tahun setelah penicillindigunakan sebagai antibiotik pertama pada 1940-an, bakteri-bakteri yang kebal/resisten terhadap penicillin mulai bermunculan. Alexander Fleming, sang penemu antibiotik penicilin, sebenarnya telah memprediksi kemungkinan bahaya penggunaan antibiotik. Jika digunakan secara ceroboh dan berlebihan, antibiotik bisa mengakibatkan kuman-kuman pembawa penyakit ini menjadi lebih sulit untuk dikontrol dan menjadi lebih ganas.

Selama 30 tahun terakhir juga tidak ada penemuan kelas antibiotik baru yang dapat digunakan untuk melawan penyakit menular, sementara kuman-kuman penyakit menular yang menyerang manusia bertambah ganas dan semakin sulit untuk diobati oleh rangkaian obat antibiotik yang ada.

Jika dunia sosial dan digital media dikenal era ‘post-truth’, di dunia biologi saat ini kita telah memasuki era ‘post-antibiotic’ di mana aneka antibiotik yang saat ini kita miliki tidak ampuh lagi.

MtVAQuYGjY2ggGwNl0dFE-5rLM8DP1Vn.jpg

Bagaimana ini bisa terjadi? Layaknya semua mahluk hidup, mikroba pun selalu berusaha ‘survive’dan beradaptasi pada kondisi lingkungannya. Saat ini, lingkungan hidup di mana manusia beraktivitas dibanjiri dengan ragam antibiotik karena sangat mudah untuk digunakan dan disebarluaskan. Kita gunakan antibiotik bukan hanya saat sakit parah. Kita menelannya seperti permen jika kita merasa tidak enak badan tanpa resep dokter. Dokter-dokter tak segan memberikan resep antibiotik tanpa konfirmasi tes laboratorium karena terlalu lama, juga mahal. Antibiotik juga sudah membanjiri sumber makanan kita. Disuntik ke ternak-ternak dan disirami ke tanaman-tanaman, agar ternak dan tanaman tidak terserang penyakit dan cepat tumbuh. Karena kita ingin produktivitas lebih tinggi!

Dengan penggunaan antibiotik secara berlebih, kita telah membuat tekanan pada lingkungan di mana mikroba-mikroba ini hidup. Mikroba yang bisa ‘survive’ dari guyuran antibiotik ini kelak akan jadi spesies yang kebal/resisten.

Mikroba sangat beragam jenisnya dan dapat hidup di berbagai alam, termasuk di dalam tubuh manusia. Jumlah bakteri dalam tubuh manusia diperkirakan berjumlah sekitar 40-50 trilliun yang umumnya sangat berguna bagi manusia. Mikrobiota ini paling banyak ditemukan di dalam usus kita dan berfungsi membantu pencernaan kita menjaga keseimbangan ekosistem tubuh dari serangan mikroba luar yang ‘jahat’, melatih imunitas kita agar lebih kuat dalam melawan infeksi, bahkan mengatur cara kita berpikir. Mengapa kebanyakan orang tidak tahu tentang mikroba-mikroba yang sedemikian bermanfaat bagi kesehatan manusia?

Kita lihat kata “antibiotik” terdiri dari kata “anti” dan “biotik”  yang berarti “anti”  “kehidupan”. Penggunaan kata ini menggambarkan paradigma kita dalam penanggulangan penyakit, yaitu mencari jalan untuk membunuh mikroba-mikroba pembawa penyakit, tetapi lupa keberadaan ragam mikroba lain yang justru menopang hidup kita.

Penggunaan antibiotik secara berlebihan mematikan mikroba-mikroba baik dan mengakibatkan sterilisasi keberagaman jenis mikroba di alam kita—di mana yang hidup hanya mereka yang tidak mati jika diberi antibiotik. Tanpa diversitas mikroba di alam, misalkan mikroba pengolah unsur kesuburan tanah, tidak akan ada kehidupan di muka bumi. Tanpa mikroba dalam asupan makanan dan saluran pencernaan tubuh manusia, keseimbangan tubuh terganggu.

Penelitan baru-baru saja menunjukkan diversitas mikroba yang berada dalam perut individu autistik jauh lebih rendah daripada mereka yang tidak. Penelitian lain menunjukkan orang yang hidup di kota cenderung memiliki variasi mikroba yang rendah dibanding yang hidup di pedesaan. Ini membuat orang yang hidup di perkotaan rentan terhadap penyakit dan gangguan psikologis.

Hubungan kesehatan mental dan kondisi mikroba dalam tubuh kita akhir-akhir ini tambah mendapat perhatian lebih di dunia kedokteran dengan berbagai hasil penelitian yang menunjukkan ke sumber yang sama, yaitu berkurangnya diversitas mikroba di alam kita.

Akibat penggunaan antibiotik berlebih dan gaya hidup yang ‘terlalu steril’, usus kita didominasi oleh mikroba-mikroba tertentu saja. Tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang diperlukan dan lebih rentan terhadap racun dan serangan mikroba patogen yang telah mengambil alih posisi mikroba baik karena dapat berkembang biak lebih cepat dalam usus. Mikroba di tubuh kita memakan makanan kita dan memproduksi bahan-bahan yang berguna dalam tubuh kita.

Tetapi kolonisasi mikroba asing biasanya akan lebih serakah mengambil makanan bahkan memproduksi zat yang bisa jadi racun buat kita. Misalnya, ada jamur yang bisa memproduksi alkohol di dalam tubuh. Ini membuat kita mengalami efek mabuk meskipun kita tidak meminum alkohol.

Berbagai hasil penelitian tentang mikroba dalam tubuh kita menunjukkan hubungan erat antara komposisi diversitas mikroba di dalam usus kita dengan kesehatan mental kita.  Jadi, kita bisa bayangkan bahwa ketika kita ingin makan donat, dorongan itu mungkin berasal dari mikroba bakteri di dalam tubuh kita, yang membutuhkan donut. Dorongan inilah yang membuat kita merasa menginginkannya.

Makanan apa yang kita inginkan seharusnya terhubung dengan nutrisi yang tubuh kita perlukan. Tetapi jika ada kumpulan mikroba jahat tertentu yang telah mendominasi usus kita, sinyal yang paling kuat dikirim ke otak kita adalah makanan yang diperlukan kumpulan mikroba tersebut, bukan apa yang dibutuhkan tubuh.

Ini implikasinya besar baik secara biologis maupun filosofis. Secara filosifis, ternyata di dalam tubuh kita sendiri pun, kita tidak berkuasa sepenuhnya, bahkan mungkin kalah. Kehendak kita dikalahkan oleh kehendak miliaran mikroba yang ada di dalam tubuh.

Usus kita adalah otak kedua, begitu kata sejumlah ilmuwan merujuk pada sejumlah saraf-saraf di dalam usus yang besinergi dengan otak. Usus adalah sebuah ekologi yang sangat dinamis di mana mikroba yang hidup di dalamnya turut serta mengolah makanan yang masuk ke tubuh kita dengan membuat enzim-enzim dan produk berguna bagi tubuh kita, menyaring nutrisi, menghambat masuknya racun, dan menghadang serangan mikroba patogen pembawa penyakit.

Penggunaan antibiotik secara berlebih, membuat biodiversitas kehidupan di usus kita menurun dan akhirnya membuat kemampuan usus mengolah makanan terganggu. Juga, keadaan mikroba yang kurang seimbang membuat kita memilih asupan makanan yang tidak memberi nutrisi kepada tubuh, tapi kepada mikroba-mikroba asing yang telah mengambil alih tubuh kita.

Indonesia dengan kekayaan alam yang tinggi semestinya bisa menjadi tumpuan dunia untuk mencari berbagai macam solusi untuk masalah ini. Kita dapat belajar dari bagaimana alam Indonesia yang begitu tinggi biodiversitasnya menemukan keseimbangannya sehingga makhluk yang beragam jenisnya dapat hidup bersama.

Kita dapat mengarahkan fokus dari “anti”-biotik yang antagonistik terhadap kehidupan yang beragam menjadi “pro”-biotik atau pro-kehidupan yang seimbang dan merangkul keberagaman alam.  Kita dapat mempelajari kembali kekayaan kearifan budaya kita yang ratusan ribu tahun berhasil menjaga kelestarian keberagaman sebagai kekayaan alam Indonesia dan memanfaatkannya untuk membangun peradaban manusia.

Kearifan ini dapat disinergikan untuk membangun teknologi inovasi yang mendukung pelestarian biodiversitas. Yang kita perlukan bukanlah obat ganas untuk melawan mikroorganisme—yang malah membuatnya menjadi tambah ganas—tetapi obat yang dapat merangkul biodiversitas, agar mikroorganisme “baik” bisa menjaga keseimbangan dan menurunkan ancaman mikroorganisme yang “jahat.” Perubahan paradigma sistem biologi ini berdampak bukan saja kepada ekologi mahluk hidup, tapi juga cara pandang hidup manusia dan budaya seutuhnya.

  1. FISIKA

Jika kehendak bebas kita sekarang ini mengalami gempuran, dari lapisan budaya, sosial, politik, psikologis, bahkan biologis, lalu bagaimana kita bisa keluar dari gempuran ini? Salah satu harapan yang bisa kita andalkan adalah sains. Tetapi inipun bukan tanpa problema. Saya ambil contoh salah satu sains yang bisa dikatakan sains yang paling “hardcore:” fisika. Fisika berusaha mengerti alam semesta dari titik yang paling kecil di dalam atom sampai alam semesta atau kosmologi.

Ada yang menarik dari penemuan-penemuan fisika terbaru, yang menghasilkan hadiah Nobel: penemuan Higgs Boson—sebuah partikel yang memberi partikel lain massa—dan penemuan gelombang gravitasi yang sudah diprediksi Einstein.

Berbeda dengan penemuan-penemuan fisika masa lalu, penemuan-penemuan fisika masa kini memiliki karakteristik sebagai sebuah penemuan yang biasa disebut sebagai hasil big science, sains yang besar, yaitu penelitian sains yang dikerjakan ribuan orang dengan biaya miliaran dollar dan hasilnya adalah sebuah statistik. Komputasi statistik memilah-milah mana realitas bermakna dari derau acak.

MuDWkyWpJ_bGvXAI3lUmvFc40A89XdSX.jpg

Bahwa kebenaran fisika berupa kebenaran statistik ini membawa kita ke debat lama bahwa alam semesta ini mungkin pada dasarnya bersifat komputasional. Statistik bukanlah ketidakpastian, bukan juga kelemahan kognisi manusia. Tetapi bisa jadi realitas alam semesta ini secara fundamental memiliki ketidakpastian.

Jadi ketidakpastian ini bukanlah keterbatasan teknologi, bukan juga keterbatasan kognisi, tetapi secara fundamental alam semesta ini tidak pasti. Realitas fisis ini tidak pasti dan secara fundamental tidak mungkin menjadi pasti.

Implikasinya cukup signifikan. Kita tahu sekarang kita m’emasuki “era data” di mana kita, termasuk sains, dibanjiri data. Ketika kebanjiran data, yang kita lakukan adalah pemodelan statistik terhadap data-data ini dengan tujuan utamanya untuk melakukan prediksi. Sebagai dampaknya, sains akan lebih fokus pada prediksi dan terkadang mengesampingkan kemampuan penjelasan ‘explanatorypower.’

Artinya, sains akan semakin mampu memprediksi tapi juga semakin kurang mampu menjelaskannya.  Sains dapat memprediksi apa yang akan terjadi, tapi tidak mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi. Penjelasan dibiarkan dalam sebuah ‘black box’ kotak hitam. Saintis akan berkata saya bisa memprediksi berbagai fenomena, tetapi jangan tanya saya kenapa itu bisa terjadi.

Lalu, jika begitu, apa bedanya saintis dengan dukun? Dukun bisa mengatakan apa yang akan terjadi. Dan saat ditanya bagaimana itu bisa terjadi dukun akan menjawab. “Ya karena saya tahu, saya diberi ilham, diberi inspirasi,”  Apakah sains akan bergerak ke arah sana? Sains yang mampu memprediksi pesanan makanan, produk, berita, bahkan mungkin datangnya badai dan datangnya gempa bumi tapi dengan ‘black box’ yang membesar?

Kemampuan prediksi kita yang semakin tinggi—dengan data yang semakin banyak dan model statistik semakin canggih—tidak secara otomatis meningkatkan kemampuan kita untuk mengerti apa yang terjadi, kemampuan kita menjelaskan fenomenanya. Dan sekarang justru ada kecenderungan di mana kemampuan prediksi sains akan jauh lebih baik. Ini disebabkan insentif yang lebih besar bagi saintis untuk melakukan prediksi tinimbang insentif untuk menjelaskan fenomena, untuk menemukan teori baru.

Bahkan sebagian berpendapat, kita sudah memasuki era di mana teori tidak penting lagi. Itu artinya, tidak penting lagi menjelaskan kenapa sesuatu itu terjadi. Pertanyaan ‘mengapa’ tidak lebih penting, daripada pertanyaan ‘apa.’ Pertanyaan ‘Mengapa’ dibiarkan saja di dalam kotak hitam.

Inilah tantangan kita, apakah sains akan dibiarkan sehingga realitas sosial saintis tidak lebih daripada dukun: bekerja dengan model-model statistik canggih yang tidak dimengerti oleh orang awam, seperti kebayakan orang tidak mengerti bagaimana cara dukun bekerja dengan berbagai macam materi-materi eksotis.

  1. SPIRITUAL

Alkisah, hiduplah seorang begal yang berkuasa di tanah Jawa yang membuat musafir manapun jadi was-was. Sang begal tak segan merampok, bahkan membunuh mereka yang dianggap tidak sesuai dengan kehendaknya. Sampai suatu saat sang begal menemukan mangsa ideal: lelaki tua berpakaian serba putih lengkap dengan sorban putih yang berjalan dipandu dengan tongkat emas. Sang begal lompat mencegat si kakek. Mencium gelagat tak sedap, si kakek mengangkat tongkat, lalu menunjukkannya ke arah belakang sang begal yang berdiri di depan. Mendadak muncullah gundukan emas, perak, berlian, dan berbagai perhiasan lain di belakang begal.

Kakek berkata, “Apakah kamu masih ingin merampok, padahal kau tinggal ambil saja emas, berlian dari gundukan itu?” Begal berpikir, daripada merampok atau mengambil gundukan perhiasan itu, alangkah lebih baik belajar ilmu si kakek. Dengan begitu, dia bisa dapat harta sebanyak apapun, hanya dengan menggunakan tongkat tua. Maka sang begal memohon kepada kakek untuk dijadikan murid.

Kakek bersedia mengajar dengan satu syarat: “Kamu diam tunggu di sini sampai saya kembali”. Sang begal bilang sanggup, si kakek lantas pergi meninggalkan begal di pinggir kali tempat mereka bertemu. Tidak jelas berapa lama kakek itu pergi. Ada yang bilang 40 hari, enam bulan, satu tahun, bahkan 40 tahun. Yang jelas ketika kakek kembali, dia menemukan murid barunya itu duduk setia bergeming menunggu. Sang kakek harus membersihkan berbagai rumput dan tanaman liar yang tumbuh mengelilingi sang begal.

Kakek itu membangunkan sang murid dari meditasinya dan berkata “Kamu sudah lulus menjadi muridku. Sekarang saatnya kamu pergi men-syiarkan Islam ke pelosok tanah Jawa. Kakek dalam cerita itu adalah Sunan Bonang dan begal itu kita kenal sebagai Sunan Kalijogo.

Cerita ini adalah cerita khas pra-Pencerahan, di mana kekuatan bukan berasal dari pengetahuan melainkan dari pembersihan diri serta pengabdian dan loyalitas kepada mereka yang memiliki kekuatan. Sebaliknya, pada masa Pencerahan Eropa terjadi reorientasi dan perubahan prioritas. Setelah masa Pencerahan, apalagi setelah Industrialisasi, pengetahuan subyektif yang sebelumnya dianggap setara atau bahkan lebih penting, kini dianggap inferior terhadap pengetahuan obyektif.

Era Pencerahan Eropa menjanjikan kekuatan asal kita mau memutus pengabdian dan loyalitas pada siapapun juga kecuali pada diri sendiri. Individu cukup bersandar pada dirinya sendiri, baik pada nalarnya, pikirannya, atau emosinya sendiri

Kembali pada cerita para Wali di atas, yang menarik adalah Sunan Kalijogo memperoleh lisensi untuk menjadi pendakwah bukan setelah tamat mempelajari kitab suci atau kitab-kitab agama lainnya. Beliau memperoleh lisensi—dan ini jadi pesan moral kisah tersebut—setelah mendapatkan kekuatan spiritual yang dicapai melalui pembersihan diri. Kekuatan spiritual muncul dari hati.

Bandingkan dengan perilaku beragama di sekitar kita sekarang. Orang berlomba-lomba meraih reputasi spiritual, bukan kekuatan spiritual. Efek modernitas telah masuk ke dalam perilaku beragama.

NbXDOssIIYNWZBTFQyHVtldHfXtAFMAG.jpg

Kembali pada janji Pencerahan. Manusia dijanjikan kekuatan dengan membebaskan diri dari segala otoritas kecuali otoritas yang berasal dari dalam kepala kita sendiri. Dalam perjalanannya, usaha manusia ini menghasilkan teknologi yang diklaim akan memperluas kebebasan manusia. “Keberhasilan” ini—kalau mau disebut “keberhasilan,” mengingat dampak buruknya pada lingkungan , keadaan sosial, dan mental sekarang—membuat kita semakin terobsesi dengan fakta empiris dan kuantifikasi.

Kita hidup dalam dunia di mana legitimasi politik berasal dari angka agregat, kualitas ditentukan oleh harga pasar, dan sukses diukur oleh berbagai indeks dan skor. Semua ini bukan lagi hal kontroversial, tapi sudah jadi fenomenal yang wajar dan normal.

Deras langkah kebebasan dengan bantuan teknologi dan pasar ini bukanlah tanpa problem. Kita sudah melihat bagaimana kekerasan dan kehancuran terbesar yang terjadi saat Perang Dunia justru dilakukan oleh bangsa-bangsa yang peradaban dan teknologinya paling maju.

  1. PEMBARUAN KREATIF (KONKLUSI)

Sebagai penutup saya ingin kembali ke cerita di awal. Cerita Ateis yang tak percaya tuhan dan Taat yang beragama. Ateis yang melihat pertolongan dua orang Eskimo sebagai peristiwa kebetulan dan si Taat yang melihat pertolongan tersebut sebagai kekuataan doa dan keberadaan tuhan. Kita adalah sekumpulan manusia yang terkotak-kotak dalam pandangan arogansinya masing-masing.

Poin dari cerita ini adalah kita sering mendengar arogansi dari orang-orang yang serius atau menganggap agama itu adalah segalanya. Tetapi cerita ini juga mengingatkan: arogansi ada di pihak sebaliknya. Pertanyaannya bukan soal mana yang lebih baik: apakah sekulerisme, apakah agama, apakah liberal, apakah konservatif, apakah rasional, apakah intuitif, apakah sains, apakah seni, dan seterusnya. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana semua pihak mengurangi arogansinya.

Kaum yang mengedepankan agama berkurang arogansinya, kaum yang memperjuangkan sekulerisme berkurang arogansinya.  Saintis berkurang arogansinya, seniman berkurang arogansinya. Aktivis berkurang arogansinya, pejabat berkurang arogansinya. Itu tantangan kita sekarang. Bagaimana kita mampu melepaskan diri dari tirani kecil yang ada di kepala masing-masing. Ego kita.

Inilah perjuangan sebenarnya, kebebasan sebenarnya, yang ternyata membutuhkan kerja keras, disiplin, dan kekuatan yang luar biasa. Yang kita lawan bukanlah rezim tirani, bukan ideologi tertentu, bukan metode tertentu, bukan nilai tertentu. Yang kita lawan adalah narsisme, egoisme kita sendiri. Apakah mungkin kita melawan itu?

Saya sudah tunjukkan kesulitannya jika kita hanya menggunakan, semisalnya rasionalisme, melawan ego. Karena “debat” rasionalisme justru membuat suara-suara di kepala ini tambah banyak dan berkecamuk.

eMWgfyQeLb2AFE2qU6kOgQVo8SK9CQyE.jpg

Suara-suara ini perlu dihentikan dan perlu kita bakar dengan api. Tinggal kita pilih apakah kita bakar tirani di kepala kita dengan api yang berasal dari kemarahan, atau api yg berasal dari cinta. Kita ini perlu mabuk. Tetapi kita bisa memilih, apakah mabuk kebencian atau mabuk oleh cinta. Hanya itulah yang akan menyelamatkan peradaban manusia. Kita memiliki kepercayaan bahwa sistem apapun yang akan dibentuk oleh manusia, sistem budaya politik ilmiah apapun, selalu akan mengalami kekurangan dan selalu akan menyebabkan masalah.

Jika kita tidak percaya bahwa kita bisa menerobos semua itu dan menciptakan peluang-peluang baru, maka kita akan masuk pada nihilisme. Dan jalan keluar yang diambil untuk menghentikan suara-suara di kepala ini mungkin hanya dengan menembak kepala kita sendiri.

Apakah hanya dengan cara ini kita bisa mendapatkan keheningan yang damai? Apa mungkin kita bisa menerobos ingar-bingar tantangan ini tanpa harus menembak kepala kita sendiri? Tetapi mungkin juga, jika kita percaya suatu saat suara-suara itu akan kalah, kalah oleh api yang membakar, oleh perasaan yang memabukkan, di situlah akan kita capai ketenangan. Ketika kita percaya akan harapan.

Yang penting adalah kita harus melihat budaya Indonesia sebagai bagian dari budaya dunia. Masalah Indonesia, juga masalah dunia, dan sebaliknya masalah dunia juga merupakan masalah Indonesia. Kita harus mampu melepaskan nafsu narsistik yang menganggap dunia ini adalah ajang kompetisi budaya dan kita bernafsu untuk menjadi pemenang.

Saat ini, dunia tak lagi sedang berkompetisi. Malahan eksistensi bumi dan peradaban manusia sedang terancam. Tugas kita bukan hanya menyelamatkan Indonesia, tetapi juga menyelamatkan peradaban manusia dan bumi itu sendiri. Kita tidak akan hidup tenang jika suhu bumi naik terus setiap tahun, hutan-hutan terbakar, pulau-pulau tenggelam, kelompok manusia saling membasmi, perang nuklir di depan mata, dan diversitas kehidupan menyusut, yang berujung pada kematian segala macam bentuk kehidupan di muka bumi.

Apakah Indonesia harus menjadi negara seperti Bhutan yang tertutup, tetapi penduduknya paling bahagia di dunia? Atau menjadi seperti Korea Selatan, negara terbuka yang maju tetapi punya angka bunuh diri dan bedah plastik yang tinggi sekali? Yang pasti akan sulit bagi Indonesia untuk menjadi negara tertutup, karena pada dasarnya kita senang berkumpul sambil bertukar pikiran dan bercerita. Kitapun mudah kagum pada sesuatu yang berkilau. Kita terlalu menyukai kehidupan untuk menjadi tertutup. Sebaliknya, kita akan merasa terlalu hampa makna jika hidup kita hanya diukur oleh harta dan teknologi.

Saya berprasangka bahwa Indonesia adalah salah satu kunci keberlangsungan peradaban manusia di dunia. Alam kita adalah benteng terakhir dari keragaman hayati dunia. Kita adalah bagian dari peradaban Islam dan modern sekaligus, sehingga ketika peradaban Barat dan Islam terancam konflik, maka Indonesia pantas menjadi penengah.

Ketika dunia dilanda konflik kekerasan berdasarkan ras, agama, dan etnis, Indonesia harus tampil dan berbagi pengalaman dalam mengelola keragaman selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun sebelum Indonesia merdeka—saat manusia di tanah luasan Indonesia sudah ‘exist’ merangkul keberagaman. Meskipun memang, keberagaman kita sendiri sedang mengalami tantangan akhir-akhir ini.

Indonesia adalah jalan tengah. Dalam dunia yang bergejolak, fluktuatif, dan terpolarisasi, berada di tengah menjadi menguntungkan. Indonesia adalah tempat hitam bertemu putih menjadi abu-abu. Kita tahu ambigu adalah sumber keberagaman. Kita tahu ambigu adalah sumber kreativitas.

Dan kita tahu hanya dengan keberagaman dan kreativitas kita bisa menciptakan kemungkinan-kemungkinan dan peluang-peluang baru. Kekuatan Indonesia adalah kelihaiannya mengelola ambiguitas. Dengan kekuatan ambiguitas ini, Indonesia dapat menjadi salah satu sumber utama kreativitas dan keberagaman dunia.

Jadi untuk engkau Indonesia.

Tidak perlu engkau kembali ke abad silam.

Tidak perlu engkau menjadi raksasa ekonomi.

Tidak perlu engkau menjadi pemimpin teknologi.

Dalami dan perluas saja keahlianmu mengelola ambiguitas

sehingga menghasilkan kreativitas dan keberagaman.

Lalu tunjukkan pada dunia

bagaimana memasuki gelombang pencerahan ketiga

di mana kreativitas dan keberagaman menjadi panglima.

 

*Penulis adalah seorang fisikawan yang kemudian menekuni ilmu sosiologi setelah ia melihat peristiwa reformasi 98 yang membalikkan keadaan. Tulisan ini merupakan pidato kebudayaan Roby Muhammad selaku penemu yang diadaptasi dari Selasar.com

 

Komentar

komentar